Kamis, 12 Juni 2008

Ampun Ayah

Minggu, 12 Juni 1983. Pukul 18.45 wib
Seorang anak menangis di sudut dapur. Terisak ditahan. Matanya merah penuh marah. Kakinya yang merah kebiruan bergetar, menahan sakit.
Suatu sore
“Rida!”
“Ya ayah..”
“Apa sudah benar-benar kamu cari??”
“Sudah ayah..”
“Di sudut-sudut lemari bajumu?”
“Sudah ayah..”
“Panggil ipang, udin, dan gugun!!”
“Ya ayah..”
“Ipang! Masuk kamar itu”
“Ta.. tap..tapii ayah…”
“MASUK!”
Begitu Ipang masuk dengan takut-takut, ayah menyusul sambil mengunci pintu dari dalam. Terdengar bunyi ikat pinggang beradu dengan punggung Ipang
“Ampun yah.. Ipang tidak tahu yah…”
“Apa benar kamu tidak tahu??”
“Benar ayah.. ampuuunnn yah…sakit yah…”
Cetarrrrrr!!!
“Ampuunnn yah..” Ipang meraung..
Pintu dibuka, Ipang keluar terseok. Terduduk di depan pintu.
“Tidur kau!”
“Kamu udin!. MASUK!”
Udin menolak, berusaha lari tapi segera ditarik ke dalam kamar. Pintu di banting dan di kunci. Terdengar suara gaduh.
“Kamu mau melawan ya?
Cetarrr!
“Hai! Lari kemana kamu!”
“Ayah jahat! Ayah jahat! ADUUHHH!”
Terdengar benda jatuh
“Ampuuuuun! Ampuuuuunnn!”
Cetarrrrrr!
“Tidak tahu!”
“Anak durhaka! Masih saja melawan!”
Pintu terbuka, udin lari keluar dengan bibir bengkak. Lalu terjerembab, tersandung kaki kursi. Kepalanya membentur meja makan.
“Kau Gugun! Masuk!”
Gugun kecil menangis
“Jangan ayah.. Ugun tidak mencuri jam tangannya kak Rida”
Ayah menarik tangan Gugun yang kecil. Pintu ditutup. Cetarrr.
“Mengaku!”
“Ugun tidak tahu ayah… aduuuuhh, sakit ayah”
Cetarrr, tangis Gugun semakin kencang. Diluar nenek memukul-mukul daun pintu.
“Jangan terlalu pada anakmu. Gugun badannya panas, dia sedang sakit. Nanti kita juga yang repot”.
Pintu terbuka. Gugun keluar terisak berjalan pincang. Kakinya penuh bilur-bilur merah kebiruan. Nenek mencoba menghibur, namun tak mampu meredakan sesegukan Gugun. Dipojok dapur ia meringkuk.
“Ayo Nak.. Sekarang kita tidur”. Nenek mencoba meraih tangan Gugun. Ia tak bergeming.
Matanya berair tapi hatinya kering, marah dan tak pernah paham kenapa ini harus terjadi.
Sayup-sayup ia mendengar Rida menangis dan minta ampun. Suara itu semakin lambat, semakin lambat. Gugun jatuh tertidur.
———————————
“Ampun ayah.. ammpuuuunnnn… Gugun tidak mencuri jam tangan itu..”
“Gun…., Gun. Bangun Gun.. Kamu menggigau lagi. Mimpi buruk lagi?” Boby membangunkan
Gugun bangkit, ke kamar mandi berwudhu. Selepas sholat malam, ia terisak.
“Ya Allah, kalau nanti Kau ijinkan aku punya anak aku akan berjanji ia tidak akan mengalami mimpi buruk yang selalu menggangu tidur ku ini.” Dikecupnya sajadah basah itu dengan khusuk lalu terlelap…

Tidak ada komentar: