Kamis, 23 Oktober 2008

Terlacak Geidar

PERINGATAN : Tulisan ini mengandung unsur yang (mungkin) anda tidak suka. Silahkan anda lewatkan atau mangga atuh dilajeungkeun (diteruskan). :-)
+++++++++
Geidar (katanya) adalah radar atau kemampuan yang dimiliki seorang gei untuk mengetahui orang lain adalah gei atau bukan. Percaya nggak percaya sih, tapi sering kali radar tersebut bekerja dengan baik (terbukti) namun tak jarang error juga alias salah. Hmmm.. katanya sih perlu latihan berulang-ulang untuk mengasah tingkat sensitipitas-nya. Latihannya seperti apa? Bukan itu yang akan kita obrolkan sekarang… ;-)
Untuk alasan kenyamanan pribadi, saya berusaha agar tak mudah terlacak oleh geidar yang ada disekitar saya. Banyak cara yang bisa saya pakai; yang paling gampang adalah berpakaian dan bertingkah layaknya straight people, menghindari kontak mata lebih dari 3 detik dengan orang-orang yang diduga memiliki geidar juga.
Tapi saat perjalanan (kereta) pulang dari depok-bogor beberapa hari yang lalu saya terlacak juga. Padahal saya sudah berusaha sedemikian rupa untuk menghindarinya (istilah kata jaim gitu lah). Saat itu kereta agak sepi, duduk persis di depan saya, seorang mas-mas yang sepertinya habis pulang kerja. Si Mas memakai kemeja batik casual lengan pendek, celana pantalon warna gelap dan sepatu kulit juga warna gelap. Dengan kulit agak kecoklatan secara keseluruhan penampilannya enak dilihat.
Sejak pertama duduk si mas memandang ke arah saya beberapa kali. Saya melihat sekilas ke arahnya kurang dari 3 detik (ya, 3 detik). Hanya untuk memastikan saja. Dugaan saya nih orang sedang menggunakan geidarnya. Beberapa kali tatapan kami beradu. Tapi saya buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Saya jadi deg-degan. Bukan apa-apa, sangat jarang saya bisa terlacak geidar seperti saat ini. Tapi saya berusaha tetap cuek.
Ketika kereta sudah hampir sampai bogor (gerbong sudah agak sepi), si mas pindah duduk persis di samping saya. Saya masih berusaha tenang, bersikap biasa saja. Namun saya kaget saat si mas mengulurkan tangan menyalami saya.
“Hai, saya Bakti. Apa kabar?”
“Bbbb.. baaikk. Saya gugugun. Maksud saya gun”
“Abis pulang kerja?”
“Iiiya.. . Sama yah?”
“Iya”
Kereta sudah memasuki stasiun Bogor, si mas menuliskan sesuatu di secarik kertas, menyelipkan ditangan saya. Hubungi saya yah, katanya. Sesampai di rumah, saya membuka kertas yang tadi saya terima. Tertulis : Bakti 0818089*****.
Merdeka Bogor, 23/10/08. 19.01

Tidak ada komentar: