Kamis, 17 Desember 2009



Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Kisah nyata dari Blog ekspresi-diri.blogspot.com

Cintailah Aku Apa Adanya

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Kisah nyata dari Blog ekspresi-diri.blogspot.com

Senin, 07 Desember 2009

Peduli Perubahan Iklim Bumi



Mulai hari ini 7 s/d 18 Desember 2009 berlangsung Konferensi Perubahan Iklim PBB di Copenhagen, Denmark. Kegiatan ini dianggap penting karena ini diharapkan tercapai perjanjian baru menggantikan Protokol Kyoto, yang akan berakhir 2012. Konferensi ini juga sangat penting karena semakin sedikitnya waktu yang tersisa bagi umat manusia untuk mengatasi dampak-dampak dari perubahan iklim global.

Sementara 15.000 perwakilan anggota delegasi dari sekitar 192 Negara di dunia (termasuk para kepala negara dan kepala pemerintahan) berkonferensi, masing-masing kita dapat melakukan sesatu untuk antisipasi perubahan iklim. Apa saja?



copy paste dari facebook-nya seseorang yang namanya tak boleh disebut. ;-)

Kamis, 03 Desember 2009

Mendengar Suara

Saya mendengar suara
Tidak tau tentang apa
Tidak tau milik siapa
Tapi perasaan kenapa jadi nggak enak?
Aneh

Bogor, 3/12/09. 7.25 pagi

Selasa, 01 Desember 2009

Aku tak takut

Setiap pelayaran ada pelabuhan, setiap perjalanan ada ujung.

Mungkin inilah saatnya. Sangat bersyukur atas setiap detik yang pernah saya miliki ...

... setiap hubunganpun akan menemukan akhirnya. Hanya soal waktu. Aku tidak akan memulai hubungan jika takut akan berakhir.

Ok. I'm fine. At least I'm trying to be okay.

Laladon Bogor Barat.

Jumat, 20 November 2009

Saya melakukan apa yg nenek pernah lakukan dulu


saya ingat kejadian saat kecil dulu.
saya demam tinggi karena kehujanan sepulang sekolah.
sekujur tubuh saya menggigil, tapi badan saya panas, kepala sakit sekali.
nenek melepas semua baju saya dan mengusap dengan waslap hangat
lalu nenek membalur dengan minyak kayu putih.
mulai dari ujung kaki, tangan, seluruh badan, leher dan dahi.
nenek lalu memeluk saya, membuat saya tertidur di badanya yang hangat
sayapun berkeringat, nenek mengusap peluh di dahi saya
membisikkan bahwa saya akan segera sembuh
menyenandungkan lagu nina bobo
dan sayapun tertidur
ketika saya bangun, saya jadi lebih baik

**************************

hari ini saya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan nenek pada saya, .... padamu
mendengkurlah dan biarkan jantung saya merasakan detak jantungmu

Margonda, 20/11/09. 11.33 wib

Selasa, 17 November 2009

Aku mulai takut menjadi tua

Ada yang meramal bahwa tahun 2012 nanti umurku 50 tahun! Terlepas dari ramalan itu benar atau salah, yang jelas akan bertambah 3 tahun. Itupun kalau sang pemberi hidup masih memperbolehkan aku tetap bernapas. Yang pasti setiap bertambahnya umur maka jatah hidup semakin berkurang.

Banyak tanda-tanda yang sudah mulai terasa dengan bertambahnya usia. Rambut yg tadinya hitam lebat bak mayang terurai kini mulai rontok dan beruban bak rambut jagung. Kulit muka yg licin bak porselen cina, kini mulai kusam dan kendor di sana-sini. Otot-otot yang terpahat di lengan, paha dan dada, berganti lemak bak kantong air yang bergoyang. Tubuh tak lagi sekel dan sendi-sendi sering terasa gilu. Mungkin aku agak lebay, tapi itu nyata seiring bertambahnya usia.

Kata orang hidup dimulai di umur 50 tahun, eh… 40 apa 30 ya?. Lalu apa yang sudah aku punya? Rumah? Kendaraan? Tanah? Deposito? Bisnis? Istri? Anak? Karir yang bagus? Status sosial? Apa? Aku tak begitu mengkhawatirkan itu (mungkin karena sebagian sudah ku dapatkan). Tapi terus terang aku tetap mulai takut menjadi tua. Dan aku lebih takut menjadi tidak lagi berguna.

Parung, 17/11/09. 16.25 wib, selepas menelpon nenek yang mulai sensitif sejak tak lagi bisa melihat.

Tiap detik sangatlah berharga

Pengalaman nyeri dada kiri membuat saya semakin alert terhadap kesehatan. Awalnya hanya berupa rasa pegal (keseleo) di punggung kiri, lalu merambat ke leher terus berpindah ke dada kiri. Mendadak dada saya seperti ditekan beban berat. Saya jadi susah bernapas. Walau telah mencoba menarik napas dalam2, tapi tetap tidak ada udara yg masuk. Dengan panik saya mengambil napas dg membuka mulut lebar2, tersengal2. Bayangan akan kehabisan napas memenuhi kepala. Saya tidak akan pergi dg cara seperti ini. Mata menjadi merah dan berair. Saya lalu memukul2 dada kiri, terbatuk, dan saat itu juga udara kembali masuk ke paru2. Tiap detik sangatlah berharga.

Saya sadar betul tidak mungkin selalu bersamanya. Tidak saja karena ikatan itu, tapi juga karena umur tdk ada yg tau. Ketika bertemu saya sangat menghargai setiap detik yang tersisa. Saya tak ingin terlelap karena inilah waktu yang saya punya. Mendengkurlah, saya akan tetap terjaga.

Bogor, 17.11.09. 01.35 wib

Senin, 16 November 2009

Nenek (akhirnya) buta. :-(


Nenek sudah lama menderita penyakit gula, sejak saya masih di sekolah mencinta pertama (smp). Saat saya menemani beliau ke dokter dan divonis menderita diabetes, nenek hanya tersenyum dan mengajak segera pulang. “Ayo. Sudah waktunya makan siang” ia setengah menyeret tangan saya tergesa.

Kami mampir ke rumah makan padang yang cukup ramai siang itu. Nenek memesan gulai otak, rendang daging, goreng paru, lengkap dengan sambal merah dan sambal hijau. Saya hanya memesan ikan mas goreng dan lalap timun, tanpa sambal.“Menumu kok seperti makanan orang sakit saja?”. “Nggak papa, nek”. Saya melihat nenek makan dengan lahap seakan vonis dokter bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Setelah positif diabetes, nenek mulai sering jatuh sakit . Mulai dari penyakit ringan sampai berat. Istilah-stilah seperti rematik, jantung berdebar, darah tinggi, kolesterol, asam urat, luka yang susah sembuh menjadi istilah umum bagi beliau. Tapi pola makannya tetap tidak berubah. Ketika dilarang makan durian, beliau berkilah “Tenang saja, saya sudah punya obatnya”.

Beberapa tahun terakhir nenek menderita katarak. Operasi pengangkatan katarak tidak berhasil 100%. Selaput putih itu muncul lagi dan muncul lagi. Dokter kembali mengingatkan untuk lebih menjaga pola makan tapi nenek tetap tidak berubah.

Dua hari yang lalu saya dikabari bahwa penglihatan nenek mulai berkurang. Nenek tidak bisa melihat walau dalam jarak dekat sekalipun. Seperti berkabut, katanya. Operasi yang dilakukan tidak mampu mengembalikan penglihatan beliau. Nenek sekarang tidak bisa melihat sama sekali.

Saya menelpon ke rumah, menanyakan kabar beliau dan apa yang dirasakan. Namun saya tidak bisa menyembunyikan suara saya yang parau. Terus terang saya sangat mengkhawatirkannya. Alih-alih saya akan menenangkan beliau, malah nenek yang akhirnya menghibur saya,

“Nggak papa, Gun. Kalaupun sekarang nenek buta, toh nenek khan sudah melihat lebih dari 80 tahun.”

Sabtu, 07 November 2009

Mengekang rasa sayang

Di sebuah kebun kecil, hiduplah dua ekor kupu-kupu
Kupu-kupu yang berwarna cerah dan yang berwarna agak gelap
Mereka hidup di sela-sela rumpun bunga
Terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Mereka saling menyayangi

Suatu hari kupu-kupu yang berwarna cerah
Bertemu kupu-kupu yang lain, mereka sangat senang
Mereka terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Tak kenal lelah, tak merasa capek

Si kupu-kupu berwarna agak gelap hanya mengawasi
Kadang ikut senang karena si cerah tampak bahagia
Tapi pada suatu hari....
Ia melihat si kupu-kupu cerah mulai tampak lelah

Ia tak mau terjadi apa-apa dengan si cerah, ia sayang padanya
Iapun memcoba mengingatkan tapi si cerah tak mengubris
Si cerah terus terbang berputar-putar tak terkendali
Si gelap terus mengawasi, menjaga jarak
Karena tak mau si cerah merasa di batasi

Senayan, November 06, 2009. 3.43 pm
By : H

Gugun ... oh Gugun

Gugun hanya sebuah nama
Tidak seindah Rahmat, atau Hamid
Tak sekokoh Bayu atau Bakti
Tidak pula sesantun Budiman

Gugun hanyalah lelaki biasa
Yang mencari tau kenapa ia ada
Yang punya mimpi sederhana
Mendamba bahagia

Kota Hujan, edited 3 Nov 09. Pagi

Pohon dan paku

Saya pernah diceritakan seseorang tentang kisah tauladan
Kisah seorang anak yang sedang belajar mengelola amarah
Sang anak sering melampiaskan marahnya dengan merusak apapun
Bila di depannya adalah benda maka ia akan membanting, melempar atau menghancurkannya
Sedangkan bila di depannya adalah orang maka ia akan mengeluarkan kata-kata kasar
Tanpa memikirkan akibatnya…

Suatu hari saat si anak marah, sang ayah mengajaknya berjalan-jalan ke tengah hutan
Mereka membawa sekantung paku dan sebuah palu. Di hutan sang ayah berkata :
“Nak, bila kamu marah, pakulah pohon-pohon yang ada di sepanjang hutan itu sebanyak yang kamu mau”
Maka mulailah si anak memaku setiap pohon yang di lewatinya. Dia merasa puas karena dapat melampiaskan amarahnya hingga paku-paku itu habis tertancap di pohon. Sambil memandangi si anak, sang ayah berkata :
“Baiklah, kalau kamu telah lega, sekarang cabutlah semua paku-paku itu”. Si anak dengan bersemangat mencabut paku-paku yang tertancap di setiap pohon, hingga semua paku tercabut. Lalu sang ayah merangkul anaknya.

“Anakku…. amarah tak terkendali ibarat memaku pohon. Walaupun kamu telah meminta maaf dengan mencabut semua paku yang tertancap. Ketahuilah, bekasnya akan tetap ada di hati orang yang kau sakiti. Pohon itu tetap akan meninggalkan lubang, sampai kapanpun”

Bogor, 3 Nov 09. Pukul 16.23 wib

Rabu, 04 November 2009

SMP (Sekolah Mencinta Pertama)






Mungkin untuk ukuran anak jaman sekarang aku tergolong terlambat untuk jatuh cinta. ... Rasa 'ser-ser' itu baru muncul saat aku kelas 2 SMP. Iya. Beneran!.

Seorang teman satu kelas, satu bangku, satu meja, baik hati, memiliki senyum makyus dan dua lesung pipi maut. Semua anak menyukainya, para gadis bau kencur berebut ingin menjadi kekasihnya. Lalu aku? Tak pernah punya keberanian untuk bersaing dengan mereka.

Rasa itu cukup di simpan dalam hati. Tapi sungguh! Aku jatuh cinta saat itu, senang tak terkira saat berjumpa dia dan berubah kelabu bila tak bertemu.

Beberapa foto sekolahku dulu (yang ku temukan di sebuah friendster) menguak kembali kenangan itu. Wahai pemilik senyum makyus dan lesung pipi maut, andai saja kau membaca postingan ku ini... karena sampai sekarang rasa itu masih ada.

(*hey gun! bangun! bangun! kamu hidup untuk hari ini dan esok, bukan untuk masa lalu*)

Jumat, 30 Oktober 2009

Memandang Foto Orang Terkasih Bisa Redakan Nyeri

health.detik.com

Memajang foto orang tersayang di atas meja selain mengobati rasa kangen ternyata juga bisa memberikan efek bagus bagi kesehatan. Kebiasaan memandang foto orang-orang tersayang bisa jadi obat peredam nyeri.

Hal ini dibuktikan oleh peneliti dari Amerika yang menyarankan agar setiap orang yang sedang sakit membawa foto orang terkasihnya agar lekas sembuh.

Dikutip dari Dailymail, Jumat (30/10/2009), sebuah tes dilakukan peneliti dari University of Los Angeles untuk mengetahui efek foto terhadap kesehatan pasien. Sebanyak 28 pasien pun diikutsertakan dalam studi tersebut.

Untuk mengetahui efek langsung antara sakit dan foto, digunakan sebuah alat pengukur rasa sakit (heat-pain device) dari panas yang dihubungkan ke bagian lengan pasien. Panas akan merambat ke lengan dan pasien akan merasa kesakitan jika sudah tidak sanggup merasakan panas.

Saat alat itu dinyalakan, pasien diminta melihat 2 jenis foto. Foto pertama adalah foto orang-orang yang dicintainya dan foto kedua adalah foto orang asing.

Untuk membandingkan efek foto dan kehadiran orang secara langsung, pasien pun diminta untuk memegang tangan dari 2 orang yang berbeda, yaitu orang tercinta dan orang asing. Pasien memegang tangan melalui tirai kasur tanpa melihat wajah mereka secara langsung.

Hasilnya ternyata, melihat foto orang yang dikasihi, baik itu teman, kekasih, orang tua atau anak, terbukti memiliki dampak positif meredakan rasa sakit yang lebih besar ketimbang memegang tangan orang yang dicintai.

Ketika pasien melihat gambar orang yang dicintainya dari sebuah foto, ternyata rasa sakit yang diakibatkan oleh alat pemanas itu tidak begitu terasa dibanding dengan saat ia memegang tangan orang yang dicintainya dari balik tirai kasur.

Peneliti beranggapan bahwa ketika seseorang melihat gambar dan wajah yang terdapat di sebuah foto, otaknya akan bekerja lebih aktif dan mendorong produksi hormon pereda rasa sakit dan anti stres seperti dopamin dan endorfin untuk bekerja. Efek itu pun berpengaruh pada kekuatan mental dan fisiknya.

Tak hanya orang sakit, orang dalam keadaan normal pun menurut peneliti akan memiliki dampak yang positif saat melihat foto orang tersayang. Jadi, pastikan Anda membawa foto orang-orang tersayang kemanapun Anda pergi.

Bukan Roda, Namun Tangga

Dulu saya sering mendengar istilah bahwa hidup adalah sisi roda yang berputar, roda kehidupan. Adakalanya sisi itu di atas (bahagia), ada masa ia di bawah (berduka). Senang dan susah akan berputar silih berganti. Kita tak bisa menolaknya.

Saya ingin hidup saya seperti tangga, tangga kehidupan. Berundak-undak dari yang rendah sampai yang tinggi. Dari yang nggak bisa apa-apa, terus naik (maju) dan naik (maju). Saya ingin mencapai puncak tangga itu (bahagia), walau tak mudah, kadang saya harus berhenti lama, kadang harus jatuh ke anak tangga yang lebih rendah.

Tak masalah berapa kali saya harus berhenti menghela napas menapaki tangga itu, tak masalah berapa kali saya tesungkur ke tangga bawah. Saya akan tetap bangkit dan terus naik sekuat tenaga.

Bogor, saat ufuk belum lagi terbentuk. 30.10.09.

Kamis, 22 Oktober 2009

Seseorang Yang Namanya Tak Boleh Disebut

Seseorang Yang Namanya Tak Boleh Disebut 'kembali' memintaku untuk berhenti facebookan, mendelete account di multiply dan mengajak untuk fokus pada dunia 'nyata' saja. Seseorang Yang Namanya Tak Boleh Disebut 'kembali' kecewa. Karena aku 'masih' butuh kedua-duanya. Sang Dewi Maya dan Pangeran Nyata.

Selasa, 20 Oktober 2009

Penyebab gempa?

Dagu hijau itu


Dulu, aku tak berharap banyak dari pertemuan singkat kita di kereta Aku tak meminta kau jelaskan kegundahan di toko buku itu Aku tak kan merubah apapun dari dirimu Kini, kau susutkan jarak Kau biarkan ku sentuh dagu hijau itu Tuk lebih mengerti dirimu Thanks for believing in me

Pagelaran Bogor. 8-11-08

saat aku meloncat dari lantai 10

DICOPY BULAT-BULAT DARI MILIS, THANKS TO ZACH


saat aku meloncat dari gedung lantai 10....

Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai 10 sedang bertengkar dan saling memukul.

Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis di lt. 9

Di lt.8 Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dengan sahabatnya

Di lt.7 Dani sedang minum obat anti depresi

Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli 7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari

di lt. 5 Mr. Wong yang sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya

di lt.4 Rose sedang bertengkar hebat dengan pacarnya

Di lt. 3 pak tua sedang mengharapkan seseorang datang mengunjunginya

Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya yang sudah m eni nggal 6 bulan lalu

Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang

Sekarang aku sadar bahwa setiap orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri

Setelah kulihat semuanya itu, aku tersadar bahwa ternyata keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk

Semua orang yang kulihat tadi sekarang sedang melihat aku...


Kurasa setelah mereka melihatku sekarang, mungkin mereka merasa bahwa situasi mereka sama sekali tidak buruk.

" Be grateful for whoever you are....coz if u compare it to others, u'll be suprised of their secret life "

"Bersyukurlah atas dirimu apa adanya... karena bila kamu membandingkan dengan orang lain, kamu akan terkejut dengan rahasia hidup mereka"

Bersiap untuk luruh




Di depan rumah ada beberapa pohon palem
Entah sudah jadi adat baginya
Setiap menjelang musim hujan bunganya selalu luruh

Awalnya saya heran, kenapa bukan buah tua yang luruh?
Khan yang muda harusnya masih segar dan kuat

Di belakang rumah ada tetangga punya bayi baru seminggu
Cantik, sehat, montok dan lucu
Kami turut senang, ayah ibunya sangat bahagia
Tapi itu tak lama

Tadi pagi si bayi mungil berubah biru
Si ibu panik dan menangis kelu
Sang ayah diam membisu

Setiap makhluk hidup pastilah akan mati
Tidak tua, tidak muda, tidak kaya, tidak miskin
Mau cantik, mau jelek, mau manis atau asem

Tadi pagi saya menatap lagi serakan bunga palem itu
Bertanya-tanya dalam hati
Sudah siapkah saya luruh seperti mereka?

foto : gugun

Minggu, 11 Oktober 2009

No Goals, No Targets, No Results

*(Pelajaran dari Brian Tracy – Success Guru) *

* *

Setiap orang pasti ingin sukses. Namun, dalam kenyataannya tidak banyak orang yang bisa sukses seperti yang didambakan. Mengapa?
Jawabannya sederhana: TIDAK PUNYA TUJUAN YANG JELAS.

Penelitian berkali-kali menunjukkan bahwa orang yang punya tujuan yang jelas (* clear goals* ) akan lebih cepat sukses daripada mereka yang tidak memilikinya. Mengapa begitu?


*Mengalahkan Juara Dunia dalam 10 Menit! *

Brian Tracy, Sang Success Guru menjelaskan seperti ini. Tracy menjamin bahwa dalam 10 menit, ia dapat melatih Anda bagaimana cara melempar *dart* sebaik-baiknya sehingga Anda mampu mengalahkan juara dunia.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Inilah skenarionya. Ia akan mengumpulkan Anda berdua (Anda dan sang juara). Kemudian ia akan memberikan Anda papan dengan beberapa *dart* .

Lalu Anda berdua diperintahkan untuk bersiap melempar *dart* ke papan tadi. Akan tetapi, sebelum sang juara beraksi, Tracy akan menutup mata sang juara, memutarnya beberapa kali sampai dia kehilangan arah. Anda, bagaimana pun tidak perlu memakai penutup mata dan dapat melihat papan *dart* di depan Anda sejelas-jelasnya. Sang juara tidak dapat melihat papan *dart* dan kini ia pun kehilangan arah. Ia tidak tahu di mana papan *dart* berada.
Dalam situasi ini, Anda berdua di minta untuk melempar *dart* tersebut ke arah papan tadi.

Di antara Anda berdua, siapa yang akan menancapkan *dart* lebih banyak di papannya? Sang juara (yang matanya ditutup dan kehilangan arah) atau Anda (tidak memakai penutup mata dan dapat melihat papan *dart* dengan jelas)?

Tentu Ada akan tampil lebih baik dari pada sang juara? Mengapa? Karena Anda dapat melihat sasaran Anda (* goal* ) dengan jelas. Sementara ia tidak. Hal ini sangat mudah, langsung mengena dan tepat! Dan yang mengherankan adalah meski setiap orang ingin mencapai sukses, namun hanya 3% dari populasi dunia yang benar-benar menuliskan, membaca, dan mengulang tujuan hidup mereka setiap hari!!

*Do You Have A Dart Board? *

Hampir seluruh penduduk bumi (97%) menghabiskan hidupnya tanpa tujuan yang jelas. Beberapa dari mereka begitu sibuk menggeluti pekerjaannya sehingga kehilangan pandangan dan tujuan. Mereka hanya melempar *dart* pada papan yang tidak ada! Benar-benar usaha yang sia-sia, menghabiskan waktu dan tenaga!

*Bagaimana dengan Anda? Apa tujuan Anda? Apakah Anda punya tujuan yang jelas. Apakah Anda membaca dan mengulang tujuan-tujuan ini setiap hari untuk mengingatkan diri Anda. Jika jawabannya “ya”, selamat Anda sudah berada di jalan yang benar untuk mencapai sukses. Jika jawabannya “tidak”, maka saya sarankan Anda untuk segera menulis tujuan itu. Semua yang Anda butuhkan adalah menghabiskan cukup waktu sambil bertanya kepada diri Anda, “Apakah hal ini yang benar-benar ingin saya capai?” Kemudian tulislah SEGERA tujuan itu. *

*Pulanglah ke Rumah Secepatnya! *

Jakarta adalah kota macet! Rata-rata, seseorang membutuhkan 1–2 jam perjalanan dari rumah ke kantor mereka. Dan 1-2 jam perjalanan lagi untuk pulang ke rumah. Seorang teman bercerita kepada saya tentang insiden yang menimpanya. Rata-rata ia membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dari kantor ke rumah. Sejak rumahnya terletak di “rute macet”, tidak ada suatu apa pun yang dapat ia lakukan. Jadi setiap hari, saat ia terjebak dalam kemacetan, ia selalu mendengarkan musik, radio, dan kaset-kaset motivasi. Dengan kata lain, ia menerima waktu 1,5 jam itu tanpa rasa kecewa dan amarah.

Tetapi, suatu hari, dalam perjalanan pulang, istrinya menelpon dan mengatakan bahwa anaknya yang berusia dua tahun terjatuh dan mengalami robek di dahinya. Dan sekarang sedang mengalami pendarahan hebat. “Pulanglah ke rumah secepat-cepatnya!” Suara tangisan anak kesayangannya terdengar di belakang telepon. Segera ia tancap gas dan mengambil sisi jalan, bergerak agak cepat…semua dilakukan hanya untuk sampai ke rumah dalam waktu sesingkat-singkatny a.

Akhirnya, ia sampai ke rumah. Dan ternyata, ia hanya menghabiskan waktu satu jam perjalanan dari kantor ke rumah! 30 menit lebih cepat dari biasanya! Istrinya sangat terkejut. “Bagaimana kamu bisa sampai ke rumah dalam tempo satu jam?” Ia menjawab, “Saya menerobos, menekan gas sedalam-dalamnya, mengambil jalan pintas, bergerak cepat… pokoknya apa pun yang dapat membuat saya lebih cepat!”

*Jadi Apa yang Bisa Kita Pelajari? *

Ketika Anda sudah memiliki tujuan yang jelas dan bisa memvisualisasi hasil akhirnya secara jelas, otomatis Anda akan memiliki tingkat KEPENTINGAN yang lebih kuat. Ketika kita ingin lebih cepat mencapai tujuan kita, secara otomatis kita akan menemukan jalan yang lebih baik dan lebih cepat untuk mencapai tujuan tersebut—dengan kata lain, kita akan mencapai sukses LEBIH CEPAT!

*Bagaimana dengan Anda? Apa tujuan Anda? Dapatkan Anda menggambarkan HASIL AKHIR? Jika jawabannya “ya”, selamat! Anda akan mencapai tujuan Anda dan sukses lebih cepat dari kebanyakan orang. Jika jawabannya “tidak”, maka saya sarankan Anda untuk mulai menuliskan tujuan Anda. Anda akan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mencapai tujuan Anda! Mengapa Anda ingin MENYIA-NYIAKAN waktu dan hidup Anda. *


*Setelah “Apa” Datanglah “Kenapa” *

Berpikirlah realistis. Perlu kerja keras dan pengorbanan untuk mencapai tujuan dan sukses! Tidak ada jalan pintas, atau rumus-rumus ajaib. Kadang ini juga menyakitkan hati. Ketika teman Anda menikmati hidup mereka, Anda bekerja. Saya tahu semua ini karena saya sudah mengalami pengorbanan itu selama 10 tahun!

Seringkali, ketika Anda sudah sangat lelah, hampir frustrasi, Anda akan bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa saya melakukan semua ini? Untuk apa semua ini? Apakah pengorbanan ini berharga buat saya?”

Anda lihat apa yang terjadi? Sekarang Anda bertanya “mengapa”. Jika kata “mengapa” itu tidak kuat dan cukup jelas, Anda akan berkata, “Ah… peduli amat! Lupakan saja! Ini tidak berharga!” Dan kemudian menyerah.

Jadi sebelum Anda memulai sebuah usaha, SANGATLAH PENTING untuk memahami dengan jelas MENGAPA Anda ingin mencapainya. Jika kata “mengapa” tidak terasa jelas, kuat dan mendorong perasaaan Anda (senang, gembira, bangga, takut, dan sebagainya), kemungkinan besar Anda akan gagal.

Biarkan saya memberi contoh. Anda berada di sebuah kolam renang dan kepala Anda berada di atas air dan Anda merasa rileks. Tiba-tiba, saya menekan kepala Anda ke dalam air dan menahannya sampai Anda kehabisan nafas…dan saya TETAP menahan kepala Anda dengan sangat kuat, kemudian saya sangat yakin jika Anda akan berusaha keras mengeluarkan kepala Anda untuk menghirup udara segar! Ketika Anda merasa harus mengambil nafas, Anda akan BERJUANG mendapatkannya!

Jadi, “Apa” tujuan Anda… dan yang lebih penting lagi adalah “mengapa” Anda ingin mencapainya? Untuk siapa Anda melakukan semua itu? Bisakah Anda melihat hasil akhirnya? Apakah visualisasi hasil akhir akan membuat Anda gembira, sedih, tersentuh, menangis, takut, bangga? Jika iya, maka Anda berada pada jalur yang benar. Jika tidak, maka definisi Anda tentang “mengapa” tidaklah jelas dan cukup kuat sehingga Anda harus mencari alasan lain yang lebih kuat. Jika tidak, maka usaha Anda akan menjadi tidak berharga.

Apa yang telah kita diskusikan adalah dua prinsip dasar dari Penetapan Tujuan (* Goal Setting* )—LANGKAH AWAL untuk sukses. Namun tidak banyak orang di dunia ini yang melakukannya. Mengapa? Sebab mereka tidak pernah diajarkan seperti ini di sekolah.

Kenyataannya: “Ada sebuah rumus” yang menjadi metode dan pendekatan yang tepat untuk menjadi sukses. Kerja keras tidaklah cukup. Hal itu baik, namun kerap tidak cukup bagus. Kita sudah banyak melihat orang yang suka bekerja keras namun tidak mencapai satu kesuksesan pun. Ada beberapa teknik yang sebenarnya bisa dipelajari.

Sukses untuk kita!
B. Patriawan

Rabu, 07 Oktober 2009

Help! Penyakit ku kambuh...

Saya mengidap sebuah penyakit. Penyakit ini sudah terasa sejak lama. Jauh sebelum saya mulai berani membaca stensilan milik abang sendiri. Bagi yang belum tahu, stensilan adalah sejenis bacaan khusus dewasa dalam bentuk buku kecil (stensilan; teknik cetak jaman ’jebot’). Pernah suatu hari abang memergoki saya sedang membaca koleksinya di kebun belakang. Abang marah, lalu memukul pantat saya dengan sapu ijuk. Bukan karena membaca stensilan, tapi karena mengambil tanpa ijin! Keesokan harinya abang malah meminjamkan buku miliknya yang lain. Gile, man! Lengkap banget! Ada Enny Arrow ! Ada Nick Carter dan masih banyak lagi yang lainnya .... sya la la la la (halah!)

Balik lagi soal penyakit saya. Gejala awal penyakit ini adalah pembengkakan pada rongga kepala, lalu pelebaran pembuluh darah hidung dan diikuti panas tinggi. Ini berpengaruh terhadap fisik saya. Kepala membengkak (jadi lebih besar), rongga hidung melebar (kembang kempis) kemudian tubuh jadi kejang-kejang. Beberapa dokter yang dihubungi tidak menemukan gangguan medis, kata mereka saya baik-baik saja. Cuma ke GR-an aja. Bingung khan?

Beberapa hari yang lalu, saya berkenalan dengan seseorang nun jauh di sana (Hai kamu yang di sana! Ya kamu ! Saya yakin saat kau baca tulisan ini, kamu pasti tau bahwa dirimulah yang saya maksud). Dia begitu baik, memberi tahu tanpa menggurui, menasehati tanpa menyakiti, dan kadang sesekali melempar canda pelipur lara, memuja dan mememujiku. Pasca perkenalan itu, penyakit ku kambuh!

Help Me!

Seberapa lama pertemanan mu di dunia maya masih tetap asyik?


Kupil (29 th), bukan nama sebenarnya, mengeluh, pertemanannya di dunia maya tidak berlangsung lama. Dia kenal Kudil (27 th), jelas-jelas nama palsu, pertama kali di multiply. Kedua cowok keren ini (beneran!) adalah penggila lagu-lagu barat 80-an. Tiap kali Kupil menemukan lagu ‘baru’ (80-an, tentunya), ia akan membaginya dengan Kudil. Begitupun sebaliknya. Layaknya teman akrab, walau belum pernah sekalipun bersua, Kupil dan Kudil selalu saling memberi koment di multiply masing-masing, bercanda di sms dan tertawa terbahak-bahak di telpon. Tapi itu semua tak bertahan lama, hanya beberapa minggu sejak pertama kali mereka kenal, pertemanan Kupil dan Kudil mulai mendingin, Kupil jadi jarang mengirim sms ke Kudil, begitupun Kudil mulai malas menelpon Kupil. Tidak ada yang tau, apa yang menjadi biang keladi semua itu. Mungkin kesibukan mereka masing-masing atau mereka sudah kehabisan bahan untuk membuat pertemanan mereka tetap asyik!

Lain Kupil, lain lagi Rongga (38 th). Jejaka tampan ini kenal Cynta’ (18 th), gadis imut nan pinter, di sebuah channel gaul saat ber-chatting ria. Sebagai arjuna yang hampir kadaluarsa (ooppss, sorry), Rongga begitu bersemangat menjalin ‘pertemanan’ dengan Cynta’. Hampir tiap hari mereka bertukar sapa, “Hai, Mas Rongga. Udah makan belum?” “Belum, Cynta’, nggak ada yang nyuapin nih” (gombal banget). Itu semua mereka lakukan di dunia maya, tiada hari tanpa chatting, Senin sampai Minggu, 3 kali sehari (udah berasa minum obat, gitu). Namun sayang seribu sayang, hanya berselang 3 pekan, keadaan berbalik 180 derajat. Cynta’ mulai jarang chatting dengan Rongga, kalaupun dia online, selalu ‘invisible’. Rongga-pun jadi sangat kehilangan.

Lalu, bagaimana dengan mu? Seberapa lama pertemanan mu di dunia maya masih tetap asyik? Walau kalian tak pernah sekalipun bertatap muka?

Saran gue sih : “Tak peduli seberapa lama pertemanan itu tetap asyik, tapi seberapa mampu kita menikmati, menghargai dan membuat pertemanan itu jadi bermakna, walau hanya sekejap”

Lelaki dari masa lalu

Ia datang tanpa angin
Ia ada tanpa hujan
Tepat dimuka
Tanpa ku bisa menghindar
Tanpa ku bisa menutup rasa
yang masih ada...

Kenapa rasa padanya tak kunjung hilang
Walau ku tlah kecewa berulang-ulang?

Kopi kita mulai dingin, bro

“Hai, Bro. Apa kabar? Lagi ngapain nih”

“Baik”

“Kemana aja? Kok jarang online”

”Ada aja”

”Sibuk nih rupanya?”

”Gak”

”Hmmmm....”

”Knp?”

”Gpp”

”Bro, kamu agak berubah”

”Biasa aja”

”Hmmmm...”

”Yakin?”

(nggak ada jawaban)

”Bro, pamit dulu ya”

”Ok”

+++++++++++++++++++++++++

Perjalanan akan menjumpai ujungnya

Pelayaran akan mencari pelabuhannya

Serial saja ada episode terakhir

Persahabatan mungkin juga ada dinginnya, :-)

-gugun-

Rabu, 26 Agustus 2009

Beri teman barumu waktu


Pertemanan atau persabatan dimulai dari kondisi tidak kenal / tidak tahu. Seiring dengan berjalanya waktu, pertemanan itu makin menemukan bentuknya, bahkan bisa menjadi persahabatan bahkan persaudaraan. Aku biasanya akan memberi waktu pada teman baruku untuk memperkenalkan diri. Bersabarlah dan membiarkan dia membuka baju... eh salah... membuka diri, karena aku benar-benar ingin berteman dengannya.

Tapi sayang, tak semua orang sepikiran denganku. Ada yang hanya menerima teman di fb/mp bila memang sudah kenal sebelumnya. Bisa dipahami sih, secara banyak sekali kriminal (katanya) yang berkeliaran di dunia maya. Tapi setidaknya, asas praduga tak bersalah perlu untuk dipertimbangkan.

Tok tok tok...

*palu diketuk*


Dengan lapang dada (secara dada gw udah mulai bidang), gw harus terima nama gw dihapus dari list seorang teman baru hanya gara-gara dia tak begitu kenal gw.Kami pertama kenal 17 Agustus 2009, tapi dia "menceraikan"ku 25 Agustus 2009. Hiks.... Berikut kronologisnya :

---------
Between You and YS

YS
August 17 at 11:09pm
Report Message
ni siapa...?

Gugun Gunadi
August 17 at 11:19pm
ur welcome
saya gugun, temannya *****
boleh ya jadi temanmu juga


YS
August 20 at 4:07pm
Report Message
Bukan pilih2 teman, tapi saya bingung, bahkan *****pun gak tau siapa mas?
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 20 at 4:13pm
Ya. Gpp. Teman byk jenisnya. Ada tmn masa kecil, saat sekolah, di t4 kerja dan tmn di dunia maya. Kita msh bisa berteman khan? :-)
Sent via Facebook Mobile

YS
August 20 at 6:57pm
Report Message
Asal jelas tujuannya. Byk teman yg akhirnya malah membawa kemudharatan.
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 21 at 5:01am
Insya Allah tidak ada tersirat niat tidak baik dalam berteman. Saya berteman dg ***** di multiply mgkn lebih dari setahun, dan tidak pernah ada masalah. Semoga..
Sent via Facebook Mobile

YS
August 21 at 6:55am
Report Message
Bisa ceritakan siapa kamu?
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 21 at 7:50am
Saya gugun. Suka bgt tinggal di bogor. Walau harus bolak balik jakarta. Kalau mudik ke sukabumi dan ke padang. Hoby olah raga air, nonton film dan baca novel horror komedi. Kerja di lsm. Hmm... Mgkn segitu cukup.
Sent via Facebook Mobile

YS
August 22 at 6:31pm
Report Message
Gw malah ud 2 x mencoba b***h diri. Bukan teman atau sahabat yg menemani gw, tapi Tuhan sayang bgt ama gw
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 22 at 6:40pm
gila luh! jangan coba-coba lagi suf. kasihan keluarga dan teman2 lu. mereka pasti bakal terpukul banget

iya, Tuhan pasti melindungi. gw percaya itu

YS
August 22 at 6:43pm
Report Message
Tell me bout urself. Call me
02199995***
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 22 at 6:50pm
me? suicide? pernah kepikiran sih. tapi gw nggak pernah punya nyali buat lakuin itu. nyokap gw udah gak ada sejak gw msh segede termos. dia pasti sedih kalo gw sampai mati sia2.

kalo lu baca posting gw di fb, lu pasti bisa tebak orientasi *** gw. yap! lu benar. jadi orang 'normal' aja udah pasti banyak masalah, apalagi jadi orang yg menurut sebagian orang gw 'nggak normal', walau gw udah bisa nyaman dg kondisi gw.

Tuhan kasih gw cobaan yg pasti gw bisa atasi.


*kok gw jadi mendadak curhat gini yah?*

Thanks for the number. I'll call u later.

YS
August 22 at 6:53pm
Report Message
Gw juga, dan gw udah kena batu terbesarnya. Skrg gw tau betapa Tuhan sayangnya ama gw. Gw cm pgn share ama lu. Baca notes gw.
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 22 at 6:58pm
gw udah baca beberapa note lu.
gw bisa tangkap rasa sedih, kecewa, cinta.. campur
nulisin apa yg lu rasa, katanya bisa ngurangin beban di hati
gw pernah ngalamin

YS
August 22 at 7:00pm
Report Message
Gw udah tau lu seperti apa... Tapi gw gak tau muka lu. Jangan2 gw knal! Gw gak suka dibuat penasaran bro! And ur number please
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 22 at 7:06pm
gw nggak ada maksud bikin penasaran siapun
dan kita emang belum pernah kenal sebelumnya

0251.9350***

YS
August 22 at 7:09pm
Report Message
Simply ur face picture
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 22 at 7:11pm
I'll show u someday

YS
August 25 at 3:39pm
Report Message
buka puasa di mana?

Gugun Gunadi
August 25 at 5:32pm
Buka puasa di rumah. Menu hari ini, sup ayam, sambel goreng ati sama kerupuk udang plus nata decoco. Mau? He3x
Sent via Facebook Mobile

YS
August 25 at 5:35pm
Report Message
Mau dong! Kapan2 buka brg bro! Gw sndirian d kos. Hehe
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 25 at 5:51pm
Boleh. Mampir atuh ke Bogor. He3x. Teman kost lu kemana?
Sent via Facebook Mobile

YS
August 25 at 5:56pm
Report Message
Bener nih? Gw gak dkt
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 25 at 5:59pm
Jakarta bogor jauh kalee.. Kita berbuka bareng di tempat masing2. :-)
Sent via Facebook Mobile

YS
August 25 at 6:00pm
Report Message
Sip.. Like i guess b4... :-)
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 25 at 6:15pm
Iya nih. Gw kadang kebawa kebiasaan basa-basi. He3. Tapi ngak marah khan? :-)
Sent via Facebook Mobile

YS
August 25 at 6:19pm
Report Message
Siap. I know who i am
Sent via Facebook Mobile

Gugun Gunadi
August 25 at 6:23pm
Maap ya kalau basa basiku membuat nggak nyaman.
Sent via Facebook Mobile

YS
Today at 7:37pm
Report Message
maaf juga saya hapus list kamu di fb... soalnya bener2 gak tau siapa kamu...
:-)


----------

Hiks ... Dia bahkan nggak memberi kesempatan agar dia benar-benar tau siapa diriku...
Ucuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
uup... teganya dirimuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

*nangis guling-guling*

Minggu, 09 Agustus 2009

10 hal yang tidak relevan dalam menilai boss

Hola semua! Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali lu ngomongin boss lu? Sebulan yang lalu saat dia marah besar karena kerjaan lu nggak bener? Atau 3 menit yang lalu gara-gara dasi si boss nggak mecing ama kemejanya? Bisik-bisik ngomongin si boss pada awalnya mungkin hanya iseng aja. Tapi lama-lama ritual ini menjadi ajang untuk menilai si boss, kompetensi dia.

Nah ini dia! Hasil survey pada para anak buah di Jakarta didapatkan bahwa ada 10 hal tidak relevan yang sering di gunakan bawahan untuk menilai boss mereka.

Ingat, 10 hal ini sama sekali tidak relevan dalam menilai seorang boss, tapi sangat sering digunakan (at least berdasar survey) dan mampu menjatuhkan wibawa seorang boss. Apa saja itu?

10 hal tak relevan yang sering dijadikan bahan penilaian bawahan terhadap atasannya :

10. Orientasi seksual.
"Idih boss gue homo, males gw kerja ama dia. Ntar anak buahnya yang cakep pasti diembat semua!" Nah loh.. Emangnya segampang itu? Apa karena dia homo trus dia nggak bisa profesional? Ingat, homo juga punya selera dan type idola (ceilee), nggak semua yg cakep trus di embat.. Jadi sama sekali nggak relevan menilai boss hanya dari orientasi seksualnya.

9. Umur yang lebih muda.
"Anak kemaren sore itu tau apa? Mana bisa dia mimpin kita yang udah bangkotan gini? Hahaha... Kasihan deh lu. Umur mah bukan jaminan seseorang bisa memimpin dengan baik. Kadang yang udah tua pun nggak kunjung bijaksana, nggak dewasa dalam mengambil keputusan. Nggak perlu minder di pimpin ama yang lebih muda.

8. Asal almamater.
"Dia lulusan mana? Kok gw nggak pernah dengar universitas antah berantah itu? Pasti diragukan tuh kemampuannya" Wake up man! Walau universitas terkenal dapat memberikan lingkungan yang kondusif terhadap kualitas lulusannya baik, tapi bukanlah jaminan. Kalau lu nya males mah, tetep aja bego (oooppsss.. sorry). Pengalaman kerja dan keterampilan tambahan si boss, bisa saja membuat dia jauh lebih profesional dari pada lulusan universitas terkenal tapi skripsinya masih bajakan.

7. Nama yang dianggap aneh.
" Nggak banget deh. Masa' boss namanya kaya' gitu? Ndeso banget ngggak sih?? Harusnya namanya Suryo Hadikusumo atau Sutan Takdir atau Daeng Ahmad Surya. Serba salah juga yah... Nama pemberian orang tua si boss jadi bahan olok-olok. Tapi ingat, ini sama sekali tidak relevan.

6. Kemampuan bahasa.
"Malu gw, boss gw kaga' bisa ngomong ingris". Iya juga sih, di jaman internet lebih ngetop dari kornet, wajar bila si boss di tuntut bisa cas-cis-cus..
Eit, tunggu dulu.. Ini bukan satu-satunya penilaian terhadap kompetensi si boss, toh dia khan bisa nyewa jasa penerjemah.. hehehe

5. Kemampuan rendah di teknologi alias gaptek.
"Hari geneee?! Kirim imel kaga' bisa? Boss macam apa itu?" Mungkin akan dijawab si boss, "Hari geneee?! Ngirim imel masih harus gw?! Buat apa gw ngegaji karyawan (staff), bukanlah hal-hal yang teknis emang kerjaan lu lu pada?! Tuh khan?! Kemampuan teknologi pun sepertinya belum tentu relevan dalam menilai seorang boss. Boss gaptek mungkin nggak terlalu penting, asal punya kemampuan manajerial yang canggih! Betul tidak??

4. Status pernikahan.
"Pantes aja dia nggak bisa ngatur perusahaan, rumah tangganya aja berantakan gitu" "Ooohhh.. pantas aja dia marah-marah mulu. Perawan tua sih!. Pliss deh.. Nggak ada kaitan yang langsung antara kemampuan dalam memimpin dengan status pernikahan seseorang. Mungkin saja status pernikahan berpengaruh terdap kerja seseorang, namun ini semua tergantung orangnya sih. Banyak yang kurang berhasil dalam kehidupan pribadi (baca: pernikahan) tapi sukses dalam memimpin perusahaan besar. Hayo?

3. Ras (suku bangsa).
"Suku X. Najis! gw nggak mau punya boss suku X. Mending pindah aja" Hey? Buka mata, buka telinga. Lihat & denger baik-baik. Suku mana di muka bumi ini yang benar-benar oke jadi boss? Suku Sunda? Suku Jawa? Suku Ambon? Atau Suku cadang? :-) Suku bangsa mah nggak relevan dijadikan patokan dalam menilai kemanpuan si boss.

2. Style dandanan.
"Boss gw norak! Make dasi aja kaya' make syal! "Duh, ibu direktur gw, sasaknya ampe nyangkut di pintu" Ampun dijeeee. walau boss lu nggak bisa dandan, itu tetep nggak pas dijadikan bahan penilaian kemampuan dia memimpin. Gw sempet ketawa waktu lihat Pak Habibi pake kopiah, lucu. Tapi gw salut dengan gaya kepemimpinan beliau.

1. Bentuk tubuh (fisik).
"Aduh! Buntelan angin itu jadi boss kita?? "Lu beliin ampelas napa? Tuh muka si boss kaya'nya butuh tuh!'

Lalu? Untuk para anak buah : hati-hati dalam menilai si boss. Jangan sampai menggunakan hal-hal yang tidak relevan. Untuk para boss: mboknya gaul atuh.. jangan sampai hal-hal di atas membuat wibawa lu jatuh di mata anak buah...

sumber : survey female radio

Selasa, 04 Agustus 2009

Be allert guys!

Bisa selamat dari kecelakaan kereta api membuat saya jadi lebih waspada, always allert. Bagaimana tidak, nyawa dibadan hanya sebuah. Kalau ia hilang, tak satu manusiapun dapat mengembalikannya. Di negeri yang saya cintai ini (yakin?), keamanan dan kenyamanan kadang menjadi barang langka. Bom, kecelakaan angkutan umum, atau bencana alam lainnya sering membuat saya jadi parno (paranoid). Saya yakin ajal emang udah ada yang ngatur, kapan dan dimana, saya nggak akan bisa nolak. Tapi saya nggak mau mati konyol kejepit gerbong kereta hanya gara-gara sinyal KRL yang tidak berfungsi akibat nggak pernah dicek. Saya nggak mau mati kegilas angkot/bis yang gebut gila-gilaan di jalan raya. Dan saya benar-benar akan jadi roh penasaran pembalas dendam bila mati tenggelam akibat banjir, gara-gara orang buang sampah sembarangan membuat sungai mampet dan longsor. Kedengarannya emang lebay, tapi itu bisa saja terjadi. Dan tak satupun kita mengingini.

Be allert guys!

Saya sempat mengambir gambar bagian kereta yang ringsek akibat tabrakan dari atas KRL Jakarta yang membawa saya kembali ke Bogor.

Senin, 03 Agustus 2009

Saat lampu pesta itu padam


Bagi penggemar film queer mungkin sudah pada tahu bahwa di Jakarta saat ini sedang berlangsung Jakarta Q! Film Festival 2009. Dari tanggal 27 Juli hingga 5 Agustus 2009 puluhan film dengan tema-tema LGBT*) di gelar dibeberapa venue antara lain Cemara 6 Galery, Centre Culturel Francais (CCF), Erasmus Huis, GoetheHaus, Japan Foundation, Kineforum (TIM 21 Studio 1), Komunitas Salihara dan Subtitles DVD Pixar Theater.

Pengen banget rasanya ikutan nonton, tapi tahun ini jadwal kerja nggak bisa di ajak kompromi. Kecewa sih, padahal 3 tahun terakhir saya nggak pernah melewatkannya. Pulang dari kantor saya buru-buru menuju stasiun terdekat meluncur ke stasiun gondangdia. GoetheHaus menjadi tempat favourite. Trus pulang nyampai rumah jam 12 malam. Begitu yang terjadi setiap hari selama event itu berlangsung . Capek pasti. Sering kesiangan dan ngantor sambil gantuk. Tapi itu dilakoni demi memuaskan rasa penasaran. Tapi tahun ini tidak. Kenapa?

Adalah seorang teman yang menasehati saya untuk tidak lagi menonton festival itu. Dia 'khawatir'. Khawatir akan mengganggu jadwal kerja saya. Khawatir saya akan ketemu seseorang di sana lalu terjadi apa-apa. Khawatir aja katanya. Tapi bukan karena itu saya tidak nonton, hanya karena sebab yang sudah saya sebutkan tadi. Rasa penasaran sih tetap ada.

Untuk menghilangkan penasaran bagaimana serunya Jakarta Q! Film Festival tahun ini, sayapun membuka foto-foto teman di facebook. Wuiiih... Banyak sekali yang posting keriangan pesta sepekan itu. Dari yang bergaya serius dalam diskusi, berpose ala bintang pilem di karpet merah, hingga memakai kostum hura-hura ala pesta-pesta karnaval. Penuh tawa, canda, senyum, cengir dan cengar. Ruamee rupanya. Tapi tunggu dulu... Kok saya rasanya ada yang mengganggu pikiran saya.

Benarkah ini keriangan sejati? Sungguhkah ini tawa canda? Atau ini hanya pelarian? Kalau nanti lampu pesta itu padam, masihkah akan ada tawa canda dan keriangan itu. Atau kembali bergulat dengan penyangkalan diri, penolakan, pelecehan, hinaan dan cercaan? Entahlah...

*tanya paman google yah

Sabtu, 01 Agustus 2009

Jumat, 31 Juli 2009

Ampun ayah

Minggu, 12 Juni 1983. Pukul 18.45 wib

Seorang anak menangis di sudut dapur. Terisak ditahan. Matanya merah penuh marah. Kakinya yang merah kebiruan bergetar, menahan sakit.

Suatu sore
"Rida!"
"Ya ayah.."
"Apa sudah benar-benar kamu cari??"
"Sudah ayah.."
"Di sudut-sudut lemari bajumu?"
"Sudah ayah.."
"Panggil ipang, udin, dan gugun!!"
"Ya ayah.."

"Ipang! Masuk kamar itu"
"Ta.. tap..tapii ayah..."
"MASUK!"
Begitu Ipang masuk dengan takut-takut, ayah menyusul sambil mengunci pintu dari dalam. Terdengar bunyi ikat pinggang beradu dengan punggung Ipang
"Ampun yah.. Ipang tidak tahu yah..."
"Apa benar kamu tidak tahu??"
"Benar ayah.. ampuuunnn yah...sakit yah..."
Cetarrrrrr!!!
"Ampuunnn yah.." Ipang meraung..
Pintu dibuka, Ipang keluar terseok. Terduduk di depan pintu.
"Tidur kau!"

"Kamu udin!. MASUK!"
Udin menolak, berusaha lari tapi segera ditarik ke dalam kamar. Pintu di banting dan di kunci. Terdengar suara gaduh.
"Kamu mau melawan ya?
Cetarrr!
"Hai! Lari kemana kamu!"
"Ayah jahat! Ayah jahat! ADUUHHH!"
Terdengar benda jatuh
"Ampuuuuun! Ampuuuuunnn!"
Cetarrrrrr!
"Tidak tahu!"
"Anak durhaka! Masih saja melawan!"
Pintu terbuka, udin lari keluar dengan bibir bengkak. Lalu terjerembab, tersandung kaki kursi. Kepalanya membentur meja makan.

"Kau Gugun! Masuk!"
Gugun kecil menangis
"Jangan ayah.. Ugun tidak mencuri jam tangannya kak Rida"
Ayah menarik tangan Gugun yang kecil. Pintu ditutup. Cetarrr.
"Mengaku!"
"Ugun tidak tahu ayah... aduuuuhh, sakit ayah"
Cetarrr, tangis Gugun semakin kencang. Diluar nenek memukul-mukul daun pintu.
"Jangan terlalu pada anakmu. Gugun badannya panas, dia sedang sakit. Nanti kita juga yang repot".

Pintu terbuka. Gugun keluar terisak berjalan pincang. Kakinya penuh bilur-bilur merah kebiruan. Nenek mencoba menghibur, namun tak mampu meredakan sesegukan Gugun. Dipojok dapur ia meringkuk.
"Ayo Nak.. Sekarang kita tidur". Nenek mencoba meraih tangan Gugun. Ia tak bergeming.
Matanya berair tapi hatinya kering, marah dan tak pernah paham kenapa ini harus terjadi.

Sayup-sayup ia mendengar Rida menangis dan minta ampun. Suara itu semakin lambat, semakin lambat. Gugun jatuh tertidur.

---------------------------------

"Ampun ayah.. ammpuuuunnnn... Gugun tidak mencuri jam tangan itu.."
"Gun...., Gun. Bangun Gun.. Kamu menggigau lagi. Mimpi buruk lagi?" Boby membangunkan

Gugun bangkit, ke kamar mandi berwudhu. Selepas sholat malam, ia terisak.
"Ya Allah, kalau nanti Kau ijinkan aku punya anak aku akan berjanji ia tidak akan mengalami mimpi buruk yang selalu menggangu tidur ku ini." Dikecupnya sajadah basah itu dengan khusuk lalu terlelap...

Kamis, 30 Juli 2009

Inilah saatnya

Rasa di hati; suka, benci, marah, kecewa bahkan cinta hanyalah sementara. Hari ini kita boleh suka ama dia, besok bisa berubah jadi benci. Sekarang asyik bercinta, pekan depan bak musuh bebuyutan. Siapa yang mampu menjaga rasa di hati tak berubah? Tak ada seseorangpun.

Tak perlu khawatir, itu sangat manusiawi. Kita bukan makhluk abadi berpantang mati. Semuanya akan pergi, menghadap sang maha pemberi. Jadi?

Aku mencintaimu pertama kali seperti rumput dan embun. Kau membuatku sejuk. Kau pikat aku dengan kemilau beningmu.

Aku mengagumimu kedua kali seperti cerobong dan api membara. Kau hangatkan diriku, kau terangi gelapku.

Kali ketiga kau berubah, atau mungkin aku. Rasa sejuk dan hangat itu hilang entah kemana. Kemilau dan cahaya itu pudar tak berbekas.

Ku tak kan sesali, kau tak kan ku salahi. Mungkin sudah waktunya saja.

Gambir. 30 juli 09. 22.45

Selasa, 28 Juli 2009

Ramos Horta: Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa nasional Timor Leste!

Ini yang baru dan mungkin akan menggugah nasionalisme kita (apalagi kalo abis nonton filem Garuda di Dadaku yg theme song nya njiplak abis lagu Apuse itu).

Diberitakan bahwa Ramos Horta, presiden Republik Demokratik Timor Leste berencana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional negeri lepasan Indonesia itu. Rencananya, peresmian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Timor Leste akan diumumkan pada bulan Agustus 2009 ini, bertepatan dengan peringatan 10 tahun referendum Timor-timur. (Atau mungkin dicocok-cocokin dengan ultah kemerdekaan RI).

Berita ini berseliweran di beberapa milis, diposting oleh A Umar Said, yang mendengar langsung dari Ramos Horta pada salah satu lawatannya ke restoran koperasi INDONESIA di Paris pada 27 Juni 2009.

Alasan pemberlakuannya, karena 80% penduduk Timor Leste berbahasa Indonesia, sebagai akibat dari kooptasi selama nyaris 30 tahun pemerintahan Orba. Bahasa Portugis dan bahasa Tetum (bahasa asli Timor Leste) yang sedianya sudah dijadikan bahasa resmi, karena alasan kepraktisan akan digantikan oleh Bahasa Indonesia.

Rencana tokoh penerima Nobel Perdamaian ini tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, di tengah makin terjungkalnya kehormatan bangsa dilumat negeri Jiran, soal TKI, Ambalat, dan lainnya termasuk prestasi olahraga kita yang menukik terus-terusan.

Satu hal lagi, kita turut mengapresiasi semangat pemerintah Timor Leste untuk menjalankan pemerintahan tanpa rasa dendam, termasuk terhadap pemerintah Indonesia atau pun tokoh-tokoh militer yang pernah mengangkangi negeri itu.

politikana.com

Sabtu, 25 Juli 2009

Hari Tanpa TV, Minggu 26 Juli 2009


bersiap untuk dukung Hari Tanpa TV. Minggu 26 Juli 2009. Bukannya kita anti tipi, tapi agar kita yang jadi pengendali. Lebih bijak nonton tipi. :-)

Kamis, 23 Juli 2009

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

-Dorothy Law N.-

Sabtu, 18 Juli 2009

Menyelisik Sisi Tertutup AS

Dua koboi muda menggembalakan biri-biri di lereng Gunung Brokeback di Wyoming, Amerika Serikat. Seluas mata memandang hanya ada gunung menjulang, pohon-pohon hutan khas daerah beriklim sedang, padang rumput tempat ternak merumput.

Tidak ada orang lain selain mereka berdua, Ennis del Mar (Heath Ledger) dan Jack Twist (Jake Gyllenhaal). Menit-menit pertama film unggulan penghargaan Oscar Brokeback Mountain ini diisi dengan kehidupan koboi sesungguhnya. Bagaimana mereka menggiring biri-biri mereka menuju padang rumput, kehidupan di kemah, memasak, mencuci, membersihkan badan, hingga pembagian kerja di antara mereka. Jack harus berada bersama ternak, termasuk pada malam hari, dan Ennis mengurus perbekalan.

Penceritaan yang detail, seperti Jack yang terus mengeluh tentang pembagian kerja dan akhirnya mereka bertukar posisi atas usul Ennis, kejengkelan pada kacang kalengan yang menjadi makanan utama mereka, serangan coyote (sejenis anjing hutan) terhadap ternak yang harus mereka jaga, penuturan Ennis dan Jack tentang asal-usul dan aspirasi mereka—Ennis ingin menikahi pacarnya, Alma, sementara Jack ingin menjadi pemain rodeo—hingga kerepotan mengurus tenda tempat mereka berteduh, pada awalnya terasa lambat.

Namun, Ang Lee, sebagai sutradara, menggunakan cara bertutur yang tidak terburu-buru itu sebagai landasan membangun keseluruhan film ini. Melalui penuturan yang berhati-hati dan menyingkap detail itulah titik balik terjadi.

Setelah suatu makan malam Ennis tidak kembali ke tempat ternak dikumpulkan karena sudah terlalu malam. Dia memilih tidur satu tenda bersama Jack karena di luar dingin. Tanpa suatu pendahuluan, hubungan intim di antara keduanya terjadi begitu saja. Sejak awal, tidak ada tanda hubungan erotis di antara keduanya, kecuali sebuah pertemanan yang menjadi persahabatan yang tumbuh di dalam kesamaan nasib sebagai koboi.

Mereka bertemu pertama kali saat melamar bekerja musim panas untuk menggembalakan biri-biri milik peternak Joe Aguirre (Randy Quaid). Setiap saat kehidupan koboi di lereng gunung yang terpencil itu dilalui untuk menghadapi tantangan alam: hujan, petir, coyote, bahkan persoalan pelik ketika biri-biri yang menjadi tanggung jawab mereka bercampur dengan biri-biri yang digembalakan orang Cile, sementara cap penanda sudah luntur.

Tabu

Pada Brokeback, homoseksualitas tidak digambarkan secara stereotip, bukan juga orang yang tidak normal, meskipun Ennis dan Jack mengingkari apa yang terjadi di antara mereka. Keesokan pagi setelah malam di tenda, Ennis mengatakan, ”I’m not no queer. (Saya bukan homo).” Jack juga mengatakan, ”Me neither. A one-shot thing. Nobody’s business but ours. (Saya juga bukan. Ini hanya kejadian selintas. Ini urusan kita berdua, bukan orang lain).”

Annie Proulx sebagai penulis cerpen Brokeback Mountain, From Close Range: Wyoming Stories, yang diadaptasi untuk film sepanjang 134 menit oleh Larry McMurtry dan Diana Ossana, sengaja tidak menggunakan kata homo, istilah yang umum saat ini. Proulx, yang pernah mendapat penghargaan Pulitzer, memulai ceritanya dari masa 1963 ketika homoseksualitas masih tabu dibicarakan terbuka hingga 20 tahun kemudian.

Meskipun mengingkari, toh keduanya melakukan hubungan intim itu beberapa kali lagi, bahkan pada siang hari ketika mereka mengira tak ada yang melihat di tempat yang terpencil itu. Ternyata Aguirre menyaksikan dari kejauhan ketika dia datang ke perkemahan keduanya untuk mengabarkan gawatnya sakit paman Jack.

Ketika Aguirre akhirnya memerintahkan kedua koboi itu membawa biri-biri turun dari gunung sebab akan ada badai besar, berakhir pula hubungan keduanya. Ennis mengatakan akan menikahi Alma (Michelle Williams) dan Jack mengejar cita-citanya. Meskipun perpisahan itu datar saja, Ennis tidak dapat menyembunyikan kegalauan hati akibat perpisahan itu.

Keduanya mengira itulah akhir hubungan mereka. Dalam empat tahun selanjutnya, Ennis mendapat dua putri dari Alma. Kehidupan perkawinannya normal saja, sampai datang kartu pos dari Jack. Ennis membalas kartu itu dan Jack yang telah mempunyai satu anak dari pernikahannya dengan Lureen Newsome datang dari Texas. Ternyata, keduanya menyadari mereka tetap tertarik satu sama lain sampai-sampai tak sadar bahwa Alma memergoki keduanya.

Liyan

Film ini mendapat penghargaan Golden Globe sebagai film terbaik dan sutradara terbaik serta mendapat delapan pencalonan Oscar untuk film, sutradara, pemeran utama laki-laki, pemeran pembantu laki-laki dan perempuan, sinematografi, naskah adaptasi, dan musik asli terbaik.

Meskipun telah ada film tentang gay sebelumnya, tetapi melalui film ini bukan hanya penonton mendapat gambaran tentang kehidupan koboi di luar yang digemerlapkan ala iklan rokok Marlboro atau stereotip koboi yang selalu siap menembak musuh. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang cinta antardua manusia yang kebetulan berjenis kelamin sama.
Mereka mengalami kebingungan, pengingkaran pada apa yang oleh masyarakat dianggap menyimpang, tetapi sekaligus mereka tak dapat menolak perasaan mereka. Ada kerinduan, penderitaan ketika harus menahan diri, ada kewajiban pada keluarga, pilihan-pilihan yang tidak mudah.

Meskipun Proulx menuliskan cerita pendeknya dengan latar belakang tahun 1963 dan cerita itu pertama kali terbit tahun 1997 di The New Yorker, cerita ini masih amat relevan dengan masyarakat Amerika saat ini.

Menguatnya perbedaan pandangan antara kelompok konservatif dan liberal mengenai hak seksual di Amerika Serikat, misalnya, muncul dalam pernyataan Presiden George W Bush Juni 2005 dalam Konvensi Southern Baptist bahwa dia akan berjuang sekuat tenaga untuk melarang perkawinan gay (dan aborsi). Brokeback tanpa menggurui dan tanpa provokasi menyelisik ke sisi-sisi kehidupan masyarakat Amerika yang tidak banyak diungkap, kehidupan mereka yang dipandang sebagai liyan (the other).

Uniknya, yang mengungkap persoalan privat di Barat yang dianggap sebagai pusat itu justru Ang Lee, sutradara asal Taiwan. Barat hampir selalu melihat Timur sebagai liyan di dalam film-film mereka. Dan kini, seorang dari yang liyan itu memaknai dan menggambarkan dunia yang pusat.

Meskipun Ang Lee sudah pernah menggambarkan dunia Barat di dalam film garapannya sebelumnya, seperti Sense and Sensibility yang diangkat dari novel Jane Austen, tetapi melalui Brokeback dia masuk langsung ke jantung kehidupan privat si pusat. Siapakah yang menjadi liyan di sini?

Ninuk Mardiana Pambudy
Minggu, 19 Februari 2006

Memaafkan Male Role Model

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh

Yang paling khas dengan perayaan Id’l Fitri atau lebaran di Indonesia yang belum tentu ditemukan di negara (Muslim) lain adalah adanya tradisi saling meminta maaf. Ucapan “Mohon maaf lahir dan bathin” (yang seolah-olah terjemahan dari Minal aidin wal faizin) lebih kerap terdengar daripada ucapan yang kita pelajari dari hadist, “Taabbalallaahu minnaa wa minkum.” Terlepas dari itu semua, pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang ‘memaafkan’ berkaitan dengan permasalahan SSA yang kita miliki.

Dari waktu ke waktu, barangkali banyak dari kita yang merasakan beratnya permasalahan SSA. Rasa sepi, depresi, kekecewaan, kemarahan, hasrat yang tidak (dapat) tersalurkan, hanyalah sebagian dari kondisi umum penyandang SSA.

Jangan berharap kondisi itu akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Jika kondisi tersebut dibiarkan, tidak dikelola dengan seharusnya, disikapi dengan keliru, atau dianggap tidak ada, keadaan bisa tambah buruk. Menganggap permasalahan tidak ada dan akibatnya tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya, merupakan kesalahan yang banyak kita lakukan. Kita terus-menerus berkutat dengan permasalahan yang sama untuk sekian lama. Tentu kita tidak mau menjadi seperti Sysipus dalam mitologi Yunani yang dihukum Zeus harus mendorong batu ke atas bukit dan begitu hampir di puncak batunya menggelinding ke bawah sehingga dia harus mendorong dari awal—demikian berulang-ulang.

Agar kita tidak diam di tempat dan berkutat dengan permasalahan yang sama, tentu kita harus melakukan sesuatu. Dalam permasalahan kita dengan SSA, mau tidak mau kita harus membuka lagi lembaran-lembaran masa kecil kita, saat mana benih-benih SSA tertabur. Bisa jadi lembaran tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup yang dengan sadar atau tidak, tidak kita tengok karena kita tahu akan menyakitkan. Meski begitu, bagaimana pun menyakitkannya, masa kecil itu harus kita buka lagi kalau memang kita ingin move on, tidak berkutat di square one. SSA tidak pernah disebabkan oleh satu faktor, Richard Cohen dari International Healing Foundation mengatakan bahwa munculnya SSA merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor. Faktor-faktor tersebut mulai dari permasalahan dalam rumah sampai permasalahan dari lingkungan. Namun jika ditelusur lebih jauh, ujung-ujungnya masalah tersebut bermuara di terputusnya ikatan emosional (detachment) antara anak laki-laki dengan tokoh panutan laki-laki (male role model), posisi yang umumnya ditempati oleh sosok ayah.

Saya yakin, sampai di sini ada yang mulai keberatan dengan mengatakan, “That’s not my case. Kasusku tidak begitu. Hubungan saya dengan Ayah baik-baik saja. Jadi Ayah bukanlah penyebab saya memiliki SSA.” Baik, sebagian kecil yang berkata demikian barangkali benar; ada faktor dominan lain yang menjadi pemicu timbulnya SSA. Tapi saya khawatir sebagian lagi menyatakan begitu karena sebenarnya ingin kondisinya begitu. Dengan kata lain, mereka yang mengatakan bahwa hubungannya dengan ayahnya baik, pada saat mengatakan hal tersebut secara tidak sadar berupaya menutupi kenyataan yang mungkin menyakitkan. Ingat, merasa sesuatu baik belum berarti sesuatu itu baik. Merasa kita mencintai Ayah, belum tentu kita benar-benar mencintainya.

Dari banyak artikel tentang “penyembuhan” SSA, kerap disinggung tentang apa yang disebut “father wound”—bisa kita terjemahkan sebagai “luka karena ayah” walaupun istilah tsb juga dipakai untuk luka yang disebabkan oleh tokoh lelaki panutan lain kalau memang dominan (katakanlah misalnya kakek, kakak, paman, atau guru). Perlu dipahami, sang Ayah tidak perlu melakukan kekerasan fisik (misalnya memukul) untuk meninggalkan luka di jiwa sang anak. Seorang anak kecil secara naluriah perlu disentuh, dipeluk—dengan tidak memenuhi itu saja sudah cukup untuk menorehkan luka. Sebuah kalimat yang mengandung celaan bagi sang anak cukup tajam untuk melukai. Sebuah candaan dari Ayah yang dimaksud untuk melucu tapi membuat sang anak tak nyaman, pun punya potensi menimbulkan luka.

Nah, kalau hal-hal itu saja bisa menimbulkan luka, apalagi kekerasan fisik.

Dari hal-hal tersebut, timbullah luka. Dan luka ini bukanlah luka di lengan yang bisa sembuh dengan Betadine. Luka ini tertoreh dalam di jiwa sang anak, dan rasa pedih yang ditimbulkannya pun sangat dalam. Luka itu terus menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman dalam perjalanan hidup seseorang hingga remaja dan dewasa.

Luka itu, seiring dengan timbulnya “keterlepasan ikatan emosional dengan ayah”, juga menimbulkan ruang kosong dalam jiwa sang anak—yang kemudian berangkat remaja. “There’s something missing.”—ada sesuatu yang hilang. Manusia dengan sendirinya menoleh pada banyak hal untuk mendapatkan pengisi kekosongan itu. Karena kekosongan itu timbul lantaran tidak terbentuknya ikatan antar-lelaki atau male bonding (putusnya hubungan emosional dengan ayah ini dalam perjalanan hidup kemudian membuat sang anak menemukan dinding pemisah dalam pergaulan dengan sesama lelaki), maka banyak yang “menemukan” pengisi kekosongan itu dari sesama lelaki—secara fisik, secara seksual. Di sinilah benih-benih SSA hidup subur dan berbuah menjadi SSE (same-sex encounters alias perilaku homoseksual) .

Padahal, di sini kita bisa mafhum, homoseksualitas bukanlah solusi dari kekosongan di jiwa kita. Menjadikan aktivitas homoseksual sebagai obat untuk mengatasi permasalahan yang kita miliki tak ubah rasa haus yang diobati dengan air laut—rasa itu akan semakin menjadi. Dorongan homoseksual itu itu hanyalah gejala dari beberapa (atau banyak) hal. Hal ini jauh lebih dalam dari sekadar perilaku seksual. Sumber gejala itu, jika kita membuka hati untuk membedahnya (paling tidak dalam banyak kasus), adalah AYAH.

Banyak para homoseksual dapat mengenali “father wound” mereka, namun mereka gagal menemukan keterkaitan antara luka itu dengan perilaku seksual. Dorongan homoseksualnya sendiri, sebagaimana barangkali banyak dari kita merasakannya, sangat persisten dan nyata. Dan kalau kita tidak waspada, dengan mudahnya kita bisa terpeleset.

Nah, menjelang Id’l Fitr mendatang, di mana kita terbiasa saling bermaafan, adalah moment yang tepat untuk secara ikhlas, sepenuh hati, memaafkan ayah (atau tokoh panutan lain) yang mungkin pernah meninggalkan luka di jiwa kita. Tidak perlu mengkonfrontir (kecuali dalam hal seseorang pernah melakukan abuse). Yang perlu kita sadari adalah bahwa kita yakin ayah kita tidak dengan sengaja menorehkan luka itu di diri kita. Kebanyakan ayah adalah orang tua tradisonal, orang tua dengan ilmu turun-temurun. Maksudnya, mereka tidak pernah secara formal belajar bagaimana menjadi orang tua. Mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka perbuat terhadap anaknya bisa menimbulkan luka yang harus ditanggung sang anak sepanjang hayat. Ayah yang pernah menimbulkan luka pada diri anaknya besar kemungkinan karena ia melakukan apa yang dilakukan ayahnya (kakek kita) dulu. Ia hanya mencontoh, karena sepengetahuannya, demikianlah menjadi ayah. Demikian juga dengan kakek kita, mungkin cara itulah yang dia terima dari orang tuanya (buyut kita). Nah, kitalah generasi yang diberi amanah untuk memutus lingkaran setan itu. Mari kita maafkan ‘kekhilafan’ ayah kita, ikhlaskan dengan sepenuh hati, dan pasrahkan semuanya pada Sang Pencipta.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rasa lapang dan damai di hati kita.

Amiin.



CATATAN:
Seorang kawan di Inggris akan mengirimkan buku “Forgiveness is A Choice”. Tadinya saya akan menunggu buku itu sebelum menulis posting di atas. Tapi karena katanya buku itu kemungkinan sampai setelah Id’l Fitr, maka saya tulis seadanya spt di atas. Insya Allah, jika buku yang dimaksud saya terima dan ada hal-hal yang layak di-share, akan saya tulis di sini.



Wassalaam,



Alif

Minggu, 05 Juli 2009

Kisah absurd seekor babi

Ada dua pemikat novel Lanang seandainya disandingkan dengan novel lain di rak buku. Pertama adalah embel-embel sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006.

Lanang menyabet juara harapan kedua. Satu peringkat di bawah novel Glonggong karya Junaedi Setiyono, yang lebih dulu beredar. Glonggong cukup manis mengolah sejumput kisah lain di masa perang Diponegoro.

Pemikat kedua adalah sinopsis di sampul belakang. Alkisah, sejak kemunculan makhluk rekayasa genetika antara burung dan babi hutan, penyakit aneh membantai ribuan sapi perah di area peternakan tempat Lanang bekerja.

Bersama pemerintah dan masyarakat, dokter hewan Lanang sibuk mencari tahu biang kerok penyakit aneh itu. Seminar dan penelitian dibuat, tapi penyakit misterius tersebut tak kunjung ketemu. Dukun hewan Rajikun yang menyatakan biang keladinya adalah burung babi hutan — makhluk jadi-jadian —memperkeruh situasi.

Pergulatan antara mistikisme tradisional melawan bioteknologi modern menjanjikan ramuan fiksi sains bercita rasa Indonesia. Harapan langsung terbit, Lanang akan menyajikan tema fiksi yang masih langka di Indonesia: fiksi ilmiah. Terbayang novel ini bakal sarat dengan dialog-dialog ilmiah yang cerdas, tajam, dan lincah.

Tapi, nyatanya, setelah bersusah- payah mengunyah membaca novel ini sampai akhir, harapan tinggal harapan. Mulanya Lanang melangkah lumayan cepat. Cikal bakal ketegangan muncul di awal dengan gelombang kematian ternak sapi. Lalu datang pula makhluk babi bersayap.

Namun semakin jauh ke dalam, langkah Lanang mulai kedodoran. Ceritanya seolah tak bergerak ke mana-mana. Fokusnya juga buyar. Alur ceritanya silang sengkarut antara pencarian si babi, perdebatan, persenggamaan, perselingkuhan, senggama lagi, monolog, dan selingkuh lagi.

Kegemaran Yonathan —yang juga seorang dokter hewan —berpuisi membanjiri keseluruhan isi novel. Sepertinya ia tidak rela melewatkan satu halaman pun tanpa berpuisi. Walhasil, tak berapa lama membaca sepak terjang Lanang, jemu mulai menyergap.

Bukan cuma itu, gara-gara taburan kata-kata indah, emosi tokoh yang hendak disampaikan ke pembaca menjadi buyar. Begitu pula saat pengarangnya hendak membangun suasana melalui deskripsi, sering gagal karena tertutup untaian kalimat panjang nan manis.

Coba saja simak gambaran emosi Lanang kala dituding sebagai penyebab kematian sapi-sapi itu :

Halilintar menyambar-nyambar di tengah siang hari bolong.

Lanang diserbu panah berapi dari segala penjuru para rekan, peternak, dan ahli kesehatan hewan.

Atap gedung serasa runtuh. Lanang membara. Auranya merah mengeluarkan asap mengepul.

Mata Lanang membelalak penuh amarah, bagai mengeluarkan api bara panas berwarna merah kekuningan. Bahkan naga liangliong yang berarak pada setiap Hari Raya Imlek tak bisa menandingi. Kalau naga-naga kertas itu disandingkan dengan naga yang tersirat dari perangai murka Lanang saat tu, pasti akan hangus terbakar. Dan jadi abu.

Hitam.

Luruh.

Indah sekali. Tapi sayang, kemarahan sang tokoh yang harusnya lebih meledak-ledak dan manusiawi, menjadi sangat santun dan cantik.

Tiada yang salah dengan karya yang puitis. Asal tidak berlebihan. Contoh yang cukup berhasil barangkali serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Ungkapan- ungkapan puitis kuno tidak mengaburkan jalannya cerita. Simak saja:

Duka membayang di kaki langit, duka sekali lagi membungkus Majapahit.

Ada banyak hal yang dicatat Pancaksara, banyak sekali. Kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu, yang ditulisnya berdasar kisah yang dituturkan ayahnya, Samenaka.

Tema sains di novel ini pun seolah hanya mendapat peran pembantu di tengah dominasi drama hidup anak manusia. Perdebatanperdebatan ilmiah antara tokohtokohnya kurang imajinatif dan lincah. Apalagi setelah dikotori dengan sisipan puisi-puisi panjang.

Jauh lebih menarik sahut-menyahut antara tokoh Tennant dengan superkomputer Trinity dalam novel The Footprints of God karya Greg Iles. Mereka berdebat dengan jernih mengenai teknologi, ketuhanan, dan masa depan manusia.

“Apakah kemudian kesadaran akan mati ?” Kata komputer.

“Dorongan terkuat dari segala entitas yang hidup akan selamat.”

“Bagaimana mungkin kesadaran bertahan dalam keadaan semacam itu?”

Ini adalah konsep yang sulit, saat di mana sang ular harus menelan ekornya sendiri sampai akhirnya tubuh dalamnya menjadi di luar.

“Dengan berpindah keluar dari medium yang mati. Berpindah keluar dari zat dan energi. Keluar dari ruang dan waktu.”

Jalan cerita novel ini juga sederhana saja. Tidak ada jalan berliku, tanjakan, turunan, minim ketegangan, dan penutup kisahnya pun tidak mengentak. Mestinya, ketimbang bermain dengan kata-kata, lebih baik pengarangnya memperkuat alur cerita supaya lebih mengesankan.

Begitupun buku ini tentu mempunyai nilai-nilai baik. Misalnya isu yang diangkat sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang. Tarik menarik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif, hubungan suami-istri, kesetiaan, serta isu lingkungan. EFRI RITONGA