Minggu, 28 Juni 2009

10 Fakta Tentangku

Seorang Mario (klik disini) memilih ku untuk mengungkapkan 10 fakta, setelah mengungkapkan 10 fakta menarik tentang dirinya(klik disini).

Seorang Gugun sempat berfikir dua kali dua sama dengan empat, saat ditantangin untuk membeberkan 10 fakta yang belum banyak di ketahui orang-orang. Wah, gimana nih? Pikir punya pikir, akhirnya ngalah juga. Ya sudahlah, walaupun aku membocorkan 10 fakta, toh aku masih punya 990 fakta lagi.. Keh.. keh.. keh..




Hiji-Ciek
"Gugun" is just my nick name
Tak banyak yang (mau) tahu nama asliku. Hehehe.. Seorang teman pernah bertanya, gugun itu siapa? Gugun hanyalah nama karangan. Aku pengen punya nama yang sederhana dan gampang di ingat di dunia maya. Asyik rasanya punya nama yang kita karang sendiri, lalu ngetop karenanya. He3x. Meskipun begitu, hal ini tidak mengurangi rasa hormat pada nama yang telah diberikan orang tua. Lalu nama saya yang sebenarnya siapa? Ask me! :-)



Dua'-Duo
Ibu meninggal karena ulah ku (?)
Aku masih segede termos saat ibu meninggal. Bisik-bisik yang pernah aku dengar, ibu yang saat itu mengandung 8 bulan, terjatuh di kamar mandi, gara-gara aku. Kata mereka, aku meronta-ronta saat hendak dimandikan, lalu beliau terpeleset, jatuh dan mengalami pendarahan hebat. Bayinya (adikku) menyusul ibu beberapa jam kemudian .... Bertahun-tahun sejak kejadian itu aku selalu dihantui rasa bersalah yang nggak jelas......... bahkan sampai sekarang.



Tilu-Tigo

Pernah memelihara kecoak

Aku dan abang, sebelum kami mengecap bangku sekolah (duh.. ternyata
bangku sekolah itu pahit ya, huek!), hobi sekali memancing. Bukan cacing yang kami jadikan umpan, karena aku akan berteriak-teriak kesetanan bila melihat makhluk bulat panjang dan berlendir itu. Kami memakai kecoak yang dipotong kecil-kecil. Kecoak-kecoak yang aku pelihara sendiri di sebuah aquarium bekas yang sudah bocor. Jijik? Nggak lah, malah asyik!

FYI
, saat ini aku sudah tidak takut lagi dengan makhluk bulat panjang dan berlendir itu.. ;-)


Opat-Ampek
Guru agama, si pencubit pusar
Waktu SD (yap! aku pernah SD), pelajaran agama bukanlah pelajaran favorit bagiku. Jujur, aku tidak begitu suka dengan sang guru. Wanita paruh baya berselendang panjang renda-renda itu sering membentak kami yang tak pernah bisa diam, selalu ngobrol saat dia mengajar. Teriakan beliau, seperti kaleng yang di lempar batu. Keras sekali. Alih-alih diam, aku malah tertawa-tawa. Bu guru menghampiri lalu mencubit pusarku. Aku makin tertawa-tawa kegelian. Bu guru mengusirku pulang dan baru boleh sekolah lagi kalau aku datang dengan orang tua. :-(



Lima-Limo
Cinta pertama di SMA

Pengen tau cinta pertamaku? Teman sekelas di SMA ! Telat banget yah?
Cinta pada seorang jago gambar yang pendiam. Tapi entah kenapa, dengan aku, dia bisa sangat bersemangat menceritakan gambar-gambar (komik sederhana) yang baru saja dibuatnya. Aku tergila-gila, bahkan hampir gila benaran. Setiap pulang sekolah, kami selalu melaju berdua di skuter merah. Aku pernah dihadiahi karikatur wajahnya yang kemudian ku simpan di saku baju, dekat jantungku. Tapi gambar itu aku robek kecil-kecil, lalu ku buang ke sungai di belakang sekolah, ketika aku tahu dia berpacaran dengan Wati, anak ibu kantin.



Genep-Anam
Terlalu mudah jatuh cinta
Mengapa ada orang yang terlalu mudah jatuh cinta? Pertanyaan untuk diriku sendiri. Dan sering kali cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Merana oh merana. Tapi itulah fakta. Hanya karena kebaikan hati, kehalusan budi dan keramahan pekerti, aku sudah merasa ingin memiliki (cintanya). Lalu aku akan termehek-mehek ketika doi dengan halus maupun kasar menolakku (masak jeruk makan jeruk?). Hiks.. hiks.. hiks...


Tujuh-Tujuah
Kebiasan jelekku; delete contacs
Aku selalu berfikir, buat apa punya banyak contact di multiply (bahkan ada yang sampai ratusan) tapi tak pernah benar-benar melakukan kontak (sekedar memberi komen atau PM). Tak mengapa punya sedikit, asal benar-benar bisa jadi teman (online buddy, sekalipun). Nah, akibat pikiran yang mungkin banyak orang tidak sependapat ini, aku sering menghapus contact-contac di multiply, karena alasan sudah tak respon lagi atau tak sepaham (duh). Delete sana, delete sini... oppsss sorry pisan...


Dalapan-Dalapan
Semakin dilarang, semakin dilakukan
Pemberontak, itu gelar yang diberikan saudara-saudaraku. Mereka yang tahu, tak akan pernah melarang apapun yang mereka ingin aku tak melakukannya. Semakin aku dilarang melakukan sesuatu, semakin aku melakukannya. Pernah suatu waktu (kira-kira umur 13 tahun), abang mengancamku untuk tidak menggunakan pensil warna miliknya. Bukannya menta'ati, aku malah merebut pensil itu darinya, beberapa bahkan patah terinjak-injak oleh ku. Abang menangis sesegukan. Aku tidak tega melihatnya. Ayah yang kebetulan melihat kejadian itu hanya diam, memijit-mijit kepalanya. Keesokan harinya, aku memecahkan celengan ayam milikku, membelikan abang pensil warna yang baru. Kebiasaan buruk ini kadang masih muncul sesekali, di usiaku yang sudah tidak imut lagi ini... :-)


Salapan-Sambilan
Hidung sensitif,
lambung melankolis
Cara mudah membunuhku : Pertama, hembuskan saja asap rokok tepat di hidungku. Aku akan kelagapan kehabisan napas! Sumpah, aku tidak tahan asap (rokok). Semua oksigen di paru-paru dan pembuluh darahku serasa tersedot dan terikat pada CO2 yang terkandung dalam asap (rokok), yang membuat aku seperti ikan dikeluarkan dari air. Kedua, tambahkan sambel (cabe) dalam makananku. Aku akan diare selama berhari-hari, lalu dehidrasi dan lemas. Pada mulanya teman-temanku terbahak mendengarkannya, bagaimana mungkin gugun yang masih ada 'hubungan darah' dengan Siti Nurbaya (ayah padang, ibu sukabumi) ini nggak bisa makan sambel (cabe). Tapi setelah mereka membesuk saat aku di rumah sakit akibat diare 3 hari 3 malam, tak satupun dari mereka berani tertawa.



Sapuluh-Sapuluah
Belajar renang saat sudah
kepala 3!
Mungkin ada yang tidak percaya, termasuk aku, belajar berenang bisa dimulai di usia berapun. Mulai dari brojol dari perut ibu, hingga tua renta sekalipun!
Bermula dari olok-olok teman kost, karena aku tidak bisa berenang, aku berusaha keras untuk bisa. Awal-awal belajar, hampir setiap pekan aku menyeburkan diri di kolam. Aku masih ingat jelas, kolam renang wisma duta berlian, kampus ipb darmaga, jadi saksinya. Aku merelakan kulitku menghitam, rambutku kasar bak paku (karena kaporit) dan mata merah bak pemabuk. Harga yang harus aku bayar untuk tidak lagi di olok-olok. Dan aku akhirnya bisa berenang! Mau bukti?? (hehehehe)

Cukup sekian dulu sodara-sodara. Entah penting, entah tidak. Terima saja 10 fakta ini dengan lapang dada.. (halah).

Tidak ada komentar: