Minggu, 28 Juni 2009

Bakti, Ada Apa?

Saya akhirnya menelpon Bakti. Hape saya setting supaya nomor saya tak muncul. Dering pertama tak diangkat, dering keduapun tak diangkat. Hmm.. Benar nggak sih ini no Bakti. Pas dering ke tiga terdengar suara perempuan muda mengucapkan salam. Ha? Loh, kok perempuan? Udah gitu di belakang suaranya ada suara anak kecil nangis. Saya mencoba tetap tenang dan membalas salam si perempuan : "Maaf mba, teh, ibu.. bisa bicara dengan Pak Bakti?". " Ini siapa?". "Gugun.." Lalu perempuan itu berteriak.. "KAK BAKTIIIIIIIII, TELPOOOOOOOOON"

Saya menarik napas. "Hallo?.." "Kak Bakti?". "Maaf. Ini siapa?". "Saya gugun, kita pernah...". "Oh Gun. Hai, apa kabar? Kok baru nelpon sekarang? Hm... nomor hapenya disembunyikan yah? Hehehe". "Eh, anu.. egnhh..". Bla.. bla.. bla.. bla..

Sekitar 20 menitan saya ngobrol dengan Bakti. Rupanya dia tinggal bersama ibu, adik perempuan dan seorang ponakan laki-laki. Bakti mengajak saya untuk bertemu sore itu di Gramed Pajajaran sekalian nyari buku untuk ponakannya. Saya mengiyakan dan kamipun bertemu di Gramed 1 jam kemudian.

Bakti memakai kaos oblong warna abu-abu, jeans biru dan topi baseball. Jambang dan dagunya ditumbuhi rambut tipis. Agak pangling melihat Bakti dengan penampilan seperti itu. Berbeda dengan Bakti saat kami bertemu di kereta. Bakti menggandeng bocah laki-laki gendut yang lucu yang kemudian saya ketahui bernama Daya.

Di toko buku, Daya, bocah 5 tahun, tak henti-henti berlari dari satu rak buku ke rak buku yang lain. Sedangkan saya tak henti-henti melirik ke arah Bakti. Ia memergoki saya lalu tersenyum. Ketika sedang asyik memilih-milih buku, Bakti melihat ke arah seseorang yang sedang membaca buku di rak. Wajahnya berubah. Ia memintaku untuk mengajak Daya ke mobil dan dengan terburu-buru segera membayar buku yang telah dipilih. Saya menuntun tangan Daya. Tapi bocah itu menolak dan berlari ke arah Bakti.

Kami pulang tanpa bicara. Bakti berniat mengantarkan saya sampai rumah. Tapi saya menolak dengan halus karena Daya mulai merengek dan ingin segera pulang. Saya turun di pertigaan menuju rumah. Bakti tersenyum ... "Nanti saya telpon.. " janjinya.

Di rumah, saya bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira ada apa ya dengan Bakti? Loh? Kok saya jadi memikirkannya?

Baranangsiang Bogor, 1/11/08.

Tidak ada komentar: