Minggu, 28 Juni 2009

Berdamai Dengan Rasa Sakit

Beranikah kita menghadapi rasa sedih? Sedih karena seseorang yang kita sayangi kecelakaan. Sejak tabrakan tahun 2007 lalu, kau harus di opname dan berbulan-bulan terbaring lemah di tempat tidur. Aku langsung ke Bandung sehari setelah kecelakaan itu. Walau tak diijinkan masuk ke unit gawat darurat, tapi cerita adik perempuanmu membuatku terduduk lemas.

Mengapa kita lari dari rasa pedih? Pedih melihat mu meneteskan air mata, pertanda rasa sakit yang amat sangat. Dan merelakan tubuhmu di tusuk obat bius berulang-ulang. Aku menyentuh telapak tangan mu, mendekat dan berbisik ke telinga mu, “Cepat sembuh ya”. Tenggorokanku terasa sakit mengucapkan tiga kata itu.

Kenapa kita harus mengingkari bahwa kita memang terluka? Terluka melihat rahang itu menyisakan tulang menonjol, lengan kokoh itu sobek dan dada bidang itu lebam membiru. Dan setiap membesukmu, bau obat pereda rasa sakit itu membuatku mual.

Aku pernah mengingkari kalau aku sedih, pedih dan terluka. Mengapa aku jadi pengecut seperti itu?. Rasa itu tidak akan hilang, sampai aku menghadapi dan berdamai dengannya. Kenapa orang mau menelan obat yang pahit? Karena ia tahu akan sembuh karenanya. Hari ini aku datangi gundukan tanah merahmu. Bacaan Al Fateha dan doa bergetar dari bibirku. Walau semua tak sama lagi, setidaknya aku telah berdamai dengan rasa sakit itu. Aku mengakui dan aku menerimanya.

Selamat jalan sahabat...
Bandung
, 2 Agustus 2008Untuk Kerang, terima kasih karena telah membuatku kuat.

Tidak ada komentar: