Minggu, 28 Juni 2009

Ibu Tak Pernah Meninggal

Bogor, 27 April 2008. Pukul 3 pagi..
Aku terbangun. Tak biasanya aku bangun pagi sekali di hari minggu. Aku bahkan terbangun sebelum ayam tetangga berkokok pertama kali..

Ibu membangunkan ku dengan hembusan udara dingin, tepat di kuping kiriku. "Gun.. banguuun" bisiknya. Ternyata Ibu tidak pernah meninggal. Ia masih ada, dan pagi ini ia membangunkan ku..

----------------------------------------------------
Aku masih segede termos ketika nenek memberi tahu bahwa ibu telah meninggal waktu melahirkan adikku. Anak umur satu tahun sepertiku tak bisa mengingat dengan jelas kejadian itu. Yang aku tahu di rumah panggung kami sangat banyak tamu. Aku melihat Ibu ditidurkan di ruang tengah dan diselimuti kain putih. Dan entah kenapa aku berlari-lari di lantai kayu rumah tersebut. Nenek dengan sigap meraih tanganku dan memeluk erat. Aku meronta-ronta. Hanya itu yang ku ingat.

Lalu, lagi-lagi kata nenek, Ibu kemudian mengajak adik kandungku yang baru dilahirkan seminggu. Mereka dimasukkan dalam satu lubang di dalam tanah yang akhirnya ku ketahui sebagai liang lahat. Ibu ingin ditemani, kata nenek. Lalu aku bertanya, "Nek, aku boleh menemani ibu tidak?". Mata nenek berkaca-kaca. "Kamu masih kecil, kamu belum bisa mengerti". " Adik juga masih kecil, kenapa ia boleh menemani ibu? Kenapa aku tidak?". Nenek diam saja. Dia hanya memelukku, membenamkan wajahnya di tubuh mungilku. Bajuku basah oleh air matanya...

Sejak itu aku tak pernah lagi bertanya soal ibu. Aku tak mau membuat nenek terdiam, memelukku dan bajuku jadi basah oleh air matanya.

Lama setelah kejadian di rumah panggung itu, aku masih berfikir ibu hanya pergi sebentar mengajak adikku jalan-jalan. Mereka pasti akan kembali pikirku. Aku hanya perlu bersabar. Dan pagi ini ibu kembali, ia membangunkan ku..

Tidak ada komentar: