Minggu, 28 Juni 2009

Juru Damai Cilikku

Mudik ke sukabumi, walau tak terlalu jauh dari bogor, bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Terjebak macet dan naik kendaraan umum yang padat pula. Sebenarnya si teteh sudah mengingatkan untuk pulang lebih awal, dengan nyinyir. Tapi dasar si gugun, bila disuruh - dilanggar, bila dilarang malah dilakukan. Bahkan tawaran untuk pulang barengpun pun ku tolak, alhasil si teteh langsung cemberut.

Hmmm... sebenarnya ada alasan khusus kenapa saya lebih suka pulang saat malam takbiran. Pertama, malam hari udara terasa lebih nyaman dan udah nggak puasa. Kapanpun lapar bin haus menyerang, tinggal lep dan glek saja!. Sedangkan kalau siang hari, sudah kebayang lah lemesnya.... ;-). Kedua, pulang disaat orang-orang mengumandangkan takbir dan tahmid terasa lebih syahdu. Halah! Nggak juga sih (jujur), sebenarnya lebih karena males di ceramahi sodara-sodara kalau sudah di rumah. Makin awal aku pulang, tentu makin lama masa ceramah itu akan berlangsung. Apalagi kalau bukan soal, kenapa jarang nelpon, kok jarang nengok, sibuk amat sih, udah kaya belum, udah naik pangkat belum atau kapan mau berkembang biak (a.k.a. kawin). Kuping sampai tebal. Udah gitu yang ceramah berganti-ganti. Berjam-jam!

Btw, sejak awal si teteh udah mulai kelihatan bertanduk. Tawaran pulang bareng, ku tolak. Udah gitu, saat aku nyampe rumah sukabumi, udah malam banget, sampai-sampai si teteh tertidur di depan tipi, nungguin. Makin bertanduk aja dia. Ngerasa bersalah juga sih, tapi siapa juga yang nyuruh nungguin.

Selesai sholat id, si teteh mulai menunjukkan gejala-gejala mau meledak. Kali ini (lagi-lagi) aku menolak saat dia ngajak keliling-keliling ke tetangga. Padahal khan abis sholat di lapangan kita semua udah pada salaman ama tetangga. Ngapain pula muter-muter dan salaman lagi. Tapi si teteh keukeuh sumeukeh untuk ngajak keliling, tapi aku ngotot bin ngeyel nggak mau. Mukanya jadi merah padam.

Aku merasa, sejak ayah nggak ada (lagi-lagi soal ayah), si teteh jadi sok ngatur ini itu. Padahal dia khan tau, adiknya ini juga sudah tak muda lagi (huwaaaaaaaaa), alias sudah dewasa, sudah bisa ngatur diri sendiri. Sepulang dari tetangga (dengan sodara-sodaraku yang lain), si teteh mulai menabuh genderang perang :

"Kamu sekarang gak bisa dibilangin"
"Maksud teteh?
"Ya.. setiap di kasih tau, gak nurut. Di ajak ini itu nggak mau"
"Tergantung .."
"Apa?"
"Abis nyuruhnya kaya' gitu"
"Kaya' gimana?"
"Saya gak bisa, nggak suka. Udah gitu sekarang teteh beda"
"Beda?"
"Banyak ngatur. Nggak kaya dulu"
"Trus kamu udah nggak mau di atur?
"Nggak gitu juga"
"Trus?"
"Saya khan udah gede. Berasa kaya' anak-anak tau, di atur mulu"
"Kamu yakin udah bisa ngurus diri kamu sendiri? Kerja kamu masih aja yang itu-itu. Kamu masih kost. Belum kawin-kawin?"
"Teh, udah?"
"Kamu nggak lihat orang-orang? Hidup itu maju. Nggak statis kaya' kamu"
"Teh! Udah!"
"Liat sepupumu, si Odit. Udah punya rumah, mobil, istri, anak."
"Teteh! Udah! Kenapa harus dibanding-bandingkan kaya' gitu?"
"Aku malu, gun. Aku malu ama almarhum ayah dan ibu kita, malu ama tetangga. Orang-orang ngomongin kamu"
"Ok, kalau teteh malu. Saya balik ke Bogor sekarang. Saya minta maaf udah bikin teteh malu. Tapi saya nggak mau di samakan dengan orang lain. Tiap orang beda. Rejekipun beda"
"Terserah kamu" mata teteh memerah.

Aku segera mengemasi ransel satu-satunya yang ku bawa kemaren. Masih dengan baju koko, bergegas memakai sepatu. Ternyata sejak tadi, tanpa kami sadari, Luki dan Putri, dua ponakan cilik ku (putra-putri teteh) memperhatikan saat kami bertengkar. Mereka lari memelukku.

"Om gun mau kemana?"
"Om mau ke Bogor, sayang" suaraku parau
"Khan kita belum ke pelabuhan latu. Kalau om pelgi siapa yang ngajalin belenang"
"Iya om, nanti nggak ada yang mau ngupasin kulit udang trus bacain buku cerita kaya' dulu.."

Aku melihat kedalam mata Luki dan Putri. Mata anak-anak yang lugu tapi tulus. Lalu Putri mengencangkan pelukannya. Dadaku sesak. Luki menarik-narik ranselku.

"Om di sini aja"

Aku terdiam. Si teteh menghampiri, merangkul luki, putri dan aku sekaligus.

"Om Gun pasti ikut kita ke Pelabuhan Ratu. Ngupasin kulit udang dan bacain buku cerita. Iya khan Om?"

Teteh tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutku... dan kamipun berdamai.

*hapunteun teh*

Tidak ada komentar: