Minggu, 28 Juni 2009

Kekasih Dalam hati (3)

Tak pernah aku sangka sebelumnya, bahwa nenek tak benar-benar mencintai kakek. Hingga beranak bercucupun, bahkan sampai kakek meninggal. Aku sedih mendengarnya. Bagaimana mungkin nenek mau mengorbankan perasaannya begitu lama untuk seorang lelaki lebih tua yang dijodohkan keluarganya? Bagaimana ia mampu memendam rasa cintanya pada temannya di sekolah rakyat dulu. Lebih tak percaya lagi, nenek mau menjenguk (menziarahi) keduanya, karena orang yang begitu dicintainya di makamkan di pekuburan yang sama dengan kakek. Aku pernah bercanda, "Kok mirip sinetron nek?. Nenek hanya diam. Sejak itu aku tak pernah mempertanyakan lagi kebenaran cerita itu.

Pada awalnya aku pernah berfikir nenek telah mengkhianati kakekku. Menyimpan cinta lelaki lain tapi hidup tanpa cinta sepenuhnya dengan suami yang sah. Perlu waktu yang lama untuk bisa memahami jalan pikiran beliau, hingga suatu waktu beliau pernah berkata : Aku tak benar-benar mencintai kakekmu, tapi telah berjanji untuk menjaga rumah tanggaku. Biarlah ia (teman semasa sekolah rakyat itu) jadi Kekasih (dalam) Hati saja...

Aku menceritakan hal tentang nenekku ini ke Boby. Aku tak diijinkan untuk memanggilnya ustad lagi. Ia berfikir sebentar, lalu berkata :

"Apa aku seperti kakek-kakek wahai wanita tua?"

Lalu ia tertawa lebar, meraih bahuku, menelikung dan membantingku ke lantai.
Dasar! Entah kapan aku bisa ajak dia ngomong serius...
:-(

Parung, 15/10/08. 06.30 wib

Tidak ada komentar: