Minggu, 28 Juni 2009

Kenapa Takut Dibilang Banci?

Saya lahir di lingkungan yang sangat membedakan laki-laki dan perempuan dalam hal-hal yang kadang “tidak masuk akal”. Terus terang saya memang gampang sakit bila kehujanan. Karena itu nenek selalu membekali saya dengan payung kesayangannya. Sebuah payung panjang warna hitam. Di sekolah, beberapa teman mengolok-olok. Mereka merebut payung tersebut lalu saat saya ingin merebutnya kembali, payung tersebut dioper ke teman yang lain sambil mereka tertawa-tawa. Saya menangis, bu guru menasehati. “Jangan cengeng, temanmu khan hanya bercanda..”

Di lain hari saya jadi bahan cemoohan sepupu-pupu karena cara berpakaian. Nenek mendandani saya dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan yang disetrika licin. Rambut diminyaki dan tersisir rapi. Nenek bilang kita memang seharusnya rapi, biar dihormati. Tapi sepupu-sepupu malah mengacak-ngacak rambut dan menarik keluar kemeja saya hingga terlepas. Lagi-lagi saya menangis, bibi dan paman hanya geleng-geleng kepala…

Karena tak punya pembantu, saya selalu membantu nenek mencuci piring, membersihkan rumah dan halaman. Pernah ibu-ibu tetangga memergoki saya sedang mencuci piring. Mereka berbisik-bisik, tapi tetap saja saya bisa mendengarnya; "Anak laki-laki cuci piring??? Sekalian aja pake rok.. hahahaha"

Kebiasaan membawa payung, menangis, berpakaian rapi dan membantu nenek cuci piring itulah yang pernah membuat saya dibilang banci. Waktu itu saya sangat marah, malu dan tertekan.

Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Bukan berarti saya memang sudah jadi banci benaran. Bukan ! Saya sekarang jauh berbeda dengan saya belasan tahun dulu. Saya masih tetap membawa payung kemana-mana (tentunya yang berukuran kecil dan muat dalam tas), secara Bogor khan kota hujan. Saya masih menangis (diam-diam) bila kangen dengan ibu yang telah meninggal. Saya masih berpakaian rapi (sewajarnya laki-laki), karena berpenampilan rapi bertanda kita menghargai orang lain. Dan sampai kapanpun saya akan tetap mencuci piring (terutama untuk nenek saya yang sudah renta). Tak ada satupun kebiasaan itu akan saya rubah..

Bedanya adalah, saya tidak lagi marah, tertekan atau malu bila ada yang bilang saya banci hanya karena saya bawa payung, menangis, atau mencuci piring. Hanya karena alasan yang “tak masuk akal”.

Bogor, 23 Maret 2009. 16.35

Tidak ada komentar: