Minggu, 28 Juni 2009

Ku Mohon Tepati Janji Mu

Tuhan Sang Pemberi Hidup,
Saat belum genap berumur 1 tahun, KAU ambil ibu dan adikku
Tapi KAU berikan nenek yang sabar untuk mendidik, dan
Ayah yang disiplin untuk menguatkanku (?)

Setelah dewasa, kau hadiahi aku rasa kasih dan sayang
Namun, entah kenapa aku lebih tertarik Jaka daripada Dara
Ku tahu KAU murka, tapi aku telah mencoba
Sekuat yang aku bisa, setiap goda datang menyamar cinta

Tuhan Sang Pemberi Maaf,
Dalam sujud di lima waktu, kubasahi sajadah dengan air mata
Iri melihat Deni dan Dewi, punya keluarga sakinah dan si imut Shinta
Sedih bila membayangkan diri akan mati dalam sepi
Tapi kenapa bayangan Boby masih saja menghantui?
Tiap ku tahan, ia muncul makin menggila
Aku bangkit, terseok, terbanting, terseret, bangkit, terjatuh lagi dan berdarah-darah

Tuhanku, Kenapa cobaan ini terasa sangat berat?
Bagaimana aku tahu, bahwa ini semua masih dalam batas kekuatan ku?
Bagaimana aku bisa bertahan menghadapi godaan silih berganti?
Engkau berjanji tidak akan menguji seorang hamba, melebihi batas kemampuannya.
Ku mohon tepati janji MU

Bogor, 21 Juli 2008. Pukul 21.22 wib

Tidak ada komentar: