Minggu, 28 Juni 2009

Memandikan Ayah

Sebuah sms dari kakak perempuanku jum'at lalu sangat singkat : CARI TIKET PLG. JENGUK AYAH QT

Awalnya tak sedikitpun air mata menetes saat memeluk ayah. Lama aku ciumi wajah beraroma tembakau itu. Ponakan ku Luki bertanya, Om nggak nangis? Om nggak sayang kakek? Aku memeluk Luki, membisikkan ke kuping kecilnya, Om sayang kakek (ayahku). Aku tahan-tahan, tapi air itu akhirnnya tumpah juga ke pipi si kecil Luki...

Paru-paru ayah bolong-bolong akibat kebiasaan yang tak pernah bisa kami larang. Pernah suatu hari kami menyembunyikan rokok nya, ketika tak berhasil mendapatkan, ia pergi membeli benda kesayangan itu sendiri ke warung, padahal saat itu sedang sakit dan hujan deras....

Aku masih memeluk ayah ketika abang menarik tubuhku menjauh. Kamu istirahat dulu, katanya. Nanti bantu saya memandikan ayah... Aku terduduk di sudut ruangan, menatap kosong lelaki yang dulu sangat tegas dalam mendidik kami, sekarang terbaring kaku, lelaki yang telah menitipkan sebagian dirinya dalam diriku.... yang sebagian lagi dari ibu...

Ayah telah memandikan aku berkali-kali, mungkin puluhan atau ratusan kali .. sejak aku kecil... Sedangkan aku baru sekarang bisa memandikan beliau..... dan untuk yang terakhir kali. Kalau dulu aku selalu menciprat-cipratkan air ke wajah ayah saat mandi.... aku sempat berfikir ayah tak jadi pergi dan mencipratkan air ke wajahku.. tapi itu tidak terjadi...

Aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini, aku khawatir keyboard ini akan rusak, mataku basah terus menerus...

Aku cuma ingin ayah tahu, aku sangat mencintainya...

Tidak ada komentar: