Minggu, 28 Juni 2009

Sebelum Ayah Pergi : Kapan kawin?

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama tanpa kedua orang tua. Kalau tahun-tahun sebelumnya masih ada ayah yang nanya saat aku tak segera kumpul dengan saudara. Ayah juga sering nanya kapan aku akan meneruskan garis keturunan keluarga. Namun pertanyaan ayah jauh lebih sopan daripada si uda dan si aa yang pernah ngomong :

“Kawin, gun! Punya pedang hanya untuk pipis doang !”

Arrrrggghhh, sadis benar mereka! Tapi itu fakta, apa mau dikata?!

Tahun ini ayah tak ada lagi. Kami kakak beradik telah yatim piatu. Entahlah, apakah aku harus merasa sedih dengan predikat itu ataukah berusaha tetap tegar seperti Rossa. Hai Teh Ross, kumaha damang? He3x (sok-kenal.com)

Berminggu-minggu yang lalu, saat masih terbaring lemah di tempat tidur karena penyakit paru-paru dan darah tinggi, ayah sempat gobrol dengan aku, diselang- selingi batuk berkali-kali. Ngobrol, hal yang sangat jarang kami lakukan ketika beliau masih sehat.

“Si Rida bilang, kamu sudah punya calon?”, ayah memancing
“Calon apa, yah? Calon legislatif? Gun kan nggak tertarik politik” elakku
“Siapa namanya, Gun?”
“Hmmm.. belum ada”
“Tak perlulah berahasia dengan ayahmu sendiri”
“Nggak ada. Siapa yang ngomong?”
“Tadi khan sudah ku bilang, Si Rida, kakak mu itu”
“Teh Rida becanda kaliii, yah”
“Mana mungkin dia membohongi ayah?”
“Dia sih nggak bohong, dia becanda” tekanku
“Gun..” ayah terbatuk berkali kali, membuang dahak di wadah plastik.
“Ya, yah.. “, aku membantu mengelap bibir beliau.
“Gadis seperti apa yang kau suka?”
“Yang seperti IBU!” jawabku mantaf, walaupun sebenarnya aku ragu.

Sebenarnya aku tak benar-benar mengenal ibu, aku cuma tahu beliau dari foto-foto milik keluarga. Foto saat ia masih di sekolah guru, berjejer rapi dengan teman-teman sekelasnya. Seorang gadis sederhana, bermuka bulat penuh, beralis tebal dan rambut lurus sepinggang yang dipilin kepang dua. Ibu memakai baju sederhana dengan lengan pendek menggelembung dan senyum menawan. Ayah pernah bilang, ibu sangat suka warna merah muda, kalau sekarang di sebut ‘pink’ kali yak, aku mengiyakan saja karena semua foto-foto beliau hitam putih.

Subuh tadi Teh Rida nelpon, dia mendengar suaraku yang parau, masih dengan suara bantal, masih ngantuk euy!

“Baru bangun, Pangeraan?” Teh Rida menggoda.

Kalau aku nikah nanti dia pengen aku di gelari ‘Sutan pangeran di rajo’. Gelar yang aneh! Lagian itu khan hak ayah memberi gelar, kok dia yang sibuk. Heheheh :-P

“Iya, Teh” aku menebak-nebak, pasti Miss Perfect ini akan menyuruhku segera pulang ke Sukabumi.
“Kamu sehat?
“Sehat. Aya naon teh”
“Abang dan adikmu nanya tuh. Sejak ayah meninggal, kamu jarang menghubungi mereka. Kenapa?”
“Nggak papa. Aku cuma belum sempat saja”
“Gun..”
“Iya, Teh”
“Kita telah kehilangan ayah, kamu jangan menghilang juga atuh. Telpon dong mereka, atau minimal sms. Khan murah. Nomormu gsm-mu ganti lagi?”
“Iya Teh”
“Gun, teteh pernah berjanji pada ayah. Sebagai yang tertua, teteh berjanji akan menggantikan tugas ayah untuk bantu pernikahan mu nanti”.
“Iya Teh”
“Kapan, Gun”
“Apa Teh?”
“Kamu pasti ngerti maksud teteh”
“Teh, tahun ini kita ke Pelabuhan Ratu lagi nggak?”
“Gun...”
“Luki dan Putri (ponakanku, anak Teh Rida) pasti senang”
“Gun...”
“Iya teh”
“Bilang teteh kalau kamu udah siap. Assalamu’alaikuuum”

Telpon di tutup. Teteh tahu aku nggak pernah siap diajak ngomong soal itu.
Bip,bip, bip. Sebuah sms masuk, dari Teh Rida.

-Teteh punya calon untukmu. Mau ya? Abis lebaran haji nanti, gmn?-

Arrrrrrgggghhhhhh.
Kalau aku sama dengan yang lain, soalan ini pasti akan lebih mudah.

Tidak ada komentar: