Minggu, 28 Juni 2009

Ustad Boby, Berdosakah Kita? (1)

Saya mengenalnya pertama kali saat ditugaskan kantor untuk presentasi program kerja bareng, antara kantor saya dan dia. Tak pernah terfikir sebelumnya salah seorang yang akan saya temui ini umurnya sebaya. Biasanya saya menemui bapak-bapak 1/2 baya, 3/4 baya atau bahkan orang-orang yang "jalan selangkah..... batuk, jalan selangkah....... batuk lagi". Tapi yang ini beda, seorang ikhwan dengan wajah bersih dan bening. Kata nenek, air wuduk akan membuat wajah bersih dan bening (dan tentunya dengan tidak melalaikan sholat).

Saya mencoba bersikap sewajar mungkin. Ada 5 orang bapak-bapak termasuk dia yang mengikuti paparan presentasi saya saat itu. Setiap tahapan rencana program saya jelaskan dengan sebaik mungkin. Setiap pertanyaan yang muncul saya jawab sejelas mungkin dan keinginan saya untuk menatap wajahnya saya tahan sekuat mungkin. Beberapa kali dia tersenyum saat saya mencoba untuk melemparkan joke-joke ringan (sekedar mengurangi rasa grogiku). (Damn.. it!)

"Ok, Nak Gun. Kami setuju dengan program yang ditawarkan. Cuma ada beberapa hal yang perlu lebih di detailkan. Nanti silahkan diskusi dengan Nak Boby".

"Syukron, ustad". Saya menjabat tangan Ustad Rahmat dan bapak-bapak yang lain dengan erat, termasuk ustad Boby.
"Mas Gun, bisa ke ruangan saya sebentar?" dia menunjuk sebuah ruangan
"Baik, ustad"
"Panggil saja saya Boby" seulas senyum mengembang.
"Baik ustad, eh..... Bob". (Damn it!)

bersambung.....................

Tidak ada komentar: