Minggu, 28 Juni 2009

Ustad Boby, Berdosakah Kita? (2)

Selepas pertemuan pertama, kedua dan ketiga dengan Ustad Boby. Kami jadicukup akrab, jadi sering berkomunikasi, baik melalui telpon, sms maupun e-mail. Panggilan Mas Gun dan Ustad Boby sudah jarang terdengar, berganti dengan panggilan kamu, aku atau saya. Bahkan kadang Gun atau Boby saja.

+ Gun
- Ya, Ustad.
+ Mulai lagi nih?!
- Eh, maaf.... iya Boby. Ada apa?
+ Bisa datang nggak, Jum'at besok?
- Ke Bintaro?
+ Iya. Ada yang mau saya obrolin soal monitoring program
- Tapi... monitoring khan masih 2 pekan lagi
+ Eh, iya yah? Egh..hmmmm... Tapi khan... tapi harus dipersiapkan dari sekarang. Hal itu perlu diskusikan lebih awal khan?

(Saya terdiam sejenak)

- Bob, saya sudah bikin timetable dan aktivitasnya secara lengkap. Coba deh cek di proposal lengkap yang saya email kemarin.
+ Justru itu.. Aku perlu diskusi soal time table itu. Bisa datang ya? Ya?
- Hmmm..
+ Sudah ada agenda lain ya?
- Belum. Kenapa?
+ Ok. Saya tunggu di Bintaro ya. Assalamu'alaikum!

(klik, bunyi handphone di tutup)

- Wa'alaikumsalam

(Saya terbengong-bengong)

Alhasil, terpaksa berangkatlah saya ke Bintaro Jum'at itu, selepas sholat. Saya sengaja ijin pergi sebelum jam pulang kantor, agar bisa sampai lagi di Bogor sebelum magrib. Dalam perjalanan Bogor - Bintaro, tanpa saya sadari Boby menelpon beberapa kali, lalu ia mengirim sms. Saya benar-benar tidak tahu. HP dalam posisi silent.

Sesampai di Bintaro, aku melihat Boby duduk di teras masjid. Memandang lurus ke arah ku. Sorot matanya terlihat tajam. Tanpa senyum.

- Assalamu'alaikum
+ Walaikum salam. (Boby masih saja tanpa senyum)
- Maaf, nunggu lama ya
+ Kamu nggak bawa hp?
- Bawa. Kenapa?
+ Telpon saya tidak di jawab. Sms tidak di balas.
- Astagfirullah... hp tadi di silent. Di dalam tas
- Maaf Bob..

(Boby masih diam, dia menunduk)

+ Maaf. Saya benar-benar tidak tahu
- Saya pikir kamu kenapa-napa (suaranya mulai melunak)
+ Maksudmu?
- Ya, aku fikir kamu nggak jawab telpon ku karena kecopetan, kecelakaan atau apa gitu!
+ Loh, kamu kok ngebayangin saya celaka?
- Bukan begitu!
+ Lalu apa?
- Kamu nggak ngerti? Ya sudahlah! Berarti kurang cerdas!
+ Enak saja!

Saya melempar tas yang sedari tadi saya pegang, ke muka Boby. Ia lari terkekeh-kekeh.

Tanpa kami sadari, kami lupa membahas rencana monitoring program. Sepanjang sore itu kami hanya ngobrol : tentang harga BBM yang melonjak, demo dimana-mana dan sistem pemerintahan yang kacau balau, sambil makan mie pangsit di pojok masjid. Secara iseng saya sempat bertanya soal kapan ia akan menikah. Boby hanya terdiam sebentar, lalu berujar "Eh, Gun.. Udah mau magrib! Kamu nginap di sini aja ya..." Lalu Boby berjalan menuju masjid. Kembali aku terbengong-bengong. Garuk-garuk kepala. Lalu menyusulnya...

Bersambung ......

Tidak ada komentar: