Minggu, 05 Juli 2009

Kisah absurd seekor babi

Ada dua pemikat novel Lanang seandainya disandingkan dengan novel lain di rak buku. Pertama adalah embel-embel sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006.

Lanang menyabet juara harapan kedua. Satu peringkat di bawah novel Glonggong karya Junaedi Setiyono, yang lebih dulu beredar. Glonggong cukup manis mengolah sejumput kisah lain di masa perang Diponegoro.

Pemikat kedua adalah sinopsis di sampul belakang. Alkisah, sejak kemunculan makhluk rekayasa genetika antara burung dan babi hutan, penyakit aneh membantai ribuan sapi perah di area peternakan tempat Lanang bekerja.

Bersama pemerintah dan masyarakat, dokter hewan Lanang sibuk mencari tahu biang kerok penyakit aneh itu. Seminar dan penelitian dibuat, tapi penyakit misterius tersebut tak kunjung ketemu. Dukun hewan Rajikun yang menyatakan biang keladinya adalah burung babi hutan — makhluk jadi-jadian —memperkeruh situasi.

Pergulatan antara mistikisme tradisional melawan bioteknologi modern menjanjikan ramuan fiksi sains bercita rasa Indonesia. Harapan langsung terbit, Lanang akan menyajikan tema fiksi yang masih langka di Indonesia: fiksi ilmiah. Terbayang novel ini bakal sarat dengan dialog-dialog ilmiah yang cerdas, tajam, dan lincah.

Tapi, nyatanya, setelah bersusah- payah mengunyah membaca novel ini sampai akhir, harapan tinggal harapan. Mulanya Lanang melangkah lumayan cepat. Cikal bakal ketegangan muncul di awal dengan gelombang kematian ternak sapi. Lalu datang pula makhluk babi bersayap.

Namun semakin jauh ke dalam, langkah Lanang mulai kedodoran. Ceritanya seolah tak bergerak ke mana-mana. Fokusnya juga buyar. Alur ceritanya silang sengkarut antara pencarian si babi, perdebatan, persenggamaan, perselingkuhan, senggama lagi, monolog, dan selingkuh lagi.

Kegemaran Yonathan —yang juga seorang dokter hewan —berpuisi membanjiri keseluruhan isi novel. Sepertinya ia tidak rela melewatkan satu halaman pun tanpa berpuisi. Walhasil, tak berapa lama membaca sepak terjang Lanang, jemu mulai menyergap.

Bukan cuma itu, gara-gara taburan kata-kata indah, emosi tokoh yang hendak disampaikan ke pembaca menjadi buyar. Begitu pula saat pengarangnya hendak membangun suasana melalui deskripsi, sering gagal karena tertutup untaian kalimat panjang nan manis.

Coba saja simak gambaran emosi Lanang kala dituding sebagai penyebab kematian sapi-sapi itu :

Halilintar menyambar-nyambar di tengah siang hari bolong.

Lanang diserbu panah berapi dari segala penjuru para rekan, peternak, dan ahli kesehatan hewan.

Atap gedung serasa runtuh. Lanang membara. Auranya merah mengeluarkan asap mengepul.

Mata Lanang membelalak penuh amarah, bagai mengeluarkan api bara panas berwarna merah kekuningan. Bahkan naga liangliong yang berarak pada setiap Hari Raya Imlek tak bisa menandingi. Kalau naga-naga kertas itu disandingkan dengan naga yang tersirat dari perangai murka Lanang saat tu, pasti akan hangus terbakar. Dan jadi abu.

Hitam.

Luruh.

Indah sekali. Tapi sayang, kemarahan sang tokoh yang harusnya lebih meledak-ledak dan manusiawi, menjadi sangat santun dan cantik.

Tiada yang salah dengan karya yang puitis. Asal tidak berlebihan. Contoh yang cukup berhasil barangkali serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Ungkapan- ungkapan puitis kuno tidak mengaburkan jalannya cerita. Simak saja:

Duka membayang di kaki langit, duka sekali lagi membungkus Majapahit.

Ada banyak hal yang dicatat Pancaksara, banyak sekali. Kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu, yang ditulisnya berdasar kisah yang dituturkan ayahnya, Samenaka.

Tema sains di novel ini pun seolah hanya mendapat peran pembantu di tengah dominasi drama hidup anak manusia. Perdebatanperdebatan ilmiah antara tokohtokohnya kurang imajinatif dan lincah. Apalagi setelah dikotori dengan sisipan puisi-puisi panjang.

Jauh lebih menarik sahut-menyahut antara tokoh Tennant dengan superkomputer Trinity dalam novel The Footprints of God karya Greg Iles. Mereka berdebat dengan jernih mengenai teknologi, ketuhanan, dan masa depan manusia.

“Apakah kemudian kesadaran akan mati ?” Kata komputer.

“Dorongan terkuat dari segala entitas yang hidup akan selamat.”

“Bagaimana mungkin kesadaran bertahan dalam keadaan semacam itu?”

Ini adalah konsep yang sulit, saat di mana sang ular harus menelan ekornya sendiri sampai akhirnya tubuh dalamnya menjadi di luar.

“Dengan berpindah keluar dari medium yang mati. Berpindah keluar dari zat dan energi. Keluar dari ruang dan waktu.”

Jalan cerita novel ini juga sederhana saja. Tidak ada jalan berliku, tanjakan, turunan, minim ketegangan, dan penutup kisahnya pun tidak mengentak. Mestinya, ketimbang bermain dengan kata-kata, lebih baik pengarangnya memperkuat alur cerita supaya lebih mengesankan.

Begitupun buku ini tentu mempunyai nilai-nilai baik. Misalnya isu yang diangkat sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang. Tarik menarik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif, hubungan suami-istri, kesetiaan, serta isu lingkungan. EFRI RITONGA

Tidak ada komentar: