Sabtu, 18 Juli 2009

Memaafkan Male Role Model

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh

Yang paling khas dengan perayaan Id’l Fitri atau lebaran di Indonesia yang belum tentu ditemukan di negara (Muslim) lain adalah adanya tradisi saling meminta maaf. Ucapan “Mohon maaf lahir dan bathin” (yang seolah-olah terjemahan dari Minal aidin wal faizin) lebih kerap terdengar daripada ucapan yang kita pelajari dari hadist, “Taabbalallaahu minnaa wa minkum.” Terlepas dari itu semua, pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang ‘memaafkan’ berkaitan dengan permasalahan SSA yang kita miliki.

Dari waktu ke waktu, barangkali banyak dari kita yang merasakan beratnya permasalahan SSA. Rasa sepi, depresi, kekecewaan, kemarahan, hasrat yang tidak (dapat) tersalurkan, hanyalah sebagian dari kondisi umum penyandang SSA.

Jangan berharap kondisi itu akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Jika kondisi tersebut dibiarkan, tidak dikelola dengan seharusnya, disikapi dengan keliru, atau dianggap tidak ada, keadaan bisa tambah buruk. Menganggap permasalahan tidak ada dan akibatnya tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya, merupakan kesalahan yang banyak kita lakukan. Kita terus-menerus berkutat dengan permasalahan yang sama untuk sekian lama. Tentu kita tidak mau menjadi seperti Sysipus dalam mitologi Yunani yang dihukum Zeus harus mendorong batu ke atas bukit dan begitu hampir di puncak batunya menggelinding ke bawah sehingga dia harus mendorong dari awal—demikian berulang-ulang.

Agar kita tidak diam di tempat dan berkutat dengan permasalahan yang sama, tentu kita harus melakukan sesuatu. Dalam permasalahan kita dengan SSA, mau tidak mau kita harus membuka lagi lembaran-lembaran masa kecil kita, saat mana benih-benih SSA tertabur. Bisa jadi lembaran tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup yang dengan sadar atau tidak, tidak kita tengok karena kita tahu akan menyakitkan. Meski begitu, bagaimana pun menyakitkannya, masa kecil itu harus kita buka lagi kalau memang kita ingin move on, tidak berkutat di square one. SSA tidak pernah disebabkan oleh satu faktor, Richard Cohen dari International Healing Foundation mengatakan bahwa munculnya SSA merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor. Faktor-faktor tersebut mulai dari permasalahan dalam rumah sampai permasalahan dari lingkungan. Namun jika ditelusur lebih jauh, ujung-ujungnya masalah tersebut bermuara di terputusnya ikatan emosional (detachment) antara anak laki-laki dengan tokoh panutan laki-laki (male role model), posisi yang umumnya ditempati oleh sosok ayah.

Saya yakin, sampai di sini ada yang mulai keberatan dengan mengatakan, “That’s not my case. Kasusku tidak begitu. Hubungan saya dengan Ayah baik-baik saja. Jadi Ayah bukanlah penyebab saya memiliki SSA.” Baik, sebagian kecil yang berkata demikian barangkali benar; ada faktor dominan lain yang menjadi pemicu timbulnya SSA. Tapi saya khawatir sebagian lagi menyatakan begitu karena sebenarnya ingin kondisinya begitu. Dengan kata lain, mereka yang mengatakan bahwa hubungannya dengan ayahnya baik, pada saat mengatakan hal tersebut secara tidak sadar berupaya menutupi kenyataan yang mungkin menyakitkan. Ingat, merasa sesuatu baik belum berarti sesuatu itu baik. Merasa kita mencintai Ayah, belum tentu kita benar-benar mencintainya.

Dari banyak artikel tentang “penyembuhan” SSA, kerap disinggung tentang apa yang disebut “father wound”—bisa kita terjemahkan sebagai “luka karena ayah” walaupun istilah tsb juga dipakai untuk luka yang disebabkan oleh tokoh lelaki panutan lain kalau memang dominan (katakanlah misalnya kakek, kakak, paman, atau guru). Perlu dipahami, sang Ayah tidak perlu melakukan kekerasan fisik (misalnya memukul) untuk meninggalkan luka di jiwa sang anak. Seorang anak kecil secara naluriah perlu disentuh, dipeluk—dengan tidak memenuhi itu saja sudah cukup untuk menorehkan luka. Sebuah kalimat yang mengandung celaan bagi sang anak cukup tajam untuk melukai. Sebuah candaan dari Ayah yang dimaksud untuk melucu tapi membuat sang anak tak nyaman, pun punya potensi menimbulkan luka.

Nah, kalau hal-hal itu saja bisa menimbulkan luka, apalagi kekerasan fisik.

Dari hal-hal tersebut, timbullah luka. Dan luka ini bukanlah luka di lengan yang bisa sembuh dengan Betadine. Luka ini tertoreh dalam di jiwa sang anak, dan rasa pedih yang ditimbulkannya pun sangat dalam. Luka itu terus menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman dalam perjalanan hidup seseorang hingga remaja dan dewasa.

Luka itu, seiring dengan timbulnya “keterlepasan ikatan emosional dengan ayah”, juga menimbulkan ruang kosong dalam jiwa sang anak—yang kemudian berangkat remaja. “There’s something missing.”—ada sesuatu yang hilang. Manusia dengan sendirinya menoleh pada banyak hal untuk mendapatkan pengisi kekosongan itu. Karena kekosongan itu timbul lantaran tidak terbentuknya ikatan antar-lelaki atau male bonding (putusnya hubungan emosional dengan ayah ini dalam perjalanan hidup kemudian membuat sang anak menemukan dinding pemisah dalam pergaulan dengan sesama lelaki), maka banyak yang “menemukan” pengisi kekosongan itu dari sesama lelaki—secara fisik, secara seksual. Di sinilah benih-benih SSA hidup subur dan berbuah menjadi SSE (same-sex encounters alias perilaku homoseksual) .

Padahal, di sini kita bisa mafhum, homoseksualitas bukanlah solusi dari kekosongan di jiwa kita. Menjadikan aktivitas homoseksual sebagai obat untuk mengatasi permasalahan yang kita miliki tak ubah rasa haus yang diobati dengan air laut—rasa itu akan semakin menjadi. Dorongan homoseksual itu itu hanyalah gejala dari beberapa (atau banyak) hal. Hal ini jauh lebih dalam dari sekadar perilaku seksual. Sumber gejala itu, jika kita membuka hati untuk membedahnya (paling tidak dalam banyak kasus), adalah AYAH.

Banyak para homoseksual dapat mengenali “father wound” mereka, namun mereka gagal menemukan keterkaitan antara luka itu dengan perilaku seksual. Dorongan homoseksualnya sendiri, sebagaimana barangkali banyak dari kita merasakannya, sangat persisten dan nyata. Dan kalau kita tidak waspada, dengan mudahnya kita bisa terpeleset.

Nah, menjelang Id’l Fitr mendatang, di mana kita terbiasa saling bermaafan, adalah moment yang tepat untuk secara ikhlas, sepenuh hati, memaafkan ayah (atau tokoh panutan lain) yang mungkin pernah meninggalkan luka di jiwa kita. Tidak perlu mengkonfrontir (kecuali dalam hal seseorang pernah melakukan abuse). Yang perlu kita sadari adalah bahwa kita yakin ayah kita tidak dengan sengaja menorehkan luka itu di diri kita. Kebanyakan ayah adalah orang tua tradisonal, orang tua dengan ilmu turun-temurun. Maksudnya, mereka tidak pernah secara formal belajar bagaimana menjadi orang tua. Mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka perbuat terhadap anaknya bisa menimbulkan luka yang harus ditanggung sang anak sepanjang hayat. Ayah yang pernah menimbulkan luka pada diri anaknya besar kemungkinan karena ia melakukan apa yang dilakukan ayahnya (kakek kita) dulu. Ia hanya mencontoh, karena sepengetahuannya, demikianlah menjadi ayah. Demikian juga dengan kakek kita, mungkin cara itulah yang dia terima dari orang tuanya (buyut kita). Nah, kitalah generasi yang diberi amanah untuk memutus lingkaran setan itu. Mari kita maafkan ‘kekhilafan’ ayah kita, ikhlaskan dengan sepenuh hati, dan pasrahkan semuanya pada Sang Pencipta.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rasa lapang dan damai di hati kita.

Amiin.



CATATAN:
Seorang kawan di Inggris akan mengirimkan buku “Forgiveness is A Choice”. Tadinya saya akan menunggu buku itu sebelum menulis posting di atas. Tapi karena katanya buku itu kemungkinan sampai setelah Id’l Fitr, maka saya tulis seadanya spt di atas. Insya Allah, jika buku yang dimaksud saya terima dan ada hal-hal yang layak di-share, akan saya tulis di sini.



Wassalaam,



Alif

Tidak ada komentar: