Minggu, 05 Juli 2009

Segera memulai, lalu menata

Sidik Nugroho

"Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya," demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima anugerah Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium, dan rasakan dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun.

Beberapa orang menemukan panggilan hidupnya ketika mereka memulai sesuatu yang mengasyikkan. Begitu sederhana. Mereka tak menunggu mimpi, penglihatan supernatural, atau bisikan magis di telinga rohani mereka. Mereka, seperti Gordimer, memulai, menekuni, lalu menemukan keajaiban di kemudian hari.

Sayangnya, mungkin beberapa dari kita kadang abai terhadap kesederhanaan. Saya mengenal seorang yang mengaku kutu buku, suka membeli banyak buku, suka pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, tapi banyak bukunya yang sudah ia beli tidak dijamah-jamah, apalagi tuntas terbaca.

Dalam konteks proses kreatif, keadaan itu rasanya dapat menjadi cermin para pekerja kreatif: mungkinkah kita juga kadang terlalu sibuk dalam memikirkan banyak hal untuk kreasi yang kita buat -- seperti teman saya yang mengaku doyan buku tapi tak tuntas-tuntas membaca buku itu -- tapi tanpa melakukan suatu langkah kreatif apa pun? Segalanya jadi rumit kalau sudah begini.

Inspirasi datang ketika kita mau memulai sesuatu, bukan hanya berpangku tangan dan murung merenung. Mari kita mulai berkarya. Sejelek apa pun karya kita, dan apa pun bentuknya, kita semua memiliki peluang untuk menemukan keajaiban dari karya itu.

Berkaitan dengan hal-ihwal tersebut, yang kemudian menjadi persoalan utama dalam berkarya adalah tentang kesegeraan memulai. Seringkali penulis muda bingung: kapan aku harus mulai menulis?

John Steinbeck, yang dipuja-puja karena keberhasilan novelnya yang memenangkan penghargaan bergengsi Pulitzer, The Grapes of Wrath, mempunyai kebiasaan menulis yang sangat menarik. Pagi hari, begitu bangun tidur, ia langsung bergegas menuju meja kerjanya. Apa pun pikiran yang melintas di kepalanya untuk dituliskan di pagi itu, ia tulis saja. Ia tulis dan tulis tanpa mempertimbangkan akan jadi apa karya itu. Itu bisa sebuah karya baru, sebuah halaman atau episode lanjutan dari novel yang sedang dibuatnya, atau apa saja. Intinya, ia segera memulai, tanpa banyak pertimbangan.

Kemudian, ia istirahat, membersihkan diri. Setelah mandi, ia duduk lagi di meja kerja yang sama, menghadapi tulisan yang tadi dibuatnya, menatanya lagi menjadi tulisan yang baik.

Penulis lain, Stephen King, dalam memoarnya yang terkenal On Writing mengulas secara gamblang kebiasaan atau proses kreatifnya dalam menulis novel-novelnya. Salah satunya adalah yang ia sebut-sebut dengan istilah Pintu Tertutup dan Pintu Terbuka. Pintu Tertutup adalah suatu kerja menulis saat kita benar-benar mengasingkan diri. Ia menyarankan agar bila perlu kita mengunci kamar, menutup semua korden --intinya memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Garap novelmu tiap hari, menulislah sebanyak-banyaknya dalam Pintu Tertutup itu, begitu kurang lebih King berpesan.

Terkait dengan konsistensi dalam istilah Pintu Tertutup King itu, setiap orang dapat berbeda pandangan dan kebiasaan. Kate DiCamillo, pemenang penghargaan Newbery Medal untuk bukunya, The Tale of Desperaux, tampak santai, tidak ngoyo. Kalau King bersaksi bahwa ia akan menggarap novelnya tiap hari tanpa istirahat -- dan menganjurkan kita beristirahat hanya sehari dalam seminggu serta menggarap naskah kalau bisa belasan atau puluhan halaman tiap hari --DiCamillo menggarap novelnya dua halaman sehari dari hari Senin sampai Jumat. Ia melakukannya pada waktu subuh sebelum berangkat kerja di toko buku.

Ya, tiap pengarang memiliki kebiasaan berbeda karena, mungkin, sedikit banyak hal itu dipengaruhi oleh jenis, bentuk, dan tebal-tipisnya karya yang mereka buat. Yang penting dalam penerapan konsistensi adalah keyakinan yang selalu ada dalam benak penulis bahwa ia sedang membuat sesuatu yang benar-benar layak untuk dibaca, paling tidak untuk menghargai dirinya sendiri, seperti yang pernah diucapkan oleh Toni Morrison bahwa jika kita tidak menemukan sebuah buku yang ingin kita baca, sebenarnya diri kitalah yang seharusnya membuat buku itu.

Yang kerap jadi kendala, dalam soal keyakinan ini, adalah kebimbangan yang menghinggapi benak penulis ketika berada di tengah-tengah proses pembuatan karyanya. Akmal Nasery Basral, penulis novel Imperia, dalam sebuah bincang-bincangnya dengan saya di Malang pernah menyatakan, "Mengawali novel dengan keyakinan bahwa apa yang akan kita tulis adalah sesuatu yang luar biasa itu pasti terjadi pada diri tiap penulis. Kita bersemangat dibuatnya. Namun, apakah keyakinan itu tetap ada ketika kita sedang menggarap novel tersebut di tengah jalan, itu soal lain --itu butuh perjuangan tersendiri."

Kemudian, begitu tiba waktunya menulis novel selesai, King menyarankan agar kita istirahat selama beberapa hari atau minggu. "Tutup novelmu, jangan sentuh sama sekali," katanya. Ia bahkan bercerita, pernah memanfaatkan waktu-waktu istirahatnya dengan menggarap novel pendek lainnya. Salah satu yang terkenal adalah The Girl Who Loved Tom Gordon. Tujuan istirahat ini, paling tidak, adalah membuat kita sanggup merenungi kembali tujuan kita menulis novel, sambil mengumpulkan kembali gagasan-gagasan hebat yang jadi pemantik kita dalam menuliskan karya itu. Dan yang paling utama adalah merehatkan pikiran yang suntuk setelah sekian waktu berjuang menghasilkan sebuah karya.

Setelah istirahat itu, mari kita tilik lagi karya yang sudah kita buat. Inilah saat-saat ketika kita kemudian hidup dalam Pintu Terbuka. Di sini perlu kita berbenah, menata segalanya jadi lebih baik. Menurut King, yang lebih perlu dilakukan bukan menambah-nambahi halaman novel, tapi sebaliknya: memangkas bagian-bagian tak penting. Kita juga bisa belajar dari Leo Tolstoy dalam hal ini. Sempat dikisahkan bahwa novel Anna Karenina karyanya dieditnya berkali-kali. Ini terjadi karena ia selalu butuh mengubah apa yang telah ditulisnya. Konon ada yang mengatakan hingga lebih dari seratus kali ia mengeditnya. Bukankah ini menjadi bukti bahwa penulis besar pun kadang dapat memulai segala sesuatu dengan tidak sempurna?

Selama ini, sebagian dari kita mungkin menjalani hal yang terbalik --terutama yang dijuluki perfeksionis. Dalam membuat segala sesuatu, kita ingin segenap proses yang ada di dalamnya berjalan sempurna. Ya, moga-moga beberapa penulis hebat yang saya sebut di atas bisa jadi teladan bagi kita untuk tidak selalu harus mengawali segala sesuatu dengan sesempurna mungkin. Memang, ada penulis yang sekali berkarya langsung memberi dampak dan pengaruh yang luar biasa, tapi lalu lenyap bagai ditelan bumi. Contohnya adalah Harper Lee, yang mendapatkan Pulitzer untuk novelnya, To Kill a Mockingbird, karya pertama dan terakhirnya. Karyanya itu hingga kini masih dipelajari, dan dianggap sebagai novel yang berpesan moral amat tinggi --terutama dalam soal saling memahami dalam hubungan antar-manusia.

Namun, sayangnya, tidak banyak orang yang, meminjam puisi Chairil Anwar, "Sekali berarti. Sudah itu mati."

Melihat keragaman proses kreatif para penulis itu, kembali kita merenungi lagi persoalan awal yang jadi pembahasan utama di tulisan ini. Apa yang kita anggap sempurna di suatu waktu nyatanya bisa kita anggap tak ada apa-apanya di kemudian hari, setelah pembelajaran kita makin banyak, dan wawasan kita makin luas.

Bahkan, nyatanya juga, kalau kita ada dalam suatu proses hendak menghasilkan suatu karya selalu ingin selalu sempurna, seringkali kita tidak memulai-mulainya. Memang, awal yang sempurna dan akhir yang sempurna itu luar biasa hebat. Namun, bukankah hidup ini tak selalu berjalan sempurna? Awal yang kacau tapi berakhir sempurna, saya yakin, jauh lebih baik daripada tidak memiliki awal sama sekali akibat selalu ingin mengawali segala sesuatu dengan sempurna.

Selamat memulai, selamat berkarya.

penulis lepas dan guru SD Pembangunan Jaya 2

tuanmalam.blogspot.com

1 komentar:

gugun mengatakan...

tulisan ini saya dapatkan di ruangbaca.com, bagus buat memotivasi saya yang tak kunjung rutin menulis. makasih mas wrekso