Senin, 16 November 2009

Nenek (akhirnya) buta. :-(


Nenek sudah lama menderita penyakit gula, sejak saya masih di sekolah mencinta pertama (smp). Saat saya menemani beliau ke dokter dan divonis menderita diabetes, nenek hanya tersenyum dan mengajak segera pulang. “Ayo. Sudah waktunya makan siang” ia setengah menyeret tangan saya tergesa.

Kami mampir ke rumah makan padang yang cukup ramai siang itu. Nenek memesan gulai otak, rendang daging, goreng paru, lengkap dengan sambal merah dan sambal hijau. Saya hanya memesan ikan mas goreng dan lalap timun, tanpa sambal.“Menumu kok seperti makanan orang sakit saja?”. “Nggak papa, nek”. Saya melihat nenek makan dengan lahap seakan vonis dokter bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Setelah positif diabetes, nenek mulai sering jatuh sakit . Mulai dari penyakit ringan sampai berat. Istilah-stilah seperti rematik, jantung berdebar, darah tinggi, kolesterol, asam urat, luka yang susah sembuh menjadi istilah umum bagi beliau. Tapi pola makannya tetap tidak berubah. Ketika dilarang makan durian, beliau berkilah “Tenang saja, saya sudah punya obatnya”.

Beberapa tahun terakhir nenek menderita katarak. Operasi pengangkatan katarak tidak berhasil 100%. Selaput putih itu muncul lagi dan muncul lagi. Dokter kembali mengingatkan untuk lebih menjaga pola makan tapi nenek tetap tidak berubah.

Dua hari yang lalu saya dikabari bahwa penglihatan nenek mulai berkurang. Nenek tidak bisa melihat walau dalam jarak dekat sekalipun. Seperti berkabut, katanya. Operasi yang dilakukan tidak mampu mengembalikan penglihatan beliau. Nenek sekarang tidak bisa melihat sama sekali.

Saya menelpon ke rumah, menanyakan kabar beliau dan apa yang dirasakan. Namun saya tidak bisa menyembunyikan suara saya yang parau. Terus terang saya sangat mengkhawatirkannya. Alih-alih saya akan menenangkan beliau, malah nenek yang akhirnya menghibur saya,

“Nggak papa, Gun. Kalaupun sekarang nenek buta, toh nenek khan sudah melihat lebih dari 80 tahun.”

Tidak ada komentar: