Sabtu, 07 November 2009

Pohon dan paku

Saya pernah diceritakan seseorang tentang kisah tauladan
Kisah seorang anak yang sedang belajar mengelola amarah
Sang anak sering melampiaskan marahnya dengan merusak apapun
Bila di depannya adalah benda maka ia akan membanting, melempar atau menghancurkannya
Sedangkan bila di depannya adalah orang maka ia akan mengeluarkan kata-kata kasar
Tanpa memikirkan akibatnya…

Suatu hari saat si anak marah, sang ayah mengajaknya berjalan-jalan ke tengah hutan
Mereka membawa sekantung paku dan sebuah palu. Di hutan sang ayah berkata :
“Nak, bila kamu marah, pakulah pohon-pohon yang ada di sepanjang hutan itu sebanyak yang kamu mau”
Maka mulailah si anak memaku setiap pohon yang di lewatinya. Dia merasa puas karena dapat melampiaskan amarahnya hingga paku-paku itu habis tertancap di pohon. Sambil memandangi si anak, sang ayah berkata :
“Baiklah, kalau kamu telah lega, sekarang cabutlah semua paku-paku itu”. Si anak dengan bersemangat mencabut paku-paku yang tertancap di setiap pohon, hingga semua paku tercabut. Lalu sang ayah merangkul anaknya.

“Anakku…. amarah tak terkendali ibarat memaku pohon. Walaupun kamu telah meminta maaf dengan mencabut semua paku yang tertancap. Ketahuilah, bekasnya akan tetap ada di hati orang yang kau sakiti. Pohon itu tetap akan meninggalkan lubang, sampai kapanpun”

Bogor, 3 Nov 09. Pukul 16.23 wib

Tidak ada komentar: