Senin, 29 Juni 2009

Ayah Datang Dalam Mimpi

Seberapa besar pengaruh pengalaman masa kecil pada masa dewasa? Samakah pengaruh itu untuk tiap orang?

Dua hari yang lalu aku terbangun jam 3 pagi. Seharusnya masih terlelap, tapi tidak saat itu. Kaos tidur basah oleh keringat, padahal pagi menjelang subuh udara cukup dingin. Aku bertemu (almarhum) ayah dalam mimpi. Tidak susah mengingatnya. Lagi-lagi ayah menanyakan jam tangan Kak Rida yang hilang, kejadian saat umurku 10 tahun. Berkali-kali aku bilang ngak tau. Ayah tak henti menuduh, aku sampai menangis menyangkalnya.

Pada malam dan mimpi yang sama, ayah pergi kerja tanpa menitipkan ongkos sekolahku, sebagai hukuman aku terlambat bangun. Nenek membekali dengan sisa uang belanja. Aku berangkat ke sekolah dengan harapan saat pulang ayah mampir menjemputku. Tapi apa? Ayah tidak melakukannya. Akibatkan aku pulang jalan kaki selama 2 jam! Kesal, marah dan cape campur aduk, tapi ayah malah memarahiku.

Dan menjelang subuh aku kembali bermimpi. Ayah mencambuki kakiku dengan ikat pinggang, karena aku berkelahi dengan si abang. Aku mengaduh berkali-kali, tapi ayah tak juga berhenti.

Ayah, mohon jangan datang lagi dalam mimpi dengan cara begini. Gugun mohon, ayah ...

Minggu, 28 Juni 2009

Bersiap

Hari ini sebagian postingku di multiply ku copas di blogspot. Kenapa? Sekedar jaga2 aja, kalau2 multiply kembali menghapus accountku. Trus sebagai langkah awal utk belajar terbuka. Kok? Karena di sini, semua bisa baca. Syukur2 sang pujaan bisa paham adanya.

Stress? Nggak Usah Sok Tegar Deh..

Siapa sih yang nggak pernah stress? Saya, kamu, dia dan mereka PASTI pernah stress. Di jalanan yang macet, deadline di kantor, kekasih yang ngambek atau orang tua yang mendesak ini itu.

Stress!!! Stress!! Stress!! Banyak orang yang mengalami,tapi hanya sedikit yang mampu melewati dengan baik. Baik gimana? Ya.. dia mampu mengelola stress secara bijak sehingga bisa jadi sumber motivasi untuk memperbaiki keadaan yang bikin stress tadi.

Dulu saya sering dengar orang-orang menasehati saya, bila stress harus selalu berfikir positif, tabah dan tegar. Ternyata saran tersebut tak selalu benar. Saya jadi hidup dalam kepura-puraan, pura-pura nggak stress, sok tegar dan belagak bahagia. Padahal biarkan saja stress datang, nikmati dan resapi rasanya.

Kata Mas Reza Gunawan, ada dua cara mengatasi stress : 1) Bernapaslah dengan sadar dan 2) Ijinkan diri memiliki rasa dan pikiran apapun (mau itu rasa bahagia, marah, kecewa, stress, nikmati saja). Mau tau lebih lengkap apa saja nasehat popular mengatasi stress yang TERNYATA menyesatkan? Apa saja pendapat Reza Gumawan seorang pakar Self Healing tentang stress? Klik di sini

Note : Buat Mas Reza, terima kasih atas ijinnya mengutip tulisanmu. Salam sayang untuk Mba Dewi.

Lelaki Dari Masa Lalu

Ia datang tanpa angin
Ia ada tanpa hujan
Tepat dimuka
Tanpa ku bisa menghindar
Tanpa ku bisa menutup rasa
yang masih ada...

Kenapa rasa padanya tak kunjung hilang
Walau ku tlah kecewa berulang-ulang?

Pagelaran - Bogor, 5/4/09. 21.00

Dubur Ayam & Kereta Makam?

Agro Anggrek 21.50 wib.

Pelajaran buat yg mau travel ke luar kota, kudu makan yg cukup sebelum pergi.

Dari bogor saya sengaja tidak makan, sebelum brgkt ke semarang naik kereta malam. Alasannya sederhana saja. Males ke toilet kereta yg terkenal tdk bersih. Walau perut keroncong, tetap aja keukeuh gak makan. Akibatnya mata berkunang2 dan badan lemes.

Pas nyampe stasiun gambir saya terkaget2, kok ada yg jualan Dubur Ayam ya? Ha? Astaga! Trus pas naik ke jalur kereta, saya kembali terkaget2. Ha? Kok Agro Agrek ada Kereta Makam? Ha? Apaan nih. Oh? Eh? Ngh?

Wah gawat nih. Daripada kenapa2, akhirnya pesen mie instan dan teh manis anget di Kereta Makam, eh salah Kereta Makan!

Ngapain Sih Kudu Assalamu'alaikum?

Waktu saya kecil, saya tak begitu paham kenapa sih kita selalu mengucapkan salam (assalamu'alaikum) ketika bertemu sesama muslim. Dan kita diwajibkan membalas salam. Tak mudah memahaminya. Tapi ketika umur semakin bertambah, barulah saya paham pentingnya mengucapkannya, karena esensi salam adalah doa, kita mendoakan untuk keselamatan, bukan sekedar basa-basi. Kenapa begitu? Karena diluar sana tidak semua kondisi (alam, orang) baik pada kita. Bisa saja ada musibah, bencana atau kita ketemu dengan orang-orang jahat, jail, iseng atau bahkan psikopat.

Dunia maya (internet), katanya dunia yang penuh dengan orang jahat, jail, iseng atau bahkan psikopat. Saya pernah menemukan beberapa. Awalnya mereka begitu *mempesona*, pintar, bijaksana, sabar dan sangat pengertian. Saya merasa menemukan teman maya yang pas.Tapi lama-lama mereka mulai berubah, pintarnya tetap, tapi pintar bersilat lidah, bijaksana, sabar dan pengertiannya memudar. Sering marah-marah bila tak segera saya respon. Sering berprasangka dan mulai menggunakan kata-kata yang bersifat intimidasi, makian dan penghakiman sepihak.

Dugaan saya sih, mereka-mereka yang pernah memperlakukan saya seperti itu adalah orang-orang yang kesepian. Mungkin kehidupan nyata mereka tak memuaskan, lalu mencari pemuasan di dunia maya. Atau mereka-mereka yang punya waktu luang yang banyak, sehingga melakukan hal-hal iseng di dunia maya. Entahlah...

Ceritanya begini : Saya pernah berteman dengan seseorang di dunia maya yang mengaku adalah peneliti bidang sosial masyarakat. Hal yang sangat menarik karena saya bekerja dibidang yang sama. Awalnya saya begitu kagum, banyak hal yang dia tahu, kalau ngobrol nyambung. Tapi saya heran ketika dia mulai senang membahas topik2 yang tidak nyambung. SEX. SEX dan SEX. Dia berkali-kali meminta saya untuk memberikan foto-foto pribadi saya. Bahkan mengajak untuk sex chatting via webcam.

Awalnya sih nggak terpancing, tapi lama-lama karena dia memanas-manasi saya, terkirimkan juga foto-foto tanpa kepala, tanpa identitas itu. Foto-foto setengah badan gitu. (Tau khan yang saya maksud). Lalu dia meminta lebih, lagi dan lagi. Tapi tak saya tanggapi. Dia marah-marah. Sesumbar akan menyebarkan foto-foto pribadi saya tersebut. Saya bukannya takut, malah nantangin dia, silahkan saja, toh foto-foto yang saya kirimkan tidak bisa diidentifikasikan sebagai foto siapapun. Bahkan oleh om roy suryo sekalipun. Tentu saja saya tidak bodoh.

Hahahaha. Pengalaman yang kalau bisa jangan pernah terjadi lagi pada siapapun. Intinya sih, saya tak mau lagi melayani orang yang jelas-jelas tak mengindahkan kelayakan sebuah pertemanan. Daripada buang-buang waktu, saya akhirnya tidak pernah merespon dia lagi... Hehehe.

Btw, ini hanya sekedar sharing saja. Mungkin pengalaman kita tidak mirip, tapi setidaknya kita bisa ambil hikmah dari pengalaman-pengalam tersebut.

Jadi, kalau ada yang ngucapin assalamu'alaikum pada saya, berarti dia berdoa untuk kebaikan saya. Maka sudah sewajarnya saya membalas juga mendo'akannya. :-)

Menjadi Mayat Setengah Badan (3)

Ruang tunggu kamar operasi terasa sama seremnya dengan kamar mayat. Selama (3 jam) diruang tunggu operasi, ada 3 orang yang meninggal pasca operasi dan 4 kelahiran bayi hasil cesar. Keringat dingin terus mengucur. Baru kali ini saya merasa benar-benar takut. Tepat jam 2 siang saya diminta memakai semacam baju warna hijau. Saya pasrah. Saat dibius dan merasakan kaki sudah menjadi “mayat” tak ada lagi yang saya pikirkan. Terserah Allah saja. Saya ikhlas. Selang 1,5 jam, operasi berjalan lancar. Alhamdulillah. Bagian tubuh yang bengkak sudah normal kembali, nanah (akibat infeksi) dalam jaringan tubuh telah dibuang dan bersih.

Tak satupun anggota keluarga saya beri tahu sebelum operasi, disamping keputusan itu dibuat mendadak, sayapun tak ingin merepotkan. Tapi ternyata arief, teman kostku, memberi tahu teteh. Tetehpun datang ke rumah sakit.“Gun, apa salah teteh? Kok kamu nggak ngasih tau dari awal? “ teteh duduk terisak di samping tempat tidurku.Saya tak berkata apa-apa. Pengaruh obat bius membuat lemas. Saya ingin bilang bahwa saya menyesal, minta maaf karena tak memberi kabar, karena bagaimanapun juga teteh punya hak untuk tau. Saya kapok telah mengabaikan kesehatan, dan tak mau jadi setengah “mayat” lagi.

Menjadi Mayat Setengah Badan (2)

Dua pekan yang lalu, saya mengalami diare dan demam tinggi berulang (kambuh, sembuh, kambuh lagi). Ah, mungkin demam dan diare biasa. Tak ada obat apapun yang saya makan, dan berfikir ini akan sembuh sendiri. Saya salah. Demam terus berulang bahkan saya merasa ada pembengkakan di otot bokong tak jauh dari “knalpot” saya. Bila jalan sangat sakit, saking nggak tahannya saya harus berhenti dan menarik nafas berkali-kali.

Rupanya sakit kali ini tak bisa ditawar, sayapun ke RS Salak diantar teman kantor karena tak bisa jalan secara normal. (Teman, dengan tulus saya katakan. .. kau malaikat penyelamat saya). Diagnosa awal dokter jaga malam itu bilang kemungkinan saya terkena ambein. Maka selama 4 hari empat malam saya meminum CIFLON (Citrus bioflavonoid) dosis tingggi, SANMOL (Paracetamol 500 mg), BORRAGINOL-N (oitment) yang dioleskan, bahkan saya sampai menggunakan FAKTU (suppository) segala! Tapi sakit saya tak kunjung reda. Malam ke lima, karena sudah tak tahan, saya memaksa dokter untuk mendiagnosa ulang dan saya diduga terkena ABSIS (sejenis infeksi di bawah jaringan tubuh yang berakibat bengkak, bernanah dan terasa perih). Paginya dianjurkan dioperasi dan saya langsung mengiyakan!

Menjadi Mayat Setengah Badan (1)

Bagi teman-teman yang pernah mengalami operasi, terutama kalau tubuh harus dibius dari pinggang ke ujung kaki, sedangkan bagian atas tetap sadar, mungkin pernah mengalami ini; Menjadi “Mayat” Setengah Badan. Maksudnya setelah pembuluh darah tulang belakang (pinggang) disuntik maka bagian dari pinggang ke ujung kaki akan mati rasa (baal), dan dalam keadaan masih sadar, bila tubuh bawah diraba terasa seperti mayat, kaku dan dingin. Saya pernah memandikan jenazah, jadi tahu rasanya.

Awalnya...

Saya adalah orang yang sering lalai pada kesehatan diri. Sakit kepala, diare, batuk, demam, flu, luka kecil tak pernah saya hiraukan. Saya masih memaksakan berenang dengan teman-teman di cimanggu city padahal baru sembuh dari demam dan flu, akibatnya saya terserang panas tinggi 2 hari. Saya masih melayani tantangan teman makan rujak di Pasar Bogor, padahal saat itu lagi diare. Walhasil malamnya saya terpaksa ke rumah sakit karena obat warungan sudah tidak ampuh. Dan saya tak pernah kapok! Sekarang saya harus kapok! Karena akibat kelalaian sendiri, saya harus dioperasi..

Puisi Jalaludin Rumi

UPAYA

Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.

DUA ALANG-ALANG

Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.

RASUL

Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada 'dosa' atau 'kebaikan'?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan - Rasul!
------------

Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;

"Kepada Nya, kita semua akan kembali"

Belajar dari Janda

Banyak sumber dan banyak cara yang bisa saya gunakan untuk belajar. Tak terkecuali janda. Akhir pekan lalu saya mengunjungi bibi di sebuah kampung kecil di Tangerang. Bibi saya seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan motor tepat pada hari dimana anak ke-2 mereka lahir. Tak ada yang istimewa dari kisah hidup bibi saya dalam membesarkan anak-anak sepeninggal suaminya. Karena diluar sana banyak janda-janda yang juga mengalami nasib serupa. Tapi kehidupan teman-temannya lah, janda-janda jompo, yang mengaduk-ngaduk perasaan saya…

Mungkin karena perasaan senasib, bibi mengumpulkan janda-janda yang sudah jompo di sekitar tempat tinggalnya. Ada sekitar 6 orang. Mereka orang-orang tua miskin yang ditinggal mati suami atau telah lama bercerai dan memutuskan tak menikah lagi. Anak-anak dari ibu-ibu jompo itu kadang tak mampu mengurus mereka karena sibuk dengan kesulitan ekonomi keluarga sendiri.

Selama ini para janda jompo itu hidup dari menjual daun pisang, mengumpulkan walingi (sejenis alang-alang) lalu dijemur lalu dijual ke pengumpul, atau apa saja yang bisa dijual dari kebun mereka yang tak seberapa. Meski sudah jompo mereka sebenarnya masih cukup produktif. Kadang bibi meminta mereka untuk membuat tusuk sate atau besek (sejenis kotak dari anyaman bambu) dan membantu menjualkannya di pasar. Hasil keuntungan dari penjualan itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari dan sebagian lagi mereka tabung.

“ Tabungan itu buat apa sih bi?”
“ Kata mereka itu tabungan kematian. Mereka nggak mau merepotkan orang-orang. Mati khan butuh duit.”

Saya merasa tersindir. Orang seumur saya begitu yakin hidup bakal lama sehingga tak pernah terfikir punya tabungan kematian (atau setidaknya tabungan amal). Padahal saya tak pernah tau kapan ajal itu akan menjemput saya.

Tangerang, 28/10/08. 14.07 WIB

Bakti, Ada Apa?

Saya akhirnya menelpon Bakti. Hape saya setting supaya nomor saya tak muncul. Dering pertama tak diangkat, dering keduapun tak diangkat. Hmm.. Benar nggak sih ini no Bakti. Pas dering ke tiga terdengar suara perempuan muda mengucapkan salam. Ha? Loh, kok perempuan? Udah gitu di belakang suaranya ada suara anak kecil nangis. Saya mencoba tetap tenang dan membalas salam si perempuan : "Maaf mba, teh, ibu.. bisa bicara dengan Pak Bakti?". " Ini siapa?". "Gugun.." Lalu perempuan itu berteriak.. "KAK BAKTIIIIIIIII, TELPOOOOOOOOON"

Saya menarik napas. "Hallo?.." "Kak Bakti?". "Maaf. Ini siapa?". "Saya gugun, kita pernah...". "Oh Gun. Hai, apa kabar? Kok baru nelpon sekarang? Hm... nomor hapenya disembunyikan yah? Hehehe". "Eh, anu.. egnhh..". Bla.. bla.. bla.. bla..

Sekitar 20 menitan saya ngobrol dengan Bakti. Rupanya dia tinggal bersama ibu, adik perempuan dan seorang ponakan laki-laki. Bakti mengajak saya untuk bertemu sore itu di Gramed Pajajaran sekalian nyari buku untuk ponakannya. Saya mengiyakan dan kamipun bertemu di Gramed 1 jam kemudian.

Bakti memakai kaos oblong warna abu-abu, jeans biru dan topi baseball. Jambang dan dagunya ditumbuhi rambut tipis. Agak pangling melihat Bakti dengan penampilan seperti itu. Berbeda dengan Bakti saat kami bertemu di kereta. Bakti menggandeng bocah laki-laki gendut yang lucu yang kemudian saya ketahui bernama Daya.

Di toko buku, Daya, bocah 5 tahun, tak henti-henti berlari dari satu rak buku ke rak buku yang lain. Sedangkan saya tak henti-henti melirik ke arah Bakti. Ia memergoki saya lalu tersenyum. Ketika sedang asyik memilih-milih buku, Bakti melihat ke arah seseorang yang sedang membaca buku di rak. Wajahnya berubah. Ia memintaku untuk mengajak Daya ke mobil dan dengan terburu-buru segera membayar buku yang telah dipilih. Saya menuntun tangan Daya. Tapi bocah itu menolak dan berlari ke arah Bakti.

Kami pulang tanpa bicara. Bakti berniat mengantarkan saya sampai rumah. Tapi saya menolak dengan halus karena Daya mulai merengek dan ingin segera pulang. Saya turun di pertigaan menuju rumah. Bakti tersenyum ... "Nanti saya telpon.. " janjinya.

Di rumah, saya bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira ada apa ya dengan Bakti? Loh? Kok saya jadi memikirkannya?

Baranangsiang Bogor, 1/11/08.

Terlacak Geidar

PERINGATAN : Tulisan ini mengandung unsur yang (mungkin) anda tidak suka. Silahkan anda lewatkan atau mangga atuh dilajeungkeun (diteruskan). :-)

+++++++++

Geidar (katanya) adalah radar atau kemampuan yang dimiliki seorang gei untuk mengetahui orang lain adalah gei atau bukan. Percaya nggak percaya sih, tapi sering kali radar tersebut bekerja dengan baik (terbukti) namun tak jarang error juga alias salah. Hmmm.. katanya sih perlu latihan berulang-ulang untuk mengasah tingkat sensitipitas-nya. Latihannya seperti apa? Bukan itu yang akan kita obrolkan sekarang... ;-)

Untuk alasan kenyamanan pribadi, saya berusaha agar tak mudah terlacak oleh geidar yang ada disekitar saya. Banyak cara yang bisa saya pakai; yang paling gampang adalah berpakaian dan bertingkah layaknya straight people, menghindari kontak mata lebih dari 3 detik dengan orang-orang yang diduga memiliki geidar juga.

Tapi saat perjalanan (kereta) pulang dari depok-bogor beberapa hari yang lalu saya terlacak juga. Padahal saya sudah berusaha sedemikian rupa untuk menghindarinya (istilah kata jaim gitu lah). Saat itu kereta agak sepi, duduk persis di depan saya, seorang mas-mas yang sepertinya habis pulang kerja. Si Mas memakai kemeja batik casual lengan pendek, celana pantalon warna gelap dan sepatu kulit juga warna gelap. Dengan kulit agak kecoklatan secara keseluruhan penampilannya enak dilihat.

Sejak pertama duduk si mas memandang ke arah saya beberapa kali. Saya melihat sekilas ke arahnya kurang dari 3 detik (ya, 3 detik). Hanya untuk memastikan saja. Dugaan saya nih orang sedang menggunakan geidarnya. Beberapa kali tatapan kami beradu. Tapi saya buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Saya jadi deg-degan. Bukan apa-apa, sangat jarang saya bisa terlacak geidar seperti saat ini. Tapi saya berusaha tetap cuek.

Ketika kereta sudah hampir sampai bogor (gerbong sudah agak sepi), si mas pindah duduk persis di samping saya. Saya masih berusaha tenang, bersikap biasa saja. Namun saya kaget saat si mas mengulurkan tangan menyalami saya.

"Hai, saya Bakti. Apa kabar?"
"Bbbb.. baaikk. Saya gugugun. Maksud saya gun"
"Abis pulang kerja?"
"Iiiya.. . Sama yah?"
"Iya"

Kereta sudah memasuki stasiun Bogor, si mas menuliskan sesuatu di secarik kertas, menyelipkan ditangan saya. Hubungi saya yah, katanya. Sesampai di rumah, saya membuka kertas yang tadi saya terima. Tertulis : Bakti 0818089*****.

Merdeka Bogor, 23/10/08. 19.01

Anak Gua Ini Ngapain Lu Ribut?!

Di angkot bogor - sawangan, 14.11.08. 21.05 wib

Gw lagi dalam perjalanan ke tempat kakak di sawangan. Di dalam angkot yg agak sepi gw liat seorang ibu mencoba mendiamkan anaknya yang nangis. Mgkn umur anaknya sekitar 5 tahun. Ngak tau kenapa, tuh anak nangis kenceng banget. Kaya'nya minta sesuatu yg tak dituruti. Si ibu berkali2 memukul tangan anaknya, menyuruh diam.

Awalnya gw diam aja, hanya ngeliatin. Tapi lama2 gw jadi jengah juga. Si ibu sampai nyubitin mulut si anak. Si anak bukannya berhenti, malah makin menjadi-jadi.

Gw ngak tahan, selain berisik, gw paling ngak tahan ngeliat anak2 jadi objek kekerasan orang tuanya, apapun alasannya. Trus ngomonglah gw :

"Bu, anaknya kok dicubitin?. Khan kasihan"
Si ibu kaget, berhenti mukulin anaknya trus ngeliat gw sekilas. Samar2 gw denger si ibu ngedumel.
"Anak gue ini. Ngapain lu yang ribut?"

Gw jadi males nanggepin nya. Gw cuma inggat, saat gw kecil dulu, gw sering dipukuli almarhum ayah karena kenakalan2 gw. Sampai gw setua sekarang, gw masih aja mendapat mimpi2 buruk, ayah mukulin gw. :-(

KAU adalah obat rindu KU pada DIA

Menurut KU ...
TUHAN menciptakan manusia tak 100% BEDA

Kadang KU jumpai 2 orang yang mirip satu sama lain
Padahal MEREKA tak saling mengenal
Mereka BUKAN saudara (kandung)
Ada yang mirip secara FISIK, ada yang sama SIFAT nya

Dan KETIKA ku jumpa dengan mu
Kau mengingatkan KU pada DIA
Sifat SABAR mu
Ramah mu,
Karisma mu
....
...
..
.
SUARA mu
Gaya BICARA mu
Bahkan DESAH napas mu
Mengingatkan KU pada DIA

Aku sakit rindu pada DIA
Kau ada dan jadi pengobatnya


Catatan
:

Aku pernah dengar MITOS bahwa KATANYA ada 7 orang di muka bumi ini yang mirip
dengan diri KITA. Dan katanya.. (katanya lagi) .. bila kita bisa mempertemukan ke-7
orang itu dalam waktu dan tempat yang bersamaan, maka tamatlah kita (a.k.a koit).

Berjumpa Jua

Kami kenal lama di serat maya. Banyak kisah jadi cerita. Banyak suka mengundang tawa melapur duka.

Niat bersua di gagas. Kami sepakat berpapas. Walau gagap semula, kami tau ini tak lama.

Terima kasih saudara jiwa

Joglo, 22.11.08

Aku Mencinta Bulan

Aku mencinta bulan. Sosok yang cemerlang, cerah, berbinar. Ia seolah berkata, datanglah padaku, kau akan merasa hangat dalam dekap sinar lembutku. Padahal tak sepatahpun bulan berujar.

Aku mencinta bulan. Berharap sepi 'kan hilang, mendamba hari 'kan ceria. Padahal bulan tak merasa. Aku mencinta bulan yang tak terjangkau, bak punduk gagap yang berharap-harap.

Bukan salah bulan kalau punduk akhirnya tenggelam di kolam. Namun sampai kapanpun aku tetap mencinta bulan.

Pasar Devris Bogor. 22.11.08. 20.15 wib

Sebelum Ayah Pergi : Kapan kawin?

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama tanpa kedua orang tua. Kalau tahun-tahun sebelumnya masih ada ayah yang nanya saat aku tak segera kumpul dengan saudara. Ayah juga sering nanya kapan aku akan meneruskan garis keturunan keluarga. Namun pertanyaan ayah jauh lebih sopan daripada si uda dan si aa yang pernah ngomong :

“Kawin, gun! Punya pedang hanya untuk pipis doang !”

Arrrrggghhh, sadis benar mereka! Tapi itu fakta, apa mau dikata?!

Tahun ini ayah tak ada lagi. Kami kakak beradik telah yatim piatu. Entahlah, apakah aku harus merasa sedih dengan predikat itu ataukah berusaha tetap tegar seperti Rossa. Hai Teh Ross, kumaha damang? He3x (sok-kenal.com)

Berminggu-minggu yang lalu, saat masih terbaring lemah di tempat tidur karena penyakit paru-paru dan darah tinggi, ayah sempat gobrol dengan aku, diselang- selingi batuk berkali-kali. Ngobrol, hal yang sangat jarang kami lakukan ketika beliau masih sehat.

“Si Rida bilang, kamu sudah punya calon?”, ayah memancing
“Calon apa, yah? Calon legislatif? Gun kan nggak tertarik politik” elakku
“Siapa namanya, Gun?”
“Hmmm.. belum ada”
“Tak perlulah berahasia dengan ayahmu sendiri”
“Nggak ada. Siapa yang ngomong?”
“Tadi khan sudah ku bilang, Si Rida, kakak mu itu”
“Teh Rida becanda kaliii, yah”
“Mana mungkin dia membohongi ayah?”
“Dia sih nggak bohong, dia becanda” tekanku
“Gun..” ayah terbatuk berkali kali, membuang dahak di wadah plastik.
“Ya, yah.. “, aku membantu mengelap bibir beliau.
“Gadis seperti apa yang kau suka?”
“Yang seperti IBU!” jawabku mantaf, walaupun sebenarnya aku ragu.

Sebenarnya aku tak benar-benar mengenal ibu, aku cuma tahu beliau dari foto-foto milik keluarga. Foto saat ia masih di sekolah guru, berjejer rapi dengan teman-teman sekelasnya. Seorang gadis sederhana, bermuka bulat penuh, beralis tebal dan rambut lurus sepinggang yang dipilin kepang dua. Ibu memakai baju sederhana dengan lengan pendek menggelembung dan senyum menawan. Ayah pernah bilang, ibu sangat suka warna merah muda, kalau sekarang di sebut ‘pink’ kali yak, aku mengiyakan saja karena semua foto-foto beliau hitam putih.

Subuh tadi Teh Rida nelpon, dia mendengar suaraku yang parau, masih dengan suara bantal, masih ngantuk euy!

“Baru bangun, Pangeraan?” Teh Rida menggoda.

Kalau aku nikah nanti dia pengen aku di gelari ‘Sutan pangeran di rajo’. Gelar yang aneh! Lagian itu khan hak ayah memberi gelar, kok dia yang sibuk. Heheheh :-P

“Iya, Teh” aku menebak-nebak, pasti Miss Perfect ini akan menyuruhku segera pulang ke Sukabumi.
“Kamu sehat?
“Sehat. Aya naon teh”
“Abang dan adikmu nanya tuh. Sejak ayah meninggal, kamu jarang menghubungi mereka. Kenapa?”
“Nggak papa. Aku cuma belum sempat saja”
“Gun..”
“Iya, Teh”
“Kita telah kehilangan ayah, kamu jangan menghilang juga atuh. Telpon dong mereka, atau minimal sms. Khan murah. Nomormu gsm-mu ganti lagi?”
“Iya Teh”
“Gun, teteh pernah berjanji pada ayah. Sebagai yang tertua, teteh berjanji akan menggantikan tugas ayah untuk bantu pernikahan mu nanti”.
“Iya Teh”
“Kapan, Gun”
“Apa Teh?”
“Kamu pasti ngerti maksud teteh”
“Teh, tahun ini kita ke Pelabuhan Ratu lagi nggak?”
“Gun...”
“Luki dan Putri (ponakanku, anak Teh Rida) pasti senang”
“Gun...”
“Iya teh”
“Bilang teteh kalau kamu udah siap. Assalamu’alaikuuum”

Telpon di tutup. Teteh tahu aku nggak pernah siap diajak ngomong soal itu.
Bip,bip, bip. Sebuah sms masuk, dari Teh Rida.

-Teteh punya calon untukmu. Mau ya? Abis lebaran haji nanti, gmn?-

Arrrrrrgggghhhhhh.
Kalau aku sama dengan yang lain, soalan ini pasti akan lebih mudah.

Sebelum Ayah Pergi : Tak Mau Merepotkan

Ayah telah 'pergi' meninggalkan kami, anak-anaknya, menantu, cucu-cucu dan sanak famili. Hari ini tepat sepekan. Beberapa dari kami masih sempat menemui beliau saat terbaring lemah karena komplikasi sakit paru-paru dan tekanan darah tinggi, termasuk saya. Kalaulah saya tak menurut apa yang dikatakan teteh untuk segera pulang, mungkin sayapun takkan sempet bicara dengan ayah. Kesempatan yang sangat jarang terjadi, sejak saya tinggal di Bogor dan ayah bersikeras untuk tinggal di kampung.

Aku : Ayah???
Ayah : (Batuk-batuk)... Sss siapa?
Aku : Gugun, yah
Ayah : Ohhh, Waang*) Gun
Aku : Ayah baru tidur? Atau sudah sejak tadi
Ayah : (Batuk-batuk)...Heh??
Aku : Ayah nggak usah bangkit, rebahan aja. Biar gugun yang duduk di pinggir tempat tidur ayah.
Ayah : Bila kamu datang?? Dengan siapa?
Aku : Baru saja, yah. Sendiri. Ini tas nya juga masih di bahu. Ayah sudah makan?
Ayah : (Batuk-batuk)...Hee eh? Belum. Kamu tidak kerja? Cuti?
Aku : Gun minta ijin dari kantor, yah. Sementara ini kerjaan Gun di bantu teman yang lain.
Ayah : Merepotkan orang kamu.. (Batuk-batuk)...
Aku : Nggak yah..
Ayah : Pasti lah teman kau itu repot! (Batuk-batuk)... Dia khan ada kerjaan juga
Aku : Kata teman saya itu dia sedang tidak sibuk, makanya bisa bantu beberapa hari ini
Ayah : Lalu kamu percaya saja?
Aku : Ayah, Gun percaya dengan dia. Lagian dia sudah mau bantu.
Ayah : Berapa kali ayah bilang ke wa'ang...(Batuk-batuk). Jangan pernah merepotkan orang lain. (Batuk-batuk). Jangan hidup dari belas kasihan orang lain. Hina hidup kita kalau sudah begitu. Bagai sapi di cucuk hidung..
Aku : Iya, yah. Tentu Gun nggak akan lupa...
Ayah : (Batuk-batuk, makin lama batuk ayah makin keras.)....

Saya segera mengambil penampung ludah yang ada di bawah tempat tidur, segera aku tampung ludah beliau yang bercampur dahak. Ayah terbatuk makin kencang, saya pun membantu beliau meminumkan air putih hangat, mengurut-ngurut punggung beliau, ringan. Batuk ayah mulai berkurang...

Ayah : Gun, ada yang mau aku sampaikan, tapi tidak di depan kakak-kakak atau adikmu.. (Batuk-batuk). Nanti...
Aku : Apa, yah???

Memandikan Ayah

Sebuah sms dari kakak perempuanku jum'at lalu sangat singkat : CARI TIKET PLG. JENGUK AYAH QT

Awalnya tak sedikitpun air mata menetes saat memeluk ayah. Lama aku ciumi wajah beraroma tembakau itu. Ponakan ku Luki bertanya, Om nggak nangis? Om nggak sayang kakek? Aku memeluk Luki, membisikkan ke kuping kecilnya, Om sayang kakek (ayahku). Aku tahan-tahan, tapi air itu akhirnnya tumpah juga ke pipi si kecil Luki...

Paru-paru ayah bolong-bolong akibat kebiasaan yang tak pernah bisa kami larang. Pernah suatu hari kami menyembunyikan rokok nya, ketika tak berhasil mendapatkan, ia pergi membeli benda kesayangan itu sendiri ke warung, padahal saat itu sedang sakit dan hujan deras....

Aku masih memeluk ayah ketika abang menarik tubuhku menjauh. Kamu istirahat dulu, katanya. Nanti bantu saya memandikan ayah... Aku terduduk di sudut ruangan, menatap kosong lelaki yang dulu sangat tegas dalam mendidik kami, sekarang terbaring kaku, lelaki yang telah menitipkan sebagian dirinya dalam diriku.... yang sebagian lagi dari ibu...

Ayah telah memandikan aku berkali-kali, mungkin puluhan atau ratusan kali .. sejak aku kecil... Sedangkan aku baru sekarang bisa memandikan beliau..... dan untuk yang terakhir kali. Kalau dulu aku selalu menciprat-cipratkan air ke wajah ayah saat mandi.... aku sempat berfikir ayah tak jadi pergi dan mencipratkan air ke wajahku.. tapi itu tidak terjadi...

Aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini, aku khawatir keyboard ini akan rusak, mataku basah terus menerus...

Aku cuma ingin ayah tahu, aku sangat mencintainya...

10 Fakta Tentangku

Seorang Mario (klik disini) memilih ku untuk mengungkapkan 10 fakta, setelah mengungkapkan 10 fakta menarik tentang dirinya(klik disini).

Seorang Gugun sempat berfikir dua kali dua sama dengan empat, saat ditantangin untuk membeberkan 10 fakta yang belum banyak di ketahui orang-orang. Wah, gimana nih? Pikir punya pikir, akhirnya ngalah juga. Ya sudahlah, walaupun aku membocorkan 10 fakta, toh aku masih punya 990 fakta lagi.. Keh.. keh.. keh..




Hiji-Ciek
"Gugun" is just my nick name
Tak banyak yang (mau) tahu nama asliku. Hehehe.. Seorang teman pernah bertanya, gugun itu siapa? Gugun hanyalah nama karangan. Aku pengen punya nama yang sederhana dan gampang di ingat di dunia maya. Asyik rasanya punya nama yang kita karang sendiri, lalu ngetop karenanya. He3x. Meskipun begitu, hal ini tidak mengurangi rasa hormat pada nama yang telah diberikan orang tua. Lalu nama saya yang sebenarnya siapa? Ask me! :-)



Dua'-Duo
Ibu meninggal karena ulah ku (?)
Aku masih segede termos saat ibu meninggal. Bisik-bisik yang pernah aku dengar, ibu yang saat itu mengandung 8 bulan, terjatuh di kamar mandi, gara-gara aku. Kata mereka, aku meronta-ronta saat hendak dimandikan, lalu beliau terpeleset, jatuh dan mengalami pendarahan hebat. Bayinya (adikku) menyusul ibu beberapa jam kemudian .... Bertahun-tahun sejak kejadian itu aku selalu dihantui rasa bersalah yang nggak jelas......... bahkan sampai sekarang.



Tilu-Tigo

Pernah memelihara kecoak

Aku dan abang, sebelum kami mengecap bangku sekolah (duh.. ternyata
bangku sekolah itu pahit ya, huek!), hobi sekali memancing. Bukan cacing yang kami jadikan umpan, karena aku akan berteriak-teriak kesetanan bila melihat makhluk bulat panjang dan berlendir itu. Kami memakai kecoak yang dipotong kecil-kecil. Kecoak-kecoak yang aku pelihara sendiri di sebuah aquarium bekas yang sudah bocor. Jijik? Nggak lah, malah asyik!

FYI
, saat ini aku sudah tidak takut lagi dengan makhluk bulat panjang dan berlendir itu.. ;-)


Opat-Ampek
Guru agama, si pencubit pusar
Waktu SD (yap! aku pernah SD), pelajaran agama bukanlah pelajaran favorit bagiku. Jujur, aku tidak begitu suka dengan sang guru. Wanita paruh baya berselendang panjang renda-renda itu sering membentak kami yang tak pernah bisa diam, selalu ngobrol saat dia mengajar. Teriakan beliau, seperti kaleng yang di lempar batu. Keras sekali. Alih-alih diam, aku malah tertawa-tawa. Bu guru menghampiri lalu mencubit pusarku. Aku makin tertawa-tawa kegelian. Bu guru mengusirku pulang dan baru boleh sekolah lagi kalau aku datang dengan orang tua. :-(



Lima-Limo
Cinta pertama di SMA

Pengen tau cinta pertamaku? Teman sekelas di SMA ! Telat banget yah?
Cinta pada seorang jago gambar yang pendiam. Tapi entah kenapa, dengan aku, dia bisa sangat bersemangat menceritakan gambar-gambar (komik sederhana) yang baru saja dibuatnya. Aku tergila-gila, bahkan hampir gila benaran. Setiap pulang sekolah, kami selalu melaju berdua di skuter merah. Aku pernah dihadiahi karikatur wajahnya yang kemudian ku simpan di saku baju, dekat jantungku. Tapi gambar itu aku robek kecil-kecil, lalu ku buang ke sungai di belakang sekolah, ketika aku tahu dia berpacaran dengan Wati, anak ibu kantin.



Genep-Anam
Terlalu mudah jatuh cinta
Mengapa ada orang yang terlalu mudah jatuh cinta? Pertanyaan untuk diriku sendiri. Dan sering kali cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Merana oh merana. Tapi itulah fakta. Hanya karena kebaikan hati, kehalusan budi dan keramahan pekerti, aku sudah merasa ingin memiliki (cintanya). Lalu aku akan termehek-mehek ketika doi dengan halus maupun kasar menolakku (masak jeruk makan jeruk?). Hiks.. hiks.. hiks...


Tujuh-Tujuah
Kebiasan jelekku; delete contacs
Aku selalu berfikir, buat apa punya banyak contact di multiply (bahkan ada yang sampai ratusan) tapi tak pernah benar-benar melakukan kontak (sekedar memberi komen atau PM). Tak mengapa punya sedikit, asal benar-benar bisa jadi teman (online buddy, sekalipun). Nah, akibat pikiran yang mungkin banyak orang tidak sependapat ini, aku sering menghapus contact-contac di multiply, karena alasan sudah tak respon lagi atau tak sepaham (duh). Delete sana, delete sini... oppsss sorry pisan...


Dalapan-Dalapan
Semakin dilarang, semakin dilakukan
Pemberontak, itu gelar yang diberikan saudara-saudaraku. Mereka yang tahu, tak akan pernah melarang apapun yang mereka ingin aku tak melakukannya. Semakin aku dilarang melakukan sesuatu, semakin aku melakukannya. Pernah suatu waktu (kira-kira umur 13 tahun), abang mengancamku untuk tidak menggunakan pensil warna miliknya. Bukannya menta'ati, aku malah merebut pensil itu darinya, beberapa bahkan patah terinjak-injak oleh ku. Abang menangis sesegukan. Aku tidak tega melihatnya. Ayah yang kebetulan melihat kejadian itu hanya diam, memijit-mijit kepalanya. Keesokan harinya, aku memecahkan celengan ayam milikku, membelikan abang pensil warna yang baru. Kebiasaan buruk ini kadang masih muncul sesekali, di usiaku yang sudah tidak imut lagi ini... :-)


Salapan-Sambilan
Hidung sensitif,
lambung melankolis
Cara mudah membunuhku : Pertama, hembuskan saja asap rokok tepat di hidungku. Aku akan kelagapan kehabisan napas! Sumpah, aku tidak tahan asap (rokok). Semua oksigen di paru-paru dan pembuluh darahku serasa tersedot dan terikat pada CO2 yang terkandung dalam asap (rokok), yang membuat aku seperti ikan dikeluarkan dari air. Kedua, tambahkan sambel (cabe) dalam makananku. Aku akan diare selama berhari-hari, lalu dehidrasi dan lemas. Pada mulanya teman-temanku terbahak mendengarkannya, bagaimana mungkin gugun yang masih ada 'hubungan darah' dengan Siti Nurbaya (ayah padang, ibu sukabumi) ini nggak bisa makan sambel (cabe). Tapi setelah mereka membesuk saat aku di rumah sakit akibat diare 3 hari 3 malam, tak satupun dari mereka berani tertawa.



Sapuluh-Sapuluah
Belajar renang saat sudah
kepala 3!
Mungkin ada yang tidak percaya, termasuk aku, belajar berenang bisa dimulai di usia berapun. Mulai dari brojol dari perut ibu, hingga tua renta sekalipun!
Bermula dari olok-olok teman kost, karena aku tidak bisa berenang, aku berusaha keras untuk bisa. Awal-awal belajar, hampir setiap pekan aku menyeburkan diri di kolam. Aku masih ingat jelas, kolam renang wisma duta berlian, kampus ipb darmaga, jadi saksinya. Aku merelakan kulitku menghitam, rambutku kasar bak paku (karena kaporit) dan mata merah bak pemabuk. Harga yang harus aku bayar untuk tidak lagi di olok-olok. Dan aku akhirnya bisa berenang! Mau bukti?? (hehehehe)

Cukup sekian dulu sodara-sodara. Entah penting, entah tidak. Terima saja 10 fakta ini dengan lapang dada.. (halah).

Juru Damai Cilikku

Mudik ke sukabumi, walau tak terlalu jauh dari bogor, bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Terjebak macet dan naik kendaraan umum yang padat pula. Sebenarnya si teteh sudah mengingatkan untuk pulang lebih awal, dengan nyinyir. Tapi dasar si gugun, bila disuruh - dilanggar, bila dilarang malah dilakukan. Bahkan tawaran untuk pulang barengpun pun ku tolak, alhasil si teteh langsung cemberut.

Hmmm... sebenarnya ada alasan khusus kenapa saya lebih suka pulang saat malam takbiran. Pertama, malam hari udara terasa lebih nyaman dan udah nggak puasa. Kapanpun lapar bin haus menyerang, tinggal lep dan glek saja!. Sedangkan kalau siang hari, sudah kebayang lah lemesnya.... ;-). Kedua, pulang disaat orang-orang mengumandangkan takbir dan tahmid terasa lebih syahdu. Halah! Nggak juga sih (jujur), sebenarnya lebih karena males di ceramahi sodara-sodara kalau sudah di rumah. Makin awal aku pulang, tentu makin lama masa ceramah itu akan berlangsung. Apalagi kalau bukan soal, kenapa jarang nelpon, kok jarang nengok, sibuk amat sih, udah kaya belum, udah naik pangkat belum atau kapan mau berkembang biak (a.k.a. kawin). Kuping sampai tebal. Udah gitu yang ceramah berganti-ganti. Berjam-jam!

Btw, sejak awal si teteh udah mulai kelihatan bertanduk. Tawaran pulang bareng, ku tolak. Udah gitu, saat aku nyampe rumah sukabumi, udah malam banget, sampai-sampai si teteh tertidur di depan tipi, nungguin. Makin bertanduk aja dia. Ngerasa bersalah juga sih, tapi siapa juga yang nyuruh nungguin.

Selesai sholat id, si teteh mulai menunjukkan gejala-gejala mau meledak. Kali ini (lagi-lagi) aku menolak saat dia ngajak keliling-keliling ke tetangga. Padahal khan abis sholat di lapangan kita semua udah pada salaman ama tetangga. Ngapain pula muter-muter dan salaman lagi. Tapi si teteh keukeuh sumeukeh untuk ngajak keliling, tapi aku ngotot bin ngeyel nggak mau. Mukanya jadi merah padam.

Aku merasa, sejak ayah nggak ada (lagi-lagi soal ayah), si teteh jadi sok ngatur ini itu. Padahal dia khan tau, adiknya ini juga sudah tak muda lagi (huwaaaaaaaaa), alias sudah dewasa, sudah bisa ngatur diri sendiri. Sepulang dari tetangga (dengan sodara-sodaraku yang lain), si teteh mulai menabuh genderang perang :

"Kamu sekarang gak bisa dibilangin"
"Maksud teteh?
"Ya.. setiap di kasih tau, gak nurut. Di ajak ini itu nggak mau"
"Tergantung .."
"Apa?"
"Abis nyuruhnya kaya' gitu"
"Kaya' gimana?"
"Saya gak bisa, nggak suka. Udah gitu sekarang teteh beda"
"Beda?"
"Banyak ngatur. Nggak kaya dulu"
"Trus kamu udah nggak mau di atur?
"Nggak gitu juga"
"Trus?"
"Saya khan udah gede. Berasa kaya' anak-anak tau, di atur mulu"
"Kamu yakin udah bisa ngurus diri kamu sendiri? Kerja kamu masih aja yang itu-itu. Kamu masih kost. Belum kawin-kawin?"
"Teh, udah?"
"Kamu nggak lihat orang-orang? Hidup itu maju. Nggak statis kaya' kamu"
"Teh! Udah!"
"Liat sepupumu, si Odit. Udah punya rumah, mobil, istri, anak."
"Teteh! Udah! Kenapa harus dibanding-bandingkan kaya' gitu?"
"Aku malu, gun. Aku malu ama almarhum ayah dan ibu kita, malu ama tetangga. Orang-orang ngomongin kamu"
"Ok, kalau teteh malu. Saya balik ke Bogor sekarang. Saya minta maaf udah bikin teteh malu. Tapi saya nggak mau di samakan dengan orang lain. Tiap orang beda. Rejekipun beda"
"Terserah kamu" mata teteh memerah.

Aku segera mengemasi ransel satu-satunya yang ku bawa kemaren. Masih dengan baju koko, bergegas memakai sepatu. Ternyata sejak tadi, tanpa kami sadari, Luki dan Putri, dua ponakan cilik ku (putra-putri teteh) memperhatikan saat kami bertengkar. Mereka lari memelukku.

"Om gun mau kemana?"
"Om mau ke Bogor, sayang" suaraku parau
"Khan kita belum ke pelabuhan latu. Kalau om pelgi siapa yang ngajalin belenang"
"Iya om, nanti nggak ada yang mau ngupasin kulit udang trus bacain buku cerita kaya' dulu.."

Aku melihat kedalam mata Luki dan Putri. Mata anak-anak yang lugu tapi tulus. Lalu Putri mengencangkan pelukannya. Dadaku sesak. Luki menarik-narik ranselku.

"Om di sini aja"

Aku terdiam. Si teteh menghampiri, merangkul luki, putri dan aku sekaligus.

"Om Gun pasti ikut kita ke Pelabuhan Ratu. Ngupasin kulit udang dan bacain buku cerita. Iya khan Om?"

Teteh tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutku... dan kamipun berdamai.

*hapunteun teh*

Melawan Harus

Kamu harus ini !
Kamu harus itu !
Kamu harus ke sini !
Kamu harus ke situ !

STOP !

Sudah saatnya kita melawan harus !
Jadi diri sendiri, tentukan yang terbaik untuk diri sendiri
Tanpa HARUS jadi ini itu seperti yang orang lain mau !

Kekasih Dalam hati

Bila bibir tak mampu berucap, biarlah hati yang berkata.
Bila mata tak mampu menatap, biarlah getar sukma yang menjelma.

Tak semua rasa harus berujud, tak semua damba menemukan pelabuhannya.

Biarkan ia jadi kekasih (dalam) hati saja.

Pajajaran Bogor
Jum'at 17/10/08. 08.08 wib

Kekasih Dalam hati (3)

Tak pernah aku sangka sebelumnya, bahwa nenek tak benar-benar mencintai kakek. Hingga beranak bercucupun, bahkan sampai kakek meninggal. Aku sedih mendengarnya. Bagaimana mungkin nenek mau mengorbankan perasaannya begitu lama untuk seorang lelaki lebih tua yang dijodohkan keluarganya? Bagaimana ia mampu memendam rasa cintanya pada temannya di sekolah rakyat dulu. Lebih tak percaya lagi, nenek mau menjenguk (menziarahi) keduanya, karena orang yang begitu dicintainya di makamkan di pekuburan yang sama dengan kakek. Aku pernah bercanda, "Kok mirip sinetron nek?. Nenek hanya diam. Sejak itu aku tak pernah mempertanyakan lagi kebenaran cerita itu.

Pada awalnya aku pernah berfikir nenek telah mengkhianati kakekku. Menyimpan cinta lelaki lain tapi hidup tanpa cinta sepenuhnya dengan suami yang sah. Perlu waktu yang lama untuk bisa memahami jalan pikiran beliau, hingga suatu waktu beliau pernah berkata : Aku tak benar-benar mencintai kakekmu, tapi telah berjanji untuk menjaga rumah tanggaku. Biarlah ia (teman semasa sekolah rakyat itu) jadi Kekasih (dalam) Hati saja...

Aku menceritakan hal tentang nenekku ini ke Boby. Aku tak diijinkan untuk memanggilnya ustad lagi. Ia berfikir sebentar, lalu berkata :

"Apa aku seperti kakek-kakek wahai wanita tua?"

Lalu ia tertawa lebar, meraih bahuku, menelikung dan membantingku ke lantai.
Dasar! Entah kapan aku bisa ajak dia ngomong serius...
:-(

Parung, 15/10/08. 06.30 wib

Kekasih Dalam hati (2)

Rita tak merasa bahagia menikah dengan Agus. Walau mereka telah memiliki anak, tapi tak merubah apapun . Ketika berbelanja di sebuah mall ia bertemu dengan Wawan, kekasih masa kuliahnya dulu. Mereka ngobrol lama dan saling berkisah tentang diri masing-masing. Rasa yang dulu pernah adapun akhirnya muncul kembali. Rita dan Agus tak pernah benar-benar bisa membunuh cinta diantara mereka.

Lain Rita, lain pula Ganjar. Tak banyak yang tahu hubungannya dengan Baran lebih dari sekedar teman. Baran selalu siap untuk Ganjar saat senang dan susah. Sedangkan Ganjar adalah recycle bin buat Baran, tak ada masalahnya yang tak ia bagi dengan Baran, yang selalu siap mendengar dan memberi solusi. Baran, bujangan yang mantap tak akan menikah wanita, gelisah ketika tahu Ganjar dijodohkan dengan Dewi. Mereka masih saling sayang dan mencinta. Lalu? Haruskah Rita lari dari perkawinan yang bak penjara? Atau pantaskah Ganjar membatalkan pertunangannya dan memilih hidup dengan Baran?

* semua nama hanyalah perumpamaan belaka.

Kekasih Dalam hati (1)

Tuhan Maha Pemberi. Manusia diberi kasih yang berlimpah di hati. Saat masih sendiri, ia akan mencari labuhan hati untuk berbagi kasih. Saat ia berkeluarga, kasih itu terus bertambah seiring bertambahnya putra dan putri. Bahkan saat ia telah beristri, kasih itu masih saja ada hingga ia ingin berbagi dengan yang ke-dua, ke-tiga dan ke-empat. Oopss... :-)

Seorang tua bijak pernah berkata, bahwa kasih (baca: rasa sayang, suka, cinta) tak selamanya harus dituruti, karena manusia tak selalu bisa bedakan nafsu dan cinta. Rasa itu tak selalu dapat diwujudkan, bisa jadi karena sang pujaan tak sudi menerima. Maka jadilah ia kasih tak sampai. Tapi bagaimana jika sang pujaan menerima? Tak soal bila hukum dan norma membolehkan, tapi bagaimana kalau tidak? Haruskah ia berakhir sebagai cinta terlarang? Kenapa tak coba jadikan ia kekasih (dalam) hati? Maksudnya? Caranya?

Anak Sekecil Itu

Walau lebaran sudah lewat dua pekan, tapi masih saja ada keluarga yang datang bersilaturahmi ke rumah orang tuaku. Nggak ada salahnya khan. Mungkin karena kesibukan mudik ke keluarga dekat, kunjungan ke saudara jauh baru bisa dilakukan setelahnya.

Salah satu keluarga jauh kami berkunjung ke rumah. Sepasang suami istri, keluarga muda dengan satu orang anak perempuan umur 5 tahun. Qonita, namanya. Gadis kecil ini sangat cantik. Ia memakai baju muslim anak-anak dengan berkerudung kuning gading. Sangat serasi dengan pakaian ayah ibunya. Aku perhatikan, anak ini sangat aktif dan lincah. Ia tidak canggung menyapa semua orang yang ditemuinya. calamualaikum.. calamualaikum (maksudnya mungkin assalamu'alaikum).. ujarnya setiap ketemu orang.

Qonita tidak bisa diam, walau ibunya memanggil untuk duduk di ruang tamu, Qonita sibuk jalan-jalan di rumah orang tuaku. Setiap kamar dimasukinya ia selalu mengucapkan salam. Calamu'alaikum.. calamu'alaikum.. lucu sekali gayanya. Begitu terus berulang-ulang.. bahkan ketika masuk ke dapur dan kamar mandipun dia mengucapkan salam, padahal tidak ada orang saat itu. Anak ini kelihatan cerdas dan aktif, sungguh pintar ayah ibunya mendidiknya...

Aku akhirnya berhasil mengajak Qonita ngobrol. Dengan mainan yang ku sodorkan padanya iseng-iseng aku perhatikan kerudung kuning gading yang dipakenya.. sekilas aku melihat seperti ada motif bulir padi dan bulan sabit di sana.. tidak terlalu kentara sih.. Akupun bertanya pada Qonita..

"Kerudungnya ada gambar apa niii?
"pe-ka-es" jawab Qonita tangkas..
"Masa sih" aku bertanya ulang
"Iya.. nanti pilih pe-ka-es, oom" jawab Qonita lagi

Aku langsung terdiam.. Sebenarnya hak orang tuanya ngajarin apapun pada anaknya. Tapi please deh.. Anak sekecil itu gitu loh

Cikembar Sukabumi, 19/10/08. 6.30

Berdamai Dengan Rasa Sakit

Beranikah kita menghadapi rasa sedih? Sedih karena seseorang yang kita sayangi kecelakaan. Sejak tabrakan tahun 2007 lalu, kau harus di opname dan berbulan-bulan terbaring lemah di tempat tidur. Aku langsung ke Bandung sehari setelah kecelakaan itu. Walau tak diijinkan masuk ke unit gawat darurat, tapi cerita adik perempuanmu membuatku terduduk lemas.

Mengapa kita lari dari rasa pedih? Pedih melihat mu meneteskan air mata, pertanda rasa sakit yang amat sangat. Dan merelakan tubuhmu di tusuk obat bius berulang-ulang. Aku menyentuh telapak tangan mu, mendekat dan berbisik ke telinga mu, “Cepat sembuh ya”. Tenggorokanku terasa sakit mengucapkan tiga kata itu.

Kenapa kita harus mengingkari bahwa kita memang terluka? Terluka melihat rahang itu menyisakan tulang menonjol, lengan kokoh itu sobek dan dada bidang itu lebam membiru. Dan setiap membesukmu, bau obat pereda rasa sakit itu membuatku mual.

Aku pernah mengingkari kalau aku sedih, pedih dan terluka. Mengapa aku jadi pengecut seperti itu?. Rasa itu tidak akan hilang, sampai aku menghadapi dan berdamai dengannya. Kenapa orang mau menelan obat yang pahit? Karena ia tahu akan sembuh karenanya. Hari ini aku datangi gundukan tanah merahmu. Bacaan Al Fateha dan doa bergetar dari bibirku. Walau semua tak sama lagi, setidaknya aku telah berdamai dengan rasa sakit itu. Aku mengakui dan aku menerimanya.

Selamat jalan sahabat...
Bandung
, 2 Agustus 2008Untuk Kerang, terima kasih karena telah membuatku kuat.

Nenek Mencintai Codetku

Mungkin tak banyak yang tau
(tak terkecuali aku)
Apa itu "Mencintai apa adanya" ?

Joko : Aku mencintai Tini karena dia cantik
Tina : Slamet tajir sih, makanya aku suka
Burhan (seorang ayah) : Istriku paling sexy, makanya aku setia
Virni (seorang istri) : Kalau suamiku bukan sarjana mana mau aku!
Mia (seorang ibu) : Ayo! Mama sayang kalau kamu pinter
Dody (brondong) : Dia suka nganter aku ke kampus dan ngajak makan, sayang banget deh ama
Bang Baron!
-------------------------------------------------------
Jangan tanya seberapa badung gugun saat kecil. Tetangga sebelah rumah pernah melemparku dengan sapu, sebagai balasan karena mencuri jambu. Nenekpun berulang-ulang menasehatiku.
"Gun, jangan nenek dibikin malu. Minta kalau mau"
"Pasti nggak di kasih!" teriak ku
"Coba minta dulu"
"Nggak MAU!"

Suatu hari gugun kecil kena batunya. Saat kabur karena disuruh ngaji, si gugun terpeleset dan jidatnya sobek sejempol kaki. Luka itu meninggalkan bekas codet sampai sekarang. Beberapa waktu berselang, si nenek memeluk dan mengusap-usap codetku
"Gun, kamu cucu paling nakal yang nenek punya. "
"Masa' sih, nek?"
"Iya! Lihat saja saudara-saudaramu. Nggak ada yang suka membantah. Semua nurut.
Beda ama kamu!. Tapi apapun adanya kamu, nenek tetap sayang"
"Apa karena aku anak kaleng?"
"Maksudmu, nak?"
"Kakak-kakak ku khan minum susu ibu. Sedangkan aku minum susu kaleng!"
"Hush! Jangan begitu, almarhum ibumu nanti sedih"

(gugunpun terdiam seribu bahasa)

Rezeki, Jodoh, Ajal & Takdir. Berat !

Entah sudah berapa kali saya mendengarkan hadist bahwa rezeki, jodoh, ajal dan takdir baik / buruk seseorang telah ditetapkan sejak roh di tiupkan pada saat masih di rahim ibu..

{SD} ; ketika ngaji di surau Angku Burhan
{SMP} ; saat pelajaran agama di kelas Bu Maryam
{SMA} ; di acara buka puasa bareng di rumah Paman Rusli
{Univ} ; bincang-bincang di rumah dosen bimbingan skripsi
{Di tempat kerja} ; saat pergantian direktur bulan lalu...

... tapi tak ada yang lebih menghujam begitu dalam saat kata itu terucap dari bibir tua Ustad Ahmad. (NB : Ustad Ahmad, ustad yang menjadi tempat kami bertanya masa-masa kuliah dulu. Jangan salah, gini-gini, saya dulu sering ngaji dengan teman-teman kuliah, dan ustad favourite kami adalah Ustad Ahmad..)

Ketika tau saya begitu gundah dengan kondisi saat ini (jomblo yang tak kenal henti mencari jadi diri), seorang sahabat sekaligus saudara menyarankan untuk menemui seorang ustad yang sudah berumur (bukan ustad muda yang masih jomblo, apalagi Ustad Boby) untuk meminta bantuan, saran atau apalah namanya. Teringatlah saya akan Ustad Ahmad.. saya pun menemui beliau 3 hari lalu...

Setelah basa-basi tentang bagaimana kabar selama ini, sang ustad pun tak tahan untuk bertanya :

"Udah nikah, gun?"

"Belum ustad " saya tersenyum getir

"Belum ketemu atau belum mencari?"
Kembali saya tersenyum pahit, "Saya sudah usaha ustad ... " saya berbohong di depan orang yang sangat saya hormati.

"Gun, untuk hal ini yang pertama harus kita yakini adalah rezeki, jodoh, ajal dan takdir baik / buruk kita telah diatur sejak roh ditiupkan "

Saya memandang Ustad Ahmad dengan mata yang mulai terasa panas, entah kenapa kutipan hadist yang diucapkan Ustad Ahmad begitu menghujam dalam, jauh ke dalam lubuk hati. Saya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

"Kedua .. Manusia diciptakan berpasang-pasangan, laki dan perempuan. Penyair bahkan sampai bilang bahwa wanita berasal dari tulang rusuk laki-laki" lanjut Ustad Ahmad. Saya mulai merasakan riak-riak di mata saya, sebelum telaga itu buncah, saya pun pamit ke kamar mandi, menumpahkan semuanya di sana... Bagaimana mungkin saya tidak termehek-mehek bin mewek? Selama ini saya masih berfikir Boby lah harapan saya. Boby yang begitu mempesona, walaupun belum tentu Boby menginginkan hal sama ....

Setelah berwudhu dan menjadi lebih tenang, saya kembali menemui Ustad Ahmad, kamipun melanjutkan obrolan dan saya sedikit lebih santai.. Di akhir obrolan sang ustad bercanda :
"Apa perlu ustad cariin, gun?"
"Eh, oh, egggh... nggak usah ustad. Saya akan ikhtiar dulu"
"Hmmmm... tapi jangan lama-lama. Kiamat sudah dekat " sang ustad terkekeh.
"Isya Allah, Ustad" saya tersenyum.
-----------------------------------------------
Beberapa jam yang lalu saya menelpon KERANG (teman, sahabat dan saudara yang menginspirasi saya untuk menemui ustad tua; bukan ustad muda yang masih jomblo) yang selalu mau mengorbankan dirinya untuk menjadi Recycle Bin terbaik saya. Buat KERANG SAOS TIRAM, terima kasih banyak...

------------------------------------
Versi lengkap dari
Hadis riwayat Abdullah bin Masud r.a :

Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga
sumber

Cumi & Kerang

Cumi dan Kerang dua jiwa yang berbeda
Kerang mencintai Udang, sedangkan
Cumi menyukai Cumi, sesekali terpikat Kerang Tampan

Pada hari dimana Cumi dan Kerang berkawan
Mereka berkirim pesan lewat gelombang
Di samudra yang maha luas
Di sanalah persabahatan itu bermula

Persahabatan mereka unik
Mulai dari berteman biasa hingga seperti sahabat lama
Ada masa saling puja dan puji
Ada masa saling caci dan maki
Cumi dan Kerang banyak lewati cobaan
Atas pertemanan mereka

Suatu hari, Cumi yang emosional dan pintar
Terpikat Kerang yang sabar tapi nakal
Cumi memberi tahu Kerang. Kerang terlonjak kaget
Bagaimana mungkin? Cumi hanya akan bertepuk sebelah tangan
Karena Kerang telah memiliki Udang, dan
Cinta Mereka telah berbuah manis

Cumi pasrah, pengen rasanya dijadikan yang kedua
Lagi-lagi gagal, karena Kerang menampik halus
"Cum, kamu pintar, senyum mu menawan, kita lebih cocok berkawan"
Cumi tersipu saat Kerang memuji (Humairoh.com)
"Cum, itu khan sifat Udang, bersemu kemerah-merahan?" Kerang keheranan
"Iya. Dalam diri cumi khan ada jiwa udang: lembut, perasa & mudah tergila-gila pada Kerang yang humoris (halah)".

"Cum, jadilah Kerang. Banyak Udang yang bisa kau cintai"
Begitu Kerang mengingatkan berkali-kali
Tapi Cumi masih saja tak berubah
Masih saja terbuai mimpi indah
Akan hidup sentosa dengan Cumi lain..

Tidak hanya sampai di situ
Saat Kerang berlayar jauh ke utara
Cumi terkena malarindu tropikangen
Cumi meriang gembira, hatinya gundah gulana
Menanti Kerang kembali ke Selatan

"Cumi, apa bedanya kalau saya di Utara atau Selatan?
Toh, kita masih di samudera yang sama
Beda dong! Di Selatan aroma Kerang terasa lebih kuat, dekat dan hangat
Bila jauh, samudra merampas rasa, selat menghalangi aroma, hilang terbawa angin senja... (lagi-lagi dipaksakan)

Kerang tak pernah putus harapan untuk mengajak Cumi menjadi Kerang (berlayar ke samudera yang benar), mencoba untuk mencintai udang...

Sedangkan Cumi, walau cintanya tak berbalas, tetap berharap persahabatan (dan persaudaraan) nya dengan Kerang bertahan selamanya....

[Bogor] [25/8/8] [ 21.07 wib]

Membuka Aib Sendiri

Gw ngaku ke teman gw bahwa gw udah ngelakuin lagi ama Boby. Gw sengaja nggak sebutkan jabatanya/kerjaannya apa, karena gw nggak mau orang-orang lain dengan profesi yang sama atau mereka yang respek terhadap profesi itu akan merasa nggak nyaman bahkan tersinggung.

Boby, orang yang menurut gw bakal jadi panutan dan tauladan. Mengajak gw melakukan apa yang gw hindari sejak lama. Keinginan yang gw tahan sekuat tenaga dan gw alihkan / lampiaskan ke arah yang lebih 'positif'. Akhirnya jebol juga.

Boby si kasar (mentang-mentang anak taekwondo), tapi gw nggak bisa tahan untuk nggak ngelirik bekas cukuran di pipinya yang kebiru-biruan. Gw kesel ama dia yang selalu memaksakan kehendak, tapi gw dengan bodohnya mengikuti saja mau si kasep dari pasundan itu.

Pengen rasanya gw menampar wajah bersih innocent itu, tapi setiap kali lengan kokoh dengan rambut-rambut halus itu mencengkram tangan gw. Gw jadi lembek! Seperti roti marie yang di celupkan ke susu. Siap di santap!

Kadang gw benci ama diri gw sendiri! Gw merasa hina, rendah dan nggak ada harganya dimata dia...Tapi gw luluh melihat mata tajam itu.. Damn it!

Seorang sahabat berbagi saran di seberang sama

Orang yang ngaku2 dan punya status sebagai u***d aja kelakuannya seperti itu
ya
LO BISA LEBIH TINGGI DERAJATNYA DIBANDING DIA
dengan menjaga komitmen lo
thanks bgt bro
sekarang apasih yang membuat orang tinggi derajatnya?
status u***d?
ngga menjamin bro
gw ngerasa ditampar, tapi gw jadi sadar
u***d itu justru yang paling berat bebannya
lo harus bangun dari mimpi
iya
kenyataannya kita sama2 berat
***
lu and gw
sama2 menjalani kisah hidup yang berat
thanks bro

gw yakin ini ujian buat gw
lo kasih tau tuh sama tu orang
kalo apa yang dia lakukan itu salah
ya
dia pasti mengerti
gw bakal ngomong walau berat
bro
gw mau kerja lagi, makasih sarannya
gw agak lega sekarang
oke
makasih bro

Ustad Boby, Berdosakah Kita? (3)


Ustad Boby, Berdosakah Kita? (2)

Selepas pertemuan pertama, kedua dan ketiga dengan Ustad Boby. Kami jadicukup akrab, jadi sering berkomunikasi, baik melalui telpon, sms maupun e-mail. Panggilan Mas Gun dan Ustad Boby sudah jarang terdengar, berganti dengan panggilan kamu, aku atau saya. Bahkan kadang Gun atau Boby saja.

+ Gun
- Ya, Ustad.
+ Mulai lagi nih?!
- Eh, maaf.... iya Boby. Ada apa?
+ Bisa datang nggak, Jum'at besok?
- Ke Bintaro?
+ Iya. Ada yang mau saya obrolin soal monitoring program
- Tapi... monitoring khan masih 2 pekan lagi
+ Eh, iya yah? Egh..hmmmm... Tapi khan... tapi harus dipersiapkan dari sekarang. Hal itu perlu diskusikan lebih awal khan?

(Saya terdiam sejenak)

- Bob, saya sudah bikin timetable dan aktivitasnya secara lengkap. Coba deh cek di proposal lengkap yang saya email kemarin.
+ Justru itu.. Aku perlu diskusi soal time table itu. Bisa datang ya? Ya?
- Hmmm..
+ Sudah ada agenda lain ya?
- Belum. Kenapa?
+ Ok. Saya tunggu di Bintaro ya. Assalamu'alaikum!

(klik, bunyi handphone di tutup)

- Wa'alaikumsalam

(Saya terbengong-bengong)

Alhasil, terpaksa berangkatlah saya ke Bintaro Jum'at itu, selepas sholat. Saya sengaja ijin pergi sebelum jam pulang kantor, agar bisa sampai lagi di Bogor sebelum magrib. Dalam perjalanan Bogor - Bintaro, tanpa saya sadari Boby menelpon beberapa kali, lalu ia mengirim sms. Saya benar-benar tidak tahu. HP dalam posisi silent.

Sesampai di Bintaro, aku melihat Boby duduk di teras masjid. Memandang lurus ke arah ku. Sorot matanya terlihat tajam. Tanpa senyum.

- Assalamu'alaikum
+ Walaikum salam. (Boby masih saja tanpa senyum)
- Maaf, nunggu lama ya
+ Kamu nggak bawa hp?
- Bawa. Kenapa?
+ Telpon saya tidak di jawab. Sms tidak di balas.
- Astagfirullah... hp tadi di silent. Di dalam tas
- Maaf Bob..

(Boby masih diam, dia menunduk)

+ Maaf. Saya benar-benar tidak tahu
- Saya pikir kamu kenapa-napa (suaranya mulai melunak)
+ Maksudmu?
- Ya, aku fikir kamu nggak jawab telpon ku karena kecopetan, kecelakaan atau apa gitu!
+ Loh, kamu kok ngebayangin saya celaka?
- Bukan begitu!
+ Lalu apa?
- Kamu nggak ngerti? Ya sudahlah! Berarti kurang cerdas!
+ Enak saja!

Saya melempar tas yang sedari tadi saya pegang, ke muka Boby. Ia lari terkekeh-kekeh.

Tanpa kami sadari, kami lupa membahas rencana monitoring program. Sepanjang sore itu kami hanya ngobrol : tentang harga BBM yang melonjak, demo dimana-mana dan sistem pemerintahan yang kacau balau, sambil makan mie pangsit di pojok masjid. Secara iseng saya sempat bertanya soal kapan ia akan menikah. Boby hanya terdiam sebentar, lalu berujar "Eh, Gun.. Udah mau magrib! Kamu nginap di sini aja ya..." Lalu Boby berjalan menuju masjid. Kembali aku terbengong-bengong. Garuk-garuk kepala. Lalu menyusulnya...

Bersambung ......

Ustad Boby, Berdosakah Kita? (1)

Saya mengenalnya pertama kali saat ditugaskan kantor untuk presentasi program kerja bareng, antara kantor saya dan dia. Tak pernah terfikir sebelumnya salah seorang yang akan saya temui ini umurnya sebaya. Biasanya saya menemui bapak-bapak 1/2 baya, 3/4 baya atau bahkan orang-orang yang "jalan selangkah..... batuk, jalan selangkah....... batuk lagi". Tapi yang ini beda, seorang ikhwan dengan wajah bersih dan bening. Kata nenek, air wuduk akan membuat wajah bersih dan bening (dan tentunya dengan tidak melalaikan sholat).

Saya mencoba bersikap sewajar mungkin. Ada 5 orang bapak-bapak termasuk dia yang mengikuti paparan presentasi saya saat itu. Setiap tahapan rencana program saya jelaskan dengan sebaik mungkin. Setiap pertanyaan yang muncul saya jawab sejelas mungkin dan keinginan saya untuk menatap wajahnya saya tahan sekuat mungkin. Beberapa kali dia tersenyum saat saya mencoba untuk melemparkan joke-joke ringan (sekedar mengurangi rasa grogiku). (Damn.. it!)

"Ok, Nak Gun. Kami setuju dengan program yang ditawarkan. Cuma ada beberapa hal yang perlu lebih di detailkan. Nanti silahkan diskusi dengan Nak Boby".

"Syukron, ustad". Saya menjabat tangan Ustad Rahmat dan bapak-bapak yang lain dengan erat, termasuk ustad Boby.
"Mas Gun, bisa ke ruangan saya sebentar?" dia menunjuk sebuah ruangan
"Baik, ustad"
"Panggil saja saya Boby" seulas senyum mengembang.
"Baik ustad, eh..... Bob". (Damn it!)

bersambung.....................

Aku Yang Pantas Mati, Sayangku

Kamu lelaki yang sempurna. Tinggi, tegap dan sangat gagah. Dagumu yang kukuh di hiasi jambang tipis yang membayang biru bila tersaput matahari pagi. Kulit sawo matangmu bersih. Bulu-bulu halus berlarian di kedua lengan kokohmu. Mata yang teduh, dihiasi alis tebal. Tak pernah bosan memandang ke dalam telaga sejuk itu...

Pribadimu mempesona. Kau mampu meraba hati. Rasa suka, senang, sedih dan takut. Kau tahu. Bila seseorang melihat ke arahmu, kau paham makna tatapan sekelip mata itu. Kau tak sungkan mengulurkan lenganmu untuk membantu. Kau lepaskan jaketmu untuk menghangkatkan mereka. Dengan senyum menawan kau tuntun seorang nenek tua menyeberang jalan.
Aku tergila-gila padamu. Dadaku meleleh menahan rindu. Tanganku kaku tuk sekedar menyentuh lenganmu.

Suatu hari...
Wajah itu tak lagi tampan.
Dagu itu patah, menyisakan tulang menonjol.
Lengan itu sobek sejengkal tangan.
Dada bidang itu remuk membiru
Dan akibat truk keparat itu
Kau tak mampu mengingat namamu
Masihkan aku khan mengagumimu ?
Masihkah aku khan memujamu ?


Manusia macam apa aku?
Yang hanya mau sisi indahmu
Dan menolak bila semua itu berlalu..
Aku yang pantas mati, bukan kamu.. sayangku

Bogor, 13 juni 2007. 8.30 wib

Ku Mohon Tepati Janji Mu

Tuhan Sang Pemberi Hidup,
Saat belum genap berumur 1 tahun, KAU ambil ibu dan adikku
Tapi KAU berikan nenek yang sabar untuk mendidik, dan
Ayah yang disiplin untuk menguatkanku (?)

Setelah dewasa, kau hadiahi aku rasa kasih dan sayang
Namun, entah kenapa aku lebih tertarik Jaka daripada Dara
Ku tahu KAU murka, tapi aku telah mencoba
Sekuat yang aku bisa, setiap goda datang menyamar cinta

Tuhan Sang Pemberi Maaf,
Dalam sujud di lima waktu, kubasahi sajadah dengan air mata
Iri melihat Deni dan Dewi, punya keluarga sakinah dan si imut Shinta
Sedih bila membayangkan diri akan mati dalam sepi
Tapi kenapa bayangan Boby masih saja menghantui?
Tiap ku tahan, ia muncul makin menggila
Aku bangkit, terseok, terbanting, terseret, bangkit, terjatuh lagi dan berdarah-darah

Tuhanku, Kenapa cobaan ini terasa sangat berat?
Bagaimana aku tahu, bahwa ini semua masih dalam batas kekuatan ku?
Bagaimana aku bisa bertahan menghadapi godaan silih berganti?
Engkau berjanji tidak akan menguji seorang hamba, melebihi batas kemampuannya.
Ku mohon tepati janji MU

Bogor, 21 Juli 2008. Pukul 21.22 wib

Ibu Tak Pernah Meninggal

Bogor, 27 April 2008. Pukul 3 pagi..
Aku terbangun. Tak biasanya aku bangun pagi sekali di hari minggu. Aku bahkan terbangun sebelum ayam tetangga berkokok pertama kali..

Ibu membangunkan ku dengan hembusan udara dingin, tepat di kuping kiriku. "Gun.. banguuun" bisiknya. Ternyata Ibu tidak pernah meninggal. Ia masih ada, dan pagi ini ia membangunkan ku..

----------------------------------------------------
Aku masih segede termos ketika nenek memberi tahu bahwa ibu telah meninggal waktu melahirkan adikku. Anak umur satu tahun sepertiku tak bisa mengingat dengan jelas kejadian itu. Yang aku tahu di rumah panggung kami sangat banyak tamu. Aku melihat Ibu ditidurkan di ruang tengah dan diselimuti kain putih. Dan entah kenapa aku berlari-lari di lantai kayu rumah tersebut. Nenek dengan sigap meraih tanganku dan memeluk erat. Aku meronta-ronta. Hanya itu yang ku ingat.

Lalu, lagi-lagi kata nenek, Ibu kemudian mengajak adik kandungku yang baru dilahirkan seminggu. Mereka dimasukkan dalam satu lubang di dalam tanah yang akhirnya ku ketahui sebagai liang lahat. Ibu ingin ditemani, kata nenek. Lalu aku bertanya, "Nek, aku boleh menemani ibu tidak?". Mata nenek berkaca-kaca. "Kamu masih kecil, kamu belum bisa mengerti". " Adik juga masih kecil, kenapa ia boleh menemani ibu? Kenapa aku tidak?". Nenek diam saja. Dia hanya memelukku, membenamkan wajahnya di tubuh mungilku. Bajuku basah oleh air matanya...

Sejak itu aku tak pernah lagi bertanya soal ibu. Aku tak mau membuat nenek terdiam, memelukku dan bajuku jadi basah oleh air matanya.

Lama setelah kejadian di rumah panggung itu, aku masih berfikir ibu hanya pergi sebentar mengajak adikku jalan-jalan. Mereka pasti akan kembali pikirku. Aku hanya perlu bersabar. Dan pagi ini ibu kembali, ia membangunkan ku..

Bocah Itu Menggodaku

Tak seperti biasanya aku pulang lebih awal. Hari ini aku ada tugas luar kantor, sehingga aku bisa atur seberapa cepat aku harus pulang ke rumah. Tak seperti ketika tugas dalam kantor yang hanya bisa 'ceklok' mesin absensi setelah jam berdentang 5 kali (halah!)

Aku duduk malas-malas di angkutan umum. Sengaja memilih tempat diujung, supaya tak terganggu saat turun naik penumpang. Seragam kantorku (setiap senin pake seragam) sudah awut-awutan. Sebagian sisi bawah kemeja sudah lepas tak rapi lagi. Hanya ada beberapa orang penumpang. Seorang bocah lelaki SMP duduk di depanku. Tak menarik perhatian di awalnya. SMP gitu loh.. Bukannya menganggap remeh, tapi aku bisa dijerat pasal pelecehan anak di bawah umur bila berfikir yang macam-macam. Tapi kalau dilihat-lihat bocah ini cute juga. Tipikal anak jaman sekarang, sehat, bersih dan sudah mulai tumbuh kumis tipis di atas bibir merahnya. Sesuatu dibalik celana mulai bereaksi. Astagfirullah, nggak ah... Lagipula ingat ponakan euy!

Eit, tunggu dulu. Ini bocah dari tadi kok melirik-lirik aku terus? Bukannya ge er, emang kepergok beberapa kali. Eh, bukannya malu atau apa gitu, ini malah senyum-senyum... Ah, biarin aja, kali aja penampilan aku yang kucel sore ini bikin dia geli.

Aku kembali cuek, dengerin suara vina yang mendayu-dayu :
"bergetar hatiku
saat ku berkenalan dengan mu
ku dengar dia menyebutkan namanya"

"Kak, pulang kerja?"
Eh, bocah itu menyapaku.
"Eh iya.. Kamu pulang sekolah?", jawabku gagap, karena si bocah sudah duduk persis si sampingku. Damn it! Nih anak kapan pindahnya..
Eh dia kembali senyum-senyum. Sesekali dia melirik ke arah kemejaku yang awut-awutan.. lalu turun ke celana panjangku..

Eit apa nih maksudnya.. Apa ada yang salah?

"Kak, aku mau ngomong", dia memelankan suaranya
Halah! Apa lagi ini? Apa dia naksir aku? Ah gak mungkin
"Apa?" tanyaku penasaran..
"Resletingya kebuka tuh!"

Astaga!!!!

Kenapa Takut Dibilang Banci?

Saya lahir di lingkungan yang sangat membedakan laki-laki dan perempuan dalam hal-hal yang kadang “tidak masuk akal”. Terus terang saya memang gampang sakit bila kehujanan. Karena itu nenek selalu membekali saya dengan payung kesayangannya. Sebuah payung panjang warna hitam. Di sekolah, beberapa teman mengolok-olok. Mereka merebut payung tersebut lalu saat saya ingin merebutnya kembali, payung tersebut dioper ke teman yang lain sambil mereka tertawa-tawa. Saya menangis, bu guru menasehati. “Jangan cengeng, temanmu khan hanya bercanda..”

Di lain hari saya jadi bahan cemoohan sepupu-pupu karena cara berpakaian. Nenek mendandani saya dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan yang disetrika licin. Rambut diminyaki dan tersisir rapi. Nenek bilang kita memang seharusnya rapi, biar dihormati. Tapi sepupu-sepupu malah mengacak-ngacak rambut dan menarik keluar kemeja saya hingga terlepas. Lagi-lagi saya menangis, bibi dan paman hanya geleng-geleng kepala…

Karena tak punya pembantu, saya selalu membantu nenek mencuci piring, membersihkan rumah dan halaman. Pernah ibu-ibu tetangga memergoki saya sedang mencuci piring. Mereka berbisik-bisik, tapi tetap saja saya bisa mendengarnya; "Anak laki-laki cuci piring??? Sekalian aja pake rok.. hahahaha"

Kebiasaan membawa payung, menangis, berpakaian rapi dan membantu nenek cuci piring itulah yang pernah membuat saya dibilang banci. Waktu itu saya sangat marah, malu dan tertekan.

Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Bukan berarti saya memang sudah jadi banci benaran. Bukan ! Saya sekarang jauh berbeda dengan saya belasan tahun dulu. Saya masih tetap membawa payung kemana-mana (tentunya yang berukuran kecil dan muat dalam tas), secara Bogor khan kota hujan. Saya masih menangis (diam-diam) bila kangen dengan ibu yang telah meninggal. Saya masih berpakaian rapi (sewajarnya laki-laki), karena berpenampilan rapi bertanda kita menghargai orang lain. Dan sampai kapanpun saya akan tetap mencuci piring (terutama untuk nenek saya yang sudah renta). Tak ada satupun kebiasaan itu akan saya rubah..

Bedanya adalah, saya tidak lagi marah, tertekan atau malu bila ada yang bilang saya banci hanya karena saya bawa payung, menangis, atau mencuci piring. Hanya karena alasan yang “tak masuk akal”.

Bogor, 23 Maret 2009. 16.35