Minggu, 05 Juli 2009

Kisah absurd seekor babi

Ada dua pemikat novel Lanang seandainya disandingkan dengan novel lain di rak buku. Pertama adalah embel-embel sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006.

Lanang menyabet juara harapan kedua. Satu peringkat di bawah novel Glonggong karya Junaedi Setiyono, yang lebih dulu beredar. Glonggong cukup manis mengolah sejumput kisah lain di masa perang Diponegoro.

Pemikat kedua adalah sinopsis di sampul belakang. Alkisah, sejak kemunculan makhluk rekayasa genetika antara burung dan babi hutan, penyakit aneh membantai ribuan sapi perah di area peternakan tempat Lanang bekerja.

Bersama pemerintah dan masyarakat, dokter hewan Lanang sibuk mencari tahu biang kerok penyakit aneh itu. Seminar dan penelitian dibuat, tapi penyakit misterius tersebut tak kunjung ketemu. Dukun hewan Rajikun yang menyatakan biang keladinya adalah burung babi hutan — makhluk jadi-jadian —memperkeruh situasi.

Pergulatan antara mistikisme tradisional melawan bioteknologi modern menjanjikan ramuan fiksi sains bercita rasa Indonesia. Harapan langsung terbit, Lanang akan menyajikan tema fiksi yang masih langka di Indonesia: fiksi ilmiah. Terbayang novel ini bakal sarat dengan dialog-dialog ilmiah yang cerdas, tajam, dan lincah.

Tapi, nyatanya, setelah bersusah- payah mengunyah membaca novel ini sampai akhir, harapan tinggal harapan. Mulanya Lanang melangkah lumayan cepat. Cikal bakal ketegangan muncul di awal dengan gelombang kematian ternak sapi. Lalu datang pula makhluk babi bersayap.

Namun semakin jauh ke dalam, langkah Lanang mulai kedodoran. Ceritanya seolah tak bergerak ke mana-mana. Fokusnya juga buyar. Alur ceritanya silang sengkarut antara pencarian si babi, perdebatan, persenggamaan, perselingkuhan, senggama lagi, monolog, dan selingkuh lagi.

Kegemaran Yonathan —yang juga seorang dokter hewan —berpuisi membanjiri keseluruhan isi novel. Sepertinya ia tidak rela melewatkan satu halaman pun tanpa berpuisi. Walhasil, tak berapa lama membaca sepak terjang Lanang, jemu mulai menyergap.

Bukan cuma itu, gara-gara taburan kata-kata indah, emosi tokoh yang hendak disampaikan ke pembaca menjadi buyar. Begitu pula saat pengarangnya hendak membangun suasana melalui deskripsi, sering gagal karena tertutup untaian kalimat panjang nan manis.

Coba saja simak gambaran emosi Lanang kala dituding sebagai penyebab kematian sapi-sapi itu :

Halilintar menyambar-nyambar di tengah siang hari bolong.

Lanang diserbu panah berapi dari segala penjuru para rekan, peternak, dan ahli kesehatan hewan.

Atap gedung serasa runtuh. Lanang membara. Auranya merah mengeluarkan asap mengepul.

Mata Lanang membelalak penuh amarah, bagai mengeluarkan api bara panas berwarna merah kekuningan. Bahkan naga liangliong yang berarak pada setiap Hari Raya Imlek tak bisa menandingi. Kalau naga-naga kertas itu disandingkan dengan naga yang tersirat dari perangai murka Lanang saat tu, pasti akan hangus terbakar. Dan jadi abu.

Hitam.

Luruh.

Indah sekali. Tapi sayang, kemarahan sang tokoh yang harusnya lebih meledak-ledak dan manusiawi, menjadi sangat santun dan cantik.

Tiada yang salah dengan karya yang puitis. Asal tidak berlebihan. Contoh yang cukup berhasil barangkali serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Ungkapan- ungkapan puitis kuno tidak mengaburkan jalannya cerita. Simak saja:

Duka membayang di kaki langit, duka sekali lagi membungkus Majapahit.

Ada banyak hal yang dicatat Pancaksara, banyak sekali. Kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu, yang ditulisnya berdasar kisah yang dituturkan ayahnya, Samenaka.

Tema sains di novel ini pun seolah hanya mendapat peran pembantu di tengah dominasi drama hidup anak manusia. Perdebatanperdebatan ilmiah antara tokohtokohnya kurang imajinatif dan lincah. Apalagi setelah dikotori dengan sisipan puisi-puisi panjang.

Jauh lebih menarik sahut-menyahut antara tokoh Tennant dengan superkomputer Trinity dalam novel The Footprints of God karya Greg Iles. Mereka berdebat dengan jernih mengenai teknologi, ketuhanan, dan masa depan manusia.

“Apakah kemudian kesadaran akan mati ?” Kata komputer.

“Dorongan terkuat dari segala entitas yang hidup akan selamat.”

“Bagaimana mungkin kesadaran bertahan dalam keadaan semacam itu?”

Ini adalah konsep yang sulit, saat di mana sang ular harus menelan ekornya sendiri sampai akhirnya tubuh dalamnya menjadi di luar.

“Dengan berpindah keluar dari medium yang mati. Berpindah keluar dari zat dan energi. Keluar dari ruang dan waktu.”

Jalan cerita novel ini juga sederhana saja. Tidak ada jalan berliku, tanjakan, turunan, minim ketegangan, dan penutup kisahnya pun tidak mengentak. Mestinya, ketimbang bermain dengan kata-kata, lebih baik pengarangnya memperkuat alur cerita supaya lebih mengesankan.

Begitupun buku ini tentu mempunyai nilai-nilai baik. Misalnya isu yang diangkat sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang. Tarik menarik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif, hubungan suami-istri, kesetiaan, serta isu lingkungan. EFRI RITONGA

Narasi Pilu Negeri yang Menghilang

Judul Buku: Jalan-Jalan di Palestina - Catatan atas Negeri yang Menghilang

Penulis: Raja Shehadeh

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 237 halaman

Cetakan: Pertama, 2008


Kini masyarakat dunia telah menyaksikan kebiadaban pendudukan yang dilakukan Israel di Palestina. Israel membabi-buta membabat habis tanah dan kota-kota yang menjadi hak bangsa Palestina. Sesumbar sang mantan Perdana Menteri Ariel Sharon bahwa “kami akan membuat peta negeri yang baru” sungguh menjadi kenyataan. Anehnya, tak ada yang bisa mencegah dan memberikan sanksi serius kejahatan kemanusiaan itu. Jerit jutaan bangsa Palestina hilang ditelan bising alat-alat besar yang menggusur pemukiman mereka.

Rangkaian kenyataan itu bagaimanapun merupakan kepedihan yang mendalam bagi bangsa Palestina. Kondisi yang terus dibiarkan memburuk itu tidak lepas dari permainan dari negara-negera Barat dan Amerika, yang sengaja membiarkan Palestina terhapus dari peta dunia. Hal ini bisa dilihat dari beberapa perjanjian yang dilakukan antara Palestina dan Israel yang selalu gagal dan dilanggar sendiri oleh Israel. Dan tidak ada sanksi apa-apa bagi pelanggarnya.

Sekarang kita mungkin hanya bisa menyaksikan kenyataan bahwa tanah Palestina hampir habis dicaplok Israel. Kota-kota tinggal kenangan. Pembangunan pemukiman Israel dipaksakan di tengah-tengah teritori warga Paletina. Narasi pilu menghilangnya nama kota-kota itu dituturkan oleh Raja Shehadeh, penulis asal Ramallah, Paletina, dalam buku berjudul Jalan-Jalan di Palestina - Catatan atas Negeri yang Menghilang ini. Buku yang baru saja memperoleh Orwell Prize ini merupakan kesaksian yang jujur dan penuh emosi, ditulis dengan gaya bercerita santai dan enak dinikmati.

Buku ini hadir sebagai kisah nyata (true story), kenangan berdasarkan perjalanan hidup Shehadeh selama 26 tahun. Selama itu Shehadeh menyaksikan perubahan signifikan tentang perbukitan hijau yang ia lihat sejak dilahirkan hingga kota-kota baru produk Israel yang ia saksikan hari ini. Semuanya terjadi dalam tempo singkat. Ia seperti saksi yang hanya bisa memperjuangkan sisa masa tuanya bersama rakyat Palestina untuk mempertahankan tanahnya. Ia menulis semua itu dengan jujur, apa adanya. Koran The New York Times memberi pujian karena “hanya sedikit orang Palestina yang mau terbuka dengan kejujuran seperti yang dimiliki Raja Shehadeh”.

Catatan perjalan ini dibagi menjadi enam bab. Penuturan peristiwa-peristiwa di dalamnya runtut dan santun. Perjalanan yang dimulai pada 1978 dan berakhir tahun 2006 mempunyai rutenya sendiri, dengan pengalaman yang unik di setiap bab, sesuai konteks waktu dan latar belakang cerita. Semua berlatar sekitar perbukitan Ramallah, Jerusalem, dan Laut Mati.

Kumpulan enam kisah nyata ini dimulai dari lanskap antara Ramallah dan Harrasha, tempat Shehadeh lahir dan besar bersama keluarganya. Sebagai permulaan, Shehadeh memulai dari kisah masa kecil ketika dia pertama kali menatap langit dari tanah Palestina. Menyaksikan bukit-bukit hijau yang masih belum parah dihancurkan oleh Israel. Bagi Shehadeh, bukit-bukit itu adalah juga riwayatnya sendiri.

Ia mengenang masa lalunya ketika masih suka mendengar cerita dari kakeknya, Hakem Saleem, pergi ke Ramallah bersama sepupunya, Abu Ameen. Mereka pergi ke pantai Jaffa yang lembab dan terkadang sarha ke bukit-bukit hijau (hlm. 2). Sarha adalah istilah untuk menyepi dari kebisingan dunia, seperti yang dilakukan oleh para sufi. Sembari sarha, kakek Shehadeh dan sepupunya sering mengitari bukit hijau Ramallah. Di bukit itu tumbuh beraneka bunga khas Palestina seperti iris, flax, maltese cross, cyclamen, dan broom yang sulit ditemukan di negeri lain yang berbeda suaca dan letak geografinya. Shehadeh keberatan terhadap penulis Herman Melville yang menggambarkan daerah itu sebagai tempat gersang ketika mengunjunginya pada pertengahan abad ke-19 (hlm. 13).

Pembaca juga bisa mengetahui potongan sejarah yang mungkin tak pernah disebutkan dalam sumber literatur lain tentang Palestina. Misalnya tentang situs biara di gurun yang sekarang tak seorang pun yang sedia menyelamatkannya. Menurut sejarahnya, biara liar itu dibangun oleh pertapa Santo Chariton pada 275, ketika Chariton berziarah dari Yerusalem (hlm. 161). Di samping itu, kita akan menemukan situs yang merupakan tempat Nabi Musa dilahirkan. Di Palestina memang terdapat banyak situs suci tiga agama besar di dunia.

Namun, seiring dengan penggusuran rumah dan perebutan tanah yang dilakukan Israel, situs-situs penting itu pun hilang dalam peta Palestina. Shehadeh tidak bisa lagi berpura-pura mimpi bahwa bukit-bukit itu adalah hidupnya sendiri (hlm. 62). Dalam hal ini, suara Sheahdeh tak bergema sendirian.

Buku ini ditutup dengan bab keenam yang sangat mendebarkan, berjudul “Sarha yang Diimpikan”. Shehadeh menceritakan pertemuannya, saat melakukan sarha, dengan seorang lelaki setengah baya warga Yahudi Israel. Mereka bersua di satu bukit. Saat itu pula tiba-tiba ada seorang warga Israel di tengah bukit itu membawa pistol laras panjang. Shehadeh khawatir bila terjadi hal yang tak diinginkan.

Mereka pun terlibat perdebatan, tentang siapa yang berhak atas Wadi Dalb atau Wadi Dolev itu. Sang warga Israel ngotot bahwa tanah tempat dia berdiri hari itu adalah tanah yang dijanjikan. Shehadeh dengan nada kesal memberikan argumentasi kuat sehingga warga Israel itu diam, kalah. Tapi tak seperti dikhawatirkan sebelumnya, mereka bukan beradu otot dan sang warga Israel mengajak Shehadeh menikmati nergila (tabung air berpipa dengan sedikit opium untuk merokok khas gurun pasir).

Shehadeh menulis, tentang moment itu (hlm. 234): “Aku sadar sepenuhnya tragedi dan perang yang mengancam kami berdua, orang Arab Palestina dan Yahudi Israel. Namun untuk sekarang kami duduk bersama beristirahat, menghirup nergila bersama, dipersatukan oleh rasa cinta kami untuk negeri ini.”

B.J. Sujibto, pekerja buku yang tinggal di Yogyakarta

Sejarah Kelam Timor Timur

Judul : Pembantaian Timor Timur: Horor Masyarakat Internasional

Penulis : Joseph Nevins

Penerbit : Galang Press, Yogyakarta

Cetakan : I, Juli 2008

Tebal : xxiii + 375 Halaman


Timor Timur merdeka dari indonesia melalui referendum pada tanggal 30 Agustus 1999. Kemerdekaan itu didapat setelah jajak pendapat yang dilakukan oleh Presiden BJ Habibie. Habibie mengeluarkan dua opsi pada rakyat Timor Timur: pertama, merdeka atau lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia; kedua, diberi otonomi khusus atau tetap bergabung sebagai provinsi termuda Indonesia. Hasilnya, provinsi itu lepas dari Indonesia setelah pengumuman hasil referendum pada 4 September 1999 menunjukkan bahwa 78,5 persen penduduknya memilih opsi pertama.

Ide pelepasan Timor Timur dari Indonesia membawa luka dan sejarah kelam bagi negeri itu. Indonesia meninggalkan atau melepas Timor Timur dengan banjir darah, pembantaian besar-besaran, pembunuhan, pembakaran, pengusiran dan penghancuran fasilitas umum serta berbagai tindakan yang menjurus pada tindak kejahatan kemanusiaan lainnya. Puncak dari kejahatan kemanusiaan itu terjadi pada 4 September 1999 dan sejak saat itu Timor Timur kembali pada titik nol, titik balik peradaban dan kehancuran peradaban manusia.

Pada bulan September Tentara Nasional Indonesia dan kelompok milisi dilaporkan telah melakukan sejumlah pembunuhan, pembakaran rumah, dan pengusiran secara paksa terhadap warga Timor-Timur yang memilih untuk merdeka dalam referendum yang dilaksanakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu.

Setelah selama seperempat abad pendudukan, sekitar seribu sampai dua ribu warga sipil terbunuh hanya dalam beberapa bulan sebelum dan beberapa hari sesudah referendum. Sekitar 500 ribu orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan lari mengungsi.

Kejadian yang mengiris hati itu terus berlangsung sampai Timor Timur mendapatkan kemerdekaannya pada 20 Mei 2002. Saat itu, keran demokrasi dibuka lebar dan kebebasan sudah bisa dinimati. Tetapi, di balik itu, warga Timor Timur masih menyimpan dan menyisakan luka yang menganga, luka kemanusiaan yang tidak cukup diungkapkan dengan sebuah buku.

Buku yang bertajuk Pembantaian Timor Timur: Horor Masyarakat Internasional karya Joseph Nevins, seorang aktivis peduli hak asasi manusia dari Los Angeles, ini mencoba merekam jejak tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Timor Timur yang terjadi sebelum dan setelah referendum.

Bagi Nevins, Timor Timur adalah negeri yang penuh dengan konflik. Bahkan, menurut laporan Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KKP HAM) Timor Timur yang dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), kejahatan kemanusiaan yang terjadi itu merupakan hasil dari persekongkolan yang sudah sistematis dan meluas dengan baik.

Hal ini terbukti dengan adanya gelontoran dana yang yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Daerah dan alokasi anggaran rutin pembangunan daerah dan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk membiayai pembentukan dan perekrutan anggota Pasukan Pengamanan Swakarsa (Pamswakarsa). Bukan hanya itu, TNI terbukti juga memasok berbagai persenjataan kepada para milisi, mulai dari senjata jenis SKS, M-16, Mauser/G-34, granat, pistol, dan sejumlah senapan rakitan. (hlm. xxi)

Lebih dari itu, kasus pembantaian dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana sudah terjadi sejak 1975 sampai 1999. Kejadian itu bermula dari operasi militer Indonesia pada 7 Desember 1975 ke wilayah seluas 14.615 kilometer persegi atau 0,76 persen dari luas Indonesia itu. Sejak itu muncul apa yang dikenal sebagai "masalah Timor Timur", termasuk pembunuhan masal di Lacluta pada 1981 dan Kraras pada 1983, pembantaian di pekuburan Santa Cruz, dan puncaknya pada 1999.

Sejumlah kasus yang paling menonjol adalah pembantaian di gereja Liquica, pembunuhan warga Kailako di Bobonaro, penghadangan rombongan Manuel Gama, eksekusi penduduk sipil di Bobonaro, dan penyerangan rumah Manuel Carrascalao. Selain itu juga kerusuhan di Dili, penyerangan Diosis Dili, penyerangan rumah Uskup Belo, pembakaran rumah penduduk di Maliana, penyerangan kompleks gereja di Suai, pembunuhan di Polres Maliana dan pembunuhan wartawan Belanda, Sander Thoenes, serta pembunuhan rombongan rohaniawan di Lospalos (halaman xxii).

Buku ini merupakan pengalaman empiris penulis yang melihat sendiri aksi kekerasan yang dilakukan tentara Indonesia beserta milisi-milisinya. Nevins adalah saksi dari amuk dan kekacauan pada tahun 1999 yang berhasil melarikan diri, sehingga tiga tahun kemudian ia kembali ke Timor Timur untuk melihat keadaan negeri yang hancur di tangan TNI dan milisi itu.

Penulis menelusuri lorong-lorong, gang-gang dan jalanan sepanjang Timor Timur untuk merekam jejak pembantaian dan tragedi kemanusiaan yang melanda negeri itu. Di samping itu, ia juga mewawancarai orang-orang yang masih hidup setelah tragedi pembantaian, seperti Lilyana dan ibunya. Buku ini secara tajam mengupas keterlibatan negara dalam upaya pengerdilan sebuah bangsa. Hal ini akan menyakitkan bagi mereka yang terlibat, tetapi akan menyembuhkan peradaban.

Kejahatan yang dilakukan di Timor Timur bukanlah kejahatan yang biasa, tetapi kejahatan yang melibatkan seluruh umat manusia. Oleh karena itu, tidak menyelesaikan masalahnya berarti akan merusak upaya internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dan mencegah kejahatan tersebut terulang lagi. Dalam hal ini, keadilan harus ditegakkan bukan hanya bagi rakyat Timor Timur, tetapi juga demi pemajuan hak asasi manusia dan hukum Indonesia dan seluruh dunia.

Tragedi pembantaian di Timor Timur merupakan bukti dari runtuhnya penegakan hak asasi manusia. Pembantaian itu adalah salah satu dari sekian banyak sejarah kelam kejahatan kemanusiaan yang terjadi di belahan dunia. Traumanya tidak akan terobati dengan sekadar jalinan persahabatan dan kasih.

Maka, apakah politik memang selalu jauh lebih utama daripada upaya pengungkapan kebenaran dan keadilan bagi para korban kejahatan kemanusiaan? Apakah nasib Timor Timur akan selamanya tragis dan mengenaskan? Sekarang saatnya bagi kita untuk mengingat dan membingkai apa yang terjadi di sana serta bagaimana implikasinya bagi keadilan, pertanggungjawaban dan hubungan internasional.

Juma Darmapoetra, Staf peneliti Central for Cultural Research, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Segera memulai, lalu menata

Sidik Nugroho

"Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya," demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima anugerah Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium, dan rasakan dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun.

Beberapa orang menemukan panggilan hidupnya ketika mereka memulai sesuatu yang mengasyikkan. Begitu sederhana. Mereka tak menunggu mimpi, penglihatan supernatural, atau bisikan magis di telinga rohani mereka. Mereka, seperti Gordimer, memulai, menekuni, lalu menemukan keajaiban di kemudian hari.

Sayangnya, mungkin beberapa dari kita kadang abai terhadap kesederhanaan. Saya mengenal seorang yang mengaku kutu buku, suka membeli banyak buku, suka pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, tapi banyak bukunya yang sudah ia beli tidak dijamah-jamah, apalagi tuntas terbaca.

Dalam konteks proses kreatif, keadaan itu rasanya dapat menjadi cermin para pekerja kreatif: mungkinkah kita juga kadang terlalu sibuk dalam memikirkan banyak hal untuk kreasi yang kita buat -- seperti teman saya yang mengaku doyan buku tapi tak tuntas-tuntas membaca buku itu -- tapi tanpa melakukan suatu langkah kreatif apa pun? Segalanya jadi rumit kalau sudah begini.

Inspirasi datang ketika kita mau memulai sesuatu, bukan hanya berpangku tangan dan murung merenung. Mari kita mulai berkarya. Sejelek apa pun karya kita, dan apa pun bentuknya, kita semua memiliki peluang untuk menemukan keajaiban dari karya itu.

Berkaitan dengan hal-ihwal tersebut, yang kemudian menjadi persoalan utama dalam berkarya adalah tentang kesegeraan memulai. Seringkali penulis muda bingung: kapan aku harus mulai menulis?

John Steinbeck, yang dipuja-puja karena keberhasilan novelnya yang memenangkan penghargaan bergengsi Pulitzer, The Grapes of Wrath, mempunyai kebiasaan menulis yang sangat menarik. Pagi hari, begitu bangun tidur, ia langsung bergegas menuju meja kerjanya. Apa pun pikiran yang melintas di kepalanya untuk dituliskan di pagi itu, ia tulis saja. Ia tulis dan tulis tanpa mempertimbangkan akan jadi apa karya itu. Itu bisa sebuah karya baru, sebuah halaman atau episode lanjutan dari novel yang sedang dibuatnya, atau apa saja. Intinya, ia segera memulai, tanpa banyak pertimbangan.

Kemudian, ia istirahat, membersihkan diri. Setelah mandi, ia duduk lagi di meja kerja yang sama, menghadapi tulisan yang tadi dibuatnya, menatanya lagi menjadi tulisan yang baik.

Penulis lain, Stephen King, dalam memoarnya yang terkenal On Writing mengulas secara gamblang kebiasaan atau proses kreatifnya dalam menulis novel-novelnya. Salah satunya adalah yang ia sebut-sebut dengan istilah Pintu Tertutup dan Pintu Terbuka. Pintu Tertutup adalah suatu kerja menulis saat kita benar-benar mengasingkan diri. Ia menyarankan agar bila perlu kita mengunci kamar, menutup semua korden --intinya memutuskan semua hubungan dengan dunia luar. Garap novelmu tiap hari, menulislah sebanyak-banyaknya dalam Pintu Tertutup itu, begitu kurang lebih King berpesan.

Terkait dengan konsistensi dalam istilah Pintu Tertutup King itu, setiap orang dapat berbeda pandangan dan kebiasaan. Kate DiCamillo, pemenang penghargaan Newbery Medal untuk bukunya, The Tale of Desperaux, tampak santai, tidak ngoyo. Kalau King bersaksi bahwa ia akan menggarap novelnya tiap hari tanpa istirahat -- dan menganjurkan kita beristirahat hanya sehari dalam seminggu serta menggarap naskah kalau bisa belasan atau puluhan halaman tiap hari --DiCamillo menggarap novelnya dua halaman sehari dari hari Senin sampai Jumat. Ia melakukannya pada waktu subuh sebelum berangkat kerja di toko buku.

Ya, tiap pengarang memiliki kebiasaan berbeda karena, mungkin, sedikit banyak hal itu dipengaruhi oleh jenis, bentuk, dan tebal-tipisnya karya yang mereka buat. Yang penting dalam penerapan konsistensi adalah keyakinan yang selalu ada dalam benak penulis bahwa ia sedang membuat sesuatu yang benar-benar layak untuk dibaca, paling tidak untuk menghargai dirinya sendiri, seperti yang pernah diucapkan oleh Toni Morrison bahwa jika kita tidak menemukan sebuah buku yang ingin kita baca, sebenarnya diri kitalah yang seharusnya membuat buku itu.

Yang kerap jadi kendala, dalam soal keyakinan ini, adalah kebimbangan yang menghinggapi benak penulis ketika berada di tengah-tengah proses pembuatan karyanya. Akmal Nasery Basral, penulis novel Imperia, dalam sebuah bincang-bincangnya dengan saya di Malang pernah menyatakan, "Mengawali novel dengan keyakinan bahwa apa yang akan kita tulis adalah sesuatu yang luar biasa itu pasti terjadi pada diri tiap penulis. Kita bersemangat dibuatnya. Namun, apakah keyakinan itu tetap ada ketika kita sedang menggarap novel tersebut di tengah jalan, itu soal lain --itu butuh perjuangan tersendiri."

Kemudian, begitu tiba waktunya menulis novel selesai, King menyarankan agar kita istirahat selama beberapa hari atau minggu. "Tutup novelmu, jangan sentuh sama sekali," katanya. Ia bahkan bercerita, pernah memanfaatkan waktu-waktu istirahatnya dengan menggarap novel pendek lainnya. Salah satu yang terkenal adalah The Girl Who Loved Tom Gordon. Tujuan istirahat ini, paling tidak, adalah membuat kita sanggup merenungi kembali tujuan kita menulis novel, sambil mengumpulkan kembali gagasan-gagasan hebat yang jadi pemantik kita dalam menuliskan karya itu. Dan yang paling utama adalah merehatkan pikiran yang suntuk setelah sekian waktu berjuang menghasilkan sebuah karya.

Setelah istirahat itu, mari kita tilik lagi karya yang sudah kita buat. Inilah saat-saat ketika kita kemudian hidup dalam Pintu Terbuka. Di sini perlu kita berbenah, menata segalanya jadi lebih baik. Menurut King, yang lebih perlu dilakukan bukan menambah-nambahi halaman novel, tapi sebaliknya: memangkas bagian-bagian tak penting. Kita juga bisa belajar dari Leo Tolstoy dalam hal ini. Sempat dikisahkan bahwa novel Anna Karenina karyanya dieditnya berkali-kali. Ini terjadi karena ia selalu butuh mengubah apa yang telah ditulisnya. Konon ada yang mengatakan hingga lebih dari seratus kali ia mengeditnya. Bukankah ini menjadi bukti bahwa penulis besar pun kadang dapat memulai segala sesuatu dengan tidak sempurna?

Selama ini, sebagian dari kita mungkin menjalani hal yang terbalik --terutama yang dijuluki perfeksionis. Dalam membuat segala sesuatu, kita ingin segenap proses yang ada di dalamnya berjalan sempurna. Ya, moga-moga beberapa penulis hebat yang saya sebut di atas bisa jadi teladan bagi kita untuk tidak selalu harus mengawali segala sesuatu dengan sesempurna mungkin. Memang, ada penulis yang sekali berkarya langsung memberi dampak dan pengaruh yang luar biasa, tapi lalu lenyap bagai ditelan bumi. Contohnya adalah Harper Lee, yang mendapatkan Pulitzer untuk novelnya, To Kill a Mockingbird, karya pertama dan terakhirnya. Karyanya itu hingga kini masih dipelajari, dan dianggap sebagai novel yang berpesan moral amat tinggi --terutama dalam soal saling memahami dalam hubungan antar-manusia.

Namun, sayangnya, tidak banyak orang yang, meminjam puisi Chairil Anwar, "Sekali berarti. Sudah itu mati."

Melihat keragaman proses kreatif para penulis itu, kembali kita merenungi lagi persoalan awal yang jadi pembahasan utama di tulisan ini. Apa yang kita anggap sempurna di suatu waktu nyatanya bisa kita anggap tak ada apa-apanya di kemudian hari, setelah pembelajaran kita makin banyak, dan wawasan kita makin luas.

Bahkan, nyatanya juga, kalau kita ada dalam suatu proses hendak menghasilkan suatu karya selalu ingin selalu sempurna, seringkali kita tidak memulai-mulainya. Memang, awal yang sempurna dan akhir yang sempurna itu luar biasa hebat. Namun, bukankah hidup ini tak selalu berjalan sempurna? Awal yang kacau tapi berakhir sempurna, saya yakin, jauh lebih baik daripada tidak memiliki awal sama sekali akibat selalu ingin mengawali segala sesuatu dengan sempurna.

Selamat memulai, selamat berkarya.

penulis lepas dan guru SD Pembangunan Jaya 2

tuanmalam.blogspot.com

How to be an Eco Beauty

By Angie Brannigan

How much time and money do you spend on your beauty routine? Over the years you will have spent a small fortune on all the creams, lotions and maybe even some beauty treatments.

But what is it costing the earth? It's never too late to redeem yourself. You can become an eco-beauty with very little effort. Follow the 10 tips below to make sure you still superb but don't harm the earth at the same time.

1. Go natural. No we don't mean no make up at all. You will naturally look better by getting a good nights sleep and you wont need as much make up as a consequence.
2. Recycle. Bottles, jars and tubes can all be recycled. No change to your beauty routine but the benefits to mother earth are there for all to see. A really simple one.
3. Spring Clean. Think of all the half used bottles and jars of cream you have. Instead of buying new creams ask yourself where you could reuse these creams. Face cream for example could easily be used on the ankles and feet. If you don't intend using it, them give it away.
4. Be Minimal. Just use what you need. This saves on product and usually makes you look even better. Give it a try.
5. Drink lots of water. The right amount of water is different for everyone but one thing is for sure.... We don't normally drink enough. Not only does it cleanse our insides but also the boost to our complexion is quite magnificent. Drink more, drink more, drink more... let that be your motto.
6. Half measures. Less is more. When your hairdresser tells you that you only need a small spoonful of shampoo they are telling the truth. Just use what you need. It will be less expensive for you as well.
7. Food for thought. Don't throw out cucumbers just because they are too limp for the salad. Use them to soothe tired eyes. Look for beauty tips using natural products. You will be amazed at what you find.
8. Swap shop. Seek out those brands that are actively trying to make a difference and change to them. Look for proof that they really mean what they say.
9. Save time? Save the earth instead. Ready-made facial wipes are great for tired beauty fans - one wipe does the trick. But the cost to the environment is substantial. Why not just buy a face cloth instead? Does the same thing and only takes a few minutes more.
10. Chemical brothers. Check the labels. If your favourite beauty products use parabens and sodium laureth sulphate then ditch them.

Both of these 'nasties' have been identified as carcinogens with harmful effect on the planet. They can be bad for you as well causing skin irritation. The above 10 tips are by no means complete, But if you use beauty products then you might as well keep the earth looking beautiful as well.

About the Author:
Angie Brannigan is a fully qualified beauty therapist and has trained in alternative therapies over the past 10 years. She is an active full time therapist and author.

reducereuserecycle.co.uk

Tips For An Eco-Friendly

Offices are renowned for their staggeringly wasteful practices, reliance on paper and poor recycling figures. Change your working ways and change the planet with these handy Ecotopia hints for a cleaner and greener working environment.

Firstly, if your office relies on paper, rethink your common buying practises. In the UK we produce over 20 million tonnes of refuse each year, 90% of which ends up in ugly landfill sites. By contrast, Switzerland recycles nearly 80% of its waste. Offices are major consumers of high quality paper, 90% of which is thrown away. This equates to nearly 750,000 tonnes of waste paper each year. Make it common practise to buy recycled paper and envelopes, and print double sided to cut waste and lower disposal costs. Every 100 reams of recycled office paper printed double-sided saves two trees, more than a tonne of greenhouse gas and almost one cubic metre of landfill space in comparison with 100 reams of paper not recycled or printed double.

Commercial organisations can also make a huge difference by choosing to buy energy efficient office equipment, from light bulbs to computers. Electricity and air conditioning costs will go down as energy efficient appliances produce less heat than ordinary appliances, ensuring the benefits of going green show on the bottom line. For each kilowatt hour of electricity saved, one tonne of greenhouse gas is stopped from entering the atmosphere.

Office computers are rarely used in environmentally friendly ways but if they are switched off outside office hours this can make an enormous difference to the amount of energy they use. Many users are unaware that screen savers waste energy too, so try switching your screen saver to ‘blank’ or ‘none’ instead.

When buying new computer equipment for the office, remember that laptops are much more energy and materials efficient than desktop PC’s, making them more environmentally friendly. The same is true of filing systems – electronic copies reduce the amount of waste paper produced.

No matter how big or small the office, it’s important to get everyone involved in recycling initiatives. Assigning roles such as refilling printer toners, recycling cartridges and appliances or developing a paper sorting system are sure fire ways to create a greener office environment.

For a quick fix, introducing plants into the office is also a smart move as they really can help to cleanse the air and brighten up dark spaces. From water powered calculators to Ecover cleaning products, the smallest of changes make a huge difference long term.

Ecotopia have a huge range of environmentally friendly products for the office. After kick starting the new greener, cleaner workplace with recycling labels, recycled mouse mats and even organic coffee, why not suggest a competition to find the most innovative way to recycle old appliances and excess paper?

reducereuserecycle.co.uk

10 Ways To Reduce & Reuse

There is a very good reason why ‘reduce’ and ‘reuse’ were chosen as the first words in the phrase ‘Reduce, Reuse, Recycle’ and it wasn’t just because it trips off the tongue nicely! Before we think about recycling anything, the very best thing that we can do for the environment is simply to use less resources in our daily life.

This is a hard concept for many of us to get our brain around; in the west we live in such a consumer driven society that it is easy to think that the purpose of life is to Buy More Stuff. Yes, we have to buy some stuff, but there are many ways in which we can minimise the amount of stuff we buy and resources which we consume.

1. Boycott over-packaged products. Manufacturers are getting much better about this – they have realised they can save money this way. Refuse an item in a pointless plastic sleeve or an unnecessary box.
2. Turn your central heating down. Just one degree could save you almost £50, and with the price of fuel having almost doubled since 2005 it is much easier to think about lowering it even more. Cold? Put on a sweater.
3. Use both sides of a piece of paper. Now is the time to find out how to use the ‘print on both sides’ feature of the office photocopier.
4. Support Buy Nothing Day. 25th November 2006 is Buy Nothing Day. Yup it’s a Saturday. You’ll cope I promise.
5. Reuse sturdy envelopes. If you get a strong envelope, jiffy bag or one of those cardboard book packages, save it and reuse it. You can simple stick a piece of (scrap) paper over your address or use specially produced labels such as those from FOE or Natural Collection
6. Make friends with your local shoe repairer. Your favourite shoes will last for years longer if you get them repaired regularly. Polishing your shoes is also a little unfashionable, but shoe polish protects leather from water damage as well as keeping them looking smart.
7. Fit a low energy light bulb. Yes they cost more to buy but you could save between £5 and £10 on electricity per year per bulb.
8. Don’t chuck out used printer ink cartridges. Get them refilled at one of the many specialist shops springing up or buy your own refill kit, available from office supply shops.
9. Sorted out your wardrobe? Give items in good condition to a charity shop, jumble sale or sell them at a car boot or on eBay, but what about the items too tatty to wear again? Cut them up for dusters, dish cloths or floor cloths. They can actually work better than the sort which you use a couple of times then bin.
10. Use less water. Have showers instead of bathing; don’t run the tap while cleaning your teeth or washing dishes, don’t run the dishwasher or washing machine until it is full. If you are a gardener get a water butt to collect rainwater, and use a biodegradable detergent such as Ecover and divert ‘grey water’ from washing up and bathing to use on the garden

www.reducereuserecycle.co.uk

10 Ways to Save Paper

1. Use both sides of every piece of paper. Find out how to make double sided copies when you photocopy. If you have a piece of paper that is printed on one side only, use the back as rough paper before you finally put it in the recycling box.
2. Schools and offices are some of the worst offenders for sending out sheaves of A4 sized single sided letters and memos with only a couple of lines of text. Could you send out that memo A5? Could you include several topics in one letter?
3. Stop junk mail by contacting the Mailing Preference Service and asking to have your name removed from mailing lists. This will reduce it a bit. Also try sending mail back marked 'Moved Away Please Return To Sender’ - most places get the message eventually! You can also stop that annoying junk that the postman puts through your door by writing to Royal Mail Door to Door Opt Out, Kingsmead House, Oxpens Road, Oxford, OX1 1RX.
4. Always tick the box to say that you do not want to be sent marketing material whenever you apply for anything by post or online.
5. Did you realise that Yellow Pages cannot be collected in either the paper banks or kerbside collection schemes in some areas? Check with your local council to find your nearest dedicated Yellow Pages collection bank.
6. To stop unwanted free newspapers and leaflets you could phone the companies concerned but a small polite sign on your door asking that no circulars or free newspapers are delivered will probably be more effective.
7. E-mail or telephone rather than send a letter, and receive documents and statements electronically if given the option. Pay your bills by Direct Debit and ask to receive Bank Statements less frequently.
8. Old magazines will always be accepted gratefully by many organisations (and by your friends!). Donate them to hospitals, GP surgeries, dentists, libraries or anywhere with a waiting room.
9. Buy books second hand or borrow books and magazines from your local library.
10. Remember that people used to use newspaper as toilet paper!

reducereuserecycle.co.uk

Where Can I Recycle…..Plastic?

The world's annual consumption of plastic materials, according to Waste Online, has increased from around 5 million tonnes in the 1950s to nearly 100 million tonnes today, which means that we use 20 times as much plastic today than we did 50 years ago.

Plastic recycling in the UK lags a long way behind recycling of paper, glass and metal. The main reason for this is because comparatively few local councils include plastics in their kerbside collections; many provide plastic recycling collection facilities in their recycling collection centres, but inevitably this requires a greater commitment from the recycler, as they have to take it there themselves. They may also only accept one type of plastic, such as bottles.

The problem? Money, of course. There is a wide variety of types of plastic that you might be throwing away – you’ve probably seen the triangular recycling logo on plastic items which has a number in the centre of it. This identifies the type of plastic, for example 1 is PET- Polyethylene Terephthalate, 3 is PVC, 5 is polypropylene and 6 is Polystyrene.

This means that plastics need to be sorted into their different types before they can be recycled, and this needs to be done by humans – yes it’s up to us. This is why, for example your local recycling collection facility may only accept plastic bottles and why Tesco will accept all you carrier bags – they are sorted and ready for recycling.

It is estimated that only 7% of plastic waste is recycled at present. So what can we do to reduce the 93% of plastic that currently goes to landfill?

1. Reject over-packaged items (a tough choice when four packs of a product encased in a plastic wrapper is cheaper than buying the items individually. Yet that wrapper must increase the production costs surely?)
2. Choose products that use recyclable packaging such as glass rather than plastic. Another tough choice - a favourite fruit juice of mine just changed its packaging from glass to plastic. Grrrr.
3. Reuse carrier bags, take your own bags to the supermarket and give unwanted ones to Tesco – they will accept any bags, not just Tesco ones.
4. Reuse plastic packaging where possible – margarine and ice cream tubs can be used for storage and for planting seeds in for example. Drinks bottles such as water bottles can be refilled from larger containers (or the tap of course). Be careful never to reuse drinks bottles for substances such as cleaning materials where they could be accidentally drunk by a child.
5. Choose products where refill options are available. Many health food shops will refill Ecover bottles for example, and The Body Shop will also refill bottles.
6. If roadside collections are not available for plastics, take sorted plastics to a recycling collection centre. Bottle tops should always be removed from bottles as they are of a different material.
7. Choose plastic items made from recycled materials. Plastic bags, fencing, garden furniture, water butts, composters, seed trays and fleeces can all be made from recycled materials

Waste Online and Recycle Now both have detailed discussions of the issues surrounding plastics recycling. Recycle More can help you to find a plastic recycling collection point in your area.

reducereuserecycle.co.uk