Sabtu, 01 Agustus 2009

Jumat, 31 Juli 2009

Ampun ayah

Minggu, 12 Juni 1983. Pukul 18.45 wib

Seorang anak menangis di sudut dapur. Terisak ditahan. Matanya merah penuh marah. Kakinya yang merah kebiruan bergetar, menahan sakit.

Suatu sore
"Rida!"
"Ya ayah.."
"Apa sudah benar-benar kamu cari??"
"Sudah ayah.."
"Di sudut-sudut lemari bajumu?"
"Sudah ayah.."
"Panggil ipang, udin, dan gugun!!"
"Ya ayah.."

"Ipang! Masuk kamar itu"
"Ta.. tap..tapii ayah..."
"MASUK!"
Begitu Ipang masuk dengan takut-takut, ayah menyusul sambil mengunci pintu dari dalam. Terdengar bunyi ikat pinggang beradu dengan punggung Ipang
"Ampun yah.. Ipang tidak tahu yah..."
"Apa benar kamu tidak tahu??"
"Benar ayah.. ampuuunnn yah...sakit yah..."
Cetarrrrrr!!!
"Ampuunnn yah.." Ipang meraung..
Pintu dibuka, Ipang keluar terseok. Terduduk di depan pintu.
"Tidur kau!"

"Kamu udin!. MASUK!"
Udin menolak, berusaha lari tapi segera ditarik ke dalam kamar. Pintu di banting dan di kunci. Terdengar suara gaduh.
"Kamu mau melawan ya?
Cetarrr!
"Hai! Lari kemana kamu!"
"Ayah jahat! Ayah jahat! ADUUHHH!"
Terdengar benda jatuh
"Ampuuuuun! Ampuuuuunnn!"
Cetarrrrrr!
"Tidak tahu!"
"Anak durhaka! Masih saja melawan!"
Pintu terbuka, udin lari keluar dengan bibir bengkak. Lalu terjerembab, tersandung kaki kursi. Kepalanya membentur meja makan.

"Kau Gugun! Masuk!"
Gugun kecil menangis
"Jangan ayah.. Ugun tidak mencuri jam tangannya kak Rida"
Ayah menarik tangan Gugun yang kecil. Pintu ditutup. Cetarrr.
"Mengaku!"
"Ugun tidak tahu ayah... aduuuuhh, sakit ayah"
Cetarrr, tangis Gugun semakin kencang. Diluar nenek memukul-mukul daun pintu.
"Jangan terlalu pada anakmu. Gugun badannya panas, dia sedang sakit. Nanti kita juga yang repot".

Pintu terbuka. Gugun keluar terisak berjalan pincang. Kakinya penuh bilur-bilur merah kebiruan. Nenek mencoba menghibur, namun tak mampu meredakan sesegukan Gugun. Dipojok dapur ia meringkuk.
"Ayo Nak.. Sekarang kita tidur". Nenek mencoba meraih tangan Gugun. Ia tak bergeming.
Matanya berair tapi hatinya kering, marah dan tak pernah paham kenapa ini harus terjadi.

Sayup-sayup ia mendengar Rida menangis dan minta ampun. Suara itu semakin lambat, semakin lambat. Gugun jatuh tertidur.

---------------------------------

"Ampun ayah.. ammpuuuunnnn... Gugun tidak mencuri jam tangan itu.."
"Gun...., Gun. Bangun Gun.. Kamu menggigau lagi. Mimpi buruk lagi?" Boby membangunkan

Gugun bangkit, ke kamar mandi berwudhu. Selepas sholat malam, ia terisak.
"Ya Allah, kalau nanti Kau ijinkan aku punya anak aku akan berjanji ia tidak akan mengalami mimpi buruk yang selalu menggangu tidur ku ini." Dikecupnya sajadah basah itu dengan khusuk lalu terlelap...

Kamis, 30 Juli 2009

Inilah saatnya

Rasa di hati; suka, benci, marah, kecewa bahkan cinta hanyalah sementara. Hari ini kita boleh suka ama dia, besok bisa berubah jadi benci. Sekarang asyik bercinta, pekan depan bak musuh bebuyutan. Siapa yang mampu menjaga rasa di hati tak berubah? Tak ada seseorangpun.

Tak perlu khawatir, itu sangat manusiawi. Kita bukan makhluk abadi berpantang mati. Semuanya akan pergi, menghadap sang maha pemberi. Jadi?

Aku mencintaimu pertama kali seperti rumput dan embun. Kau membuatku sejuk. Kau pikat aku dengan kemilau beningmu.

Aku mengagumimu kedua kali seperti cerobong dan api membara. Kau hangatkan diriku, kau terangi gelapku.

Kali ketiga kau berubah, atau mungkin aku. Rasa sejuk dan hangat itu hilang entah kemana. Kemilau dan cahaya itu pudar tak berbekas.

Ku tak kan sesali, kau tak kan ku salahi. Mungkin sudah waktunya saja.

Gambir. 30 juli 09. 22.45

Selasa, 28 Juli 2009

Ramos Horta: Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa nasional Timor Leste!

Ini yang baru dan mungkin akan menggugah nasionalisme kita (apalagi kalo abis nonton filem Garuda di Dadaku yg theme song nya njiplak abis lagu Apuse itu).

Diberitakan bahwa Ramos Horta, presiden Republik Demokratik Timor Leste berencana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional negeri lepasan Indonesia itu. Rencananya, peresmian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Timor Leste akan diumumkan pada bulan Agustus 2009 ini, bertepatan dengan peringatan 10 tahun referendum Timor-timur. (Atau mungkin dicocok-cocokin dengan ultah kemerdekaan RI).

Berita ini berseliweran di beberapa milis, diposting oleh A Umar Said, yang mendengar langsung dari Ramos Horta pada salah satu lawatannya ke restoran koperasi INDONESIA di Paris pada 27 Juni 2009.

Alasan pemberlakuannya, karena 80% penduduk Timor Leste berbahasa Indonesia, sebagai akibat dari kooptasi selama nyaris 30 tahun pemerintahan Orba. Bahasa Portugis dan bahasa Tetum (bahasa asli Timor Leste) yang sedianya sudah dijadikan bahasa resmi, karena alasan kepraktisan akan digantikan oleh Bahasa Indonesia.

Rencana tokoh penerima Nobel Perdamaian ini tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, di tengah makin terjungkalnya kehormatan bangsa dilumat negeri Jiran, soal TKI, Ambalat, dan lainnya termasuk prestasi olahraga kita yang menukik terus-terusan.

Satu hal lagi, kita turut mengapresiasi semangat pemerintah Timor Leste untuk menjalankan pemerintahan tanpa rasa dendam, termasuk terhadap pemerintah Indonesia atau pun tokoh-tokoh militer yang pernah mengangkangi negeri itu.

politikana.com