Selasa, 04 Agustus 2009

Be allert guys!

Bisa selamat dari kecelakaan kereta api membuat saya jadi lebih waspada, always allert. Bagaimana tidak, nyawa dibadan hanya sebuah. Kalau ia hilang, tak satu manusiapun dapat mengembalikannya. Di negeri yang saya cintai ini (yakin?), keamanan dan kenyamanan kadang menjadi barang langka. Bom, kecelakaan angkutan umum, atau bencana alam lainnya sering membuat saya jadi parno (paranoid). Saya yakin ajal emang udah ada yang ngatur, kapan dan dimana, saya nggak akan bisa nolak. Tapi saya nggak mau mati konyol kejepit gerbong kereta hanya gara-gara sinyal KRL yang tidak berfungsi akibat nggak pernah dicek. Saya nggak mau mati kegilas angkot/bis yang gebut gila-gilaan di jalan raya. Dan saya benar-benar akan jadi roh penasaran pembalas dendam bila mati tenggelam akibat banjir, gara-gara orang buang sampah sembarangan membuat sungai mampet dan longsor. Kedengarannya emang lebay, tapi itu bisa saja terjadi. Dan tak satupun kita mengingini.

Be allert guys!

Saya sempat mengambir gambar bagian kereta yang ringsek akibat tabrakan dari atas KRL Jakarta yang membawa saya kembali ke Bogor.

Senin, 03 Agustus 2009

Saat lampu pesta itu padam


Bagi penggemar film queer mungkin sudah pada tahu bahwa di Jakarta saat ini sedang berlangsung Jakarta Q! Film Festival 2009. Dari tanggal 27 Juli hingga 5 Agustus 2009 puluhan film dengan tema-tema LGBT*) di gelar dibeberapa venue antara lain Cemara 6 Galery, Centre Culturel Francais (CCF), Erasmus Huis, GoetheHaus, Japan Foundation, Kineforum (TIM 21 Studio 1), Komunitas Salihara dan Subtitles DVD Pixar Theater.

Pengen banget rasanya ikutan nonton, tapi tahun ini jadwal kerja nggak bisa di ajak kompromi. Kecewa sih, padahal 3 tahun terakhir saya nggak pernah melewatkannya. Pulang dari kantor saya buru-buru menuju stasiun terdekat meluncur ke stasiun gondangdia. GoetheHaus menjadi tempat favourite. Trus pulang nyampai rumah jam 12 malam. Begitu yang terjadi setiap hari selama event itu berlangsung . Capek pasti. Sering kesiangan dan ngantor sambil gantuk. Tapi itu dilakoni demi memuaskan rasa penasaran. Tapi tahun ini tidak. Kenapa?

Adalah seorang teman yang menasehati saya untuk tidak lagi menonton festival itu. Dia 'khawatir'. Khawatir akan mengganggu jadwal kerja saya. Khawatir saya akan ketemu seseorang di sana lalu terjadi apa-apa. Khawatir aja katanya. Tapi bukan karena itu saya tidak nonton, hanya karena sebab yang sudah saya sebutkan tadi. Rasa penasaran sih tetap ada.

Untuk menghilangkan penasaran bagaimana serunya Jakarta Q! Film Festival tahun ini, sayapun membuka foto-foto teman di facebook. Wuiiih... Banyak sekali yang posting keriangan pesta sepekan itu. Dari yang bergaya serius dalam diskusi, berpose ala bintang pilem di karpet merah, hingga memakai kostum hura-hura ala pesta-pesta karnaval. Penuh tawa, canda, senyum, cengir dan cengar. Ruamee rupanya. Tapi tunggu dulu... Kok saya rasanya ada yang mengganggu pikiran saya.

Benarkah ini keriangan sejati? Sungguhkah ini tawa canda? Atau ini hanya pelarian? Kalau nanti lampu pesta itu padam, masihkah akan ada tawa canda dan keriangan itu. Atau kembali bergulat dengan penyangkalan diri, penolakan, pelecehan, hinaan dan cercaan? Entahlah...

*tanya paman google yah