Minggu, 09 Agustus 2009

10 hal yang tidak relevan dalam menilai boss

Hola semua! Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali lu ngomongin boss lu? Sebulan yang lalu saat dia marah besar karena kerjaan lu nggak bener? Atau 3 menit yang lalu gara-gara dasi si boss nggak mecing ama kemejanya? Bisik-bisik ngomongin si boss pada awalnya mungkin hanya iseng aja. Tapi lama-lama ritual ini menjadi ajang untuk menilai si boss, kompetensi dia.

Nah ini dia! Hasil survey pada para anak buah di Jakarta didapatkan bahwa ada 10 hal tidak relevan yang sering di gunakan bawahan untuk menilai boss mereka.

Ingat, 10 hal ini sama sekali tidak relevan dalam menilai seorang boss, tapi sangat sering digunakan (at least berdasar survey) dan mampu menjatuhkan wibawa seorang boss. Apa saja itu?

10 hal tak relevan yang sering dijadikan bahan penilaian bawahan terhadap atasannya :

10. Orientasi seksual.
"Idih boss gue homo, males gw kerja ama dia. Ntar anak buahnya yang cakep pasti diembat semua!" Nah loh.. Emangnya segampang itu? Apa karena dia homo trus dia nggak bisa profesional? Ingat, homo juga punya selera dan type idola (ceilee), nggak semua yg cakep trus di embat.. Jadi sama sekali nggak relevan menilai boss hanya dari orientasi seksualnya.

9. Umur yang lebih muda.
"Anak kemaren sore itu tau apa? Mana bisa dia mimpin kita yang udah bangkotan gini? Hahaha... Kasihan deh lu. Umur mah bukan jaminan seseorang bisa memimpin dengan baik. Kadang yang udah tua pun nggak kunjung bijaksana, nggak dewasa dalam mengambil keputusan. Nggak perlu minder di pimpin ama yang lebih muda.

8. Asal almamater.
"Dia lulusan mana? Kok gw nggak pernah dengar universitas antah berantah itu? Pasti diragukan tuh kemampuannya" Wake up man! Walau universitas terkenal dapat memberikan lingkungan yang kondusif terhadap kualitas lulusannya baik, tapi bukanlah jaminan. Kalau lu nya males mah, tetep aja bego (oooppsss.. sorry). Pengalaman kerja dan keterampilan tambahan si boss, bisa saja membuat dia jauh lebih profesional dari pada lulusan universitas terkenal tapi skripsinya masih bajakan.

7. Nama yang dianggap aneh.
" Nggak banget deh. Masa' boss namanya kaya' gitu? Ndeso banget ngggak sih?? Harusnya namanya Suryo Hadikusumo atau Sutan Takdir atau Daeng Ahmad Surya. Serba salah juga yah... Nama pemberian orang tua si boss jadi bahan olok-olok. Tapi ingat, ini sama sekali tidak relevan.

6. Kemampuan bahasa.
"Malu gw, boss gw kaga' bisa ngomong ingris". Iya juga sih, di jaman internet lebih ngetop dari kornet, wajar bila si boss di tuntut bisa cas-cis-cus..
Eit, tunggu dulu.. Ini bukan satu-satunya penilaian terhadap kompetensi si boss, toh dia khan bisa nyewa jasa penerjemah.. hehehe

5. Kemampuan rendah di teknologi alias gaptek.
"Hari geneee?! Kirim imel kaga' bisa? Boss macam apa itu?" Mungkin akan dijawab si boss, "Hari geneee?! Ngirim imel masih harus gw?! Buat apa gw ngegaji karyawan (staff), bukanlah hal-hal yang teknis emang kerjaan lu lu pada?! Tuh khan?! Kemampuan teknologi pun sepertinya belum tentu relevan dalam menilai seorang boss. Boss gaptek mungkin nggak terlalu penting, asal punya kemampuan manajerial yang canggih! Betul tidak??

4. Status pernikahan.
"Pantes aja dia nggak bisa ngatur perusahaan, rumah tangganya aja berantakan gitu" "Ooohhh.. pantas aja dia marah-marah mulu. Perawan tua sih!. Pliss deh.. Nggak ada kaitan yang langsung antara kemampuan dalam memimpin dengan status pernikahan seseorang. Mungkin saja status pernikahan berpengaruh terdap kerja seseorang, namun ini semua tergantung orangnya sih. Banyak yang kurang berhasil dalam kehidupan pribadi (baca: pernikahan) tapi sukses dalam memimpin perusahaan besar. Hayo?

3. Ras (suku bangsa).
"Suku X. Najis! gw nggak mau punya boss suku X. Mending pindah aja" Hey? Buka mata, buka telinga. Lihat & denger baik-baik. Suku mana di muka bumi ini yang benar-benar oke jadi boss? Suku Sunda? Suku Jawa? Suku Ambon? Atau Suku cadang? :-) Suku bangsa mah nggak relevan dijadikan patokan dalam menilai kemanpuan si boss.

2. Style dandanan.
"Boss gw norak! Make dasi aja kaya' make syal! "Duh, ibu direktur gw, sasaknya ampe nyangkut di pintu" Ampun dijeeee. walau boss lu nggak bisa dandan, itu tetep nggak pas dijadikan bahan penilaian kemampuan dia memimpin. Gw sempet ketawa waktu lihat Pak Habibi pake kopiah, lucu. Tapi gw salut dengan gaya kepemimpinan beliau.

1. Bentuk tubuh (fisik).
"Aduh! Buntelan angin itu jadi boss kita?? "Lu beliin ampelas napa? Tuh muka si boss kaya'nya butuh tuh!'

Lalu? Untuk para anak buah : hati-hati dalam menilai si boss. Jangan sampai menggunakan hal-hal yang tidak relevan. Untuk para boss: mboknya gaul atuh.. jangan sampai hal-hal di atas membuat wibawa lu jatuh di mata anak buah...

sumber : survey female radio