Sabtu, 07 November 2009

Mengekang rasa sayang

Di sebuah kebun kecil, hiduplah dua ekor kupu-kupu
Kupu-kupu yang berwarna cerah dan yang berwarna agak gelap
Mereka hidup di sela-sela rumpun bunga
Terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Mereka saling menyayangi

Suatu hari kupu-kupu yang berwarna cerah
Bertemu kupu-kupu yang lain, mereka sangat senang
Mereka terbang ke sana kemari dengan riang gembira
Tak kenal lelah, tak merasa capek

Si kupu-kupu berwarna agak gelap hanya mengawasi
Kadang ikut senang karena si cerah tampak bahagia
Tapi pada suatu hari....
Ia melihat si kupu-kupu cerah mulai tampak lelah

Ia tak mau terjadi apa-apa dengan si cerah, ia sayang padanya
Iapun memcoba mengingatkan tapi si cerah tak mengubris
Si cerah terus terbang berputar-putar tak terkendali
Si gelap terus mengawasi, menjaga jarak
Karena tak mau si cerah merasa di batasi

Senayan, November 06, 2009. 3.43 pm
By : H

Gugun ... oh Gugun

Gugun hanya sebuah nama
Tidak seindah Rahmat, atau Hamid
Tak sekokoh Bayu atau Bakti
Tidak pula sesantun Budiman

Gugun hanyalah lelaki biasa
Yang mencari tau kenapa ia ada
Yang punya mimpi sederhana
Mendamba bahagia

Kota Hujan, edited 3 Nov 09. Pagi

Pohon dan paku

Saya pernah diceritakan seseorang tentang kisah tauladan
Kisah seorang anak yang sedang belajar mengelola amarah
Sang anak sering melampiaskan marahnya dengan merusak apapun
Bila di depannya adalah benda maka ia akan membanting, melempar atau menghancurkannya
Sedangkan bila di depannya adalah orang maka ia akan mengeluarkan kata-kata kasar
Tanpa memikirkan akibatnya…

Suatu hari saat si anak marah, sang ayah mengajaknya berjalan-jalan ke tengah hutan
Mereka membawa sekantung paku dan sebuah palu. Di hutan sang ayah berkata :
“Nak, bila kamu marah, pakulah pohon-pohon yang ada di sepanjang hutan itu sebanyak yang kamu mau”
Maka mulailah si anak memaku setiap pohon yang di lewatinya. Dia merasa puas karena dapat melampiaskan amarahnya hingga paku-paku itu habis tertancap di pohon. Sambil memandangi si anak, sang ayah berkata :
“Baiklah, kalau kamu telah lega, sekarang cabutlah semua paku-paku itu”. Si anak dengan bersemangat mencabut paku-paku yang tertancap di setiap pohon, hingga semua paku tercabut. Lalu sang ayah merangkul anaknya.

“Anakku…. amarah tak terkendali ibarat memaku pohon. Walaupun kamu telah meminta maaf dengan mencabut semua paku yang tertancap. Ketahuilah, bekasnya akan tetap ada di hati orang yang kau sakiti. Pohon itu tetap akan meninggalkan lubang, sampai kapanpun”

Bogor, 3 Nov 09. Pukul 16.23 wib

Rabu, 04 November 2009

SMP (Sekolah Mencinta Pertama)






Mungkin untuk ukuran anak jaman sekarang aku tergolong terlambat untuk jatuh cinta. ... Rasa 'ser-ser' itu baru muncul saat aku kelas 2 SMP. Iya. Beneran!.

Seorang teman satu kelas, satu bangku, satu meja, baik hati, memiliki senyum makyus dan dua lesung pipi maut. Semua anak menyukainya, para gadis bau kencur berebut ingin menjadi kekasihnya. Lalu aku? Tak pernah punya keberanian untuk bersaing dengan mereka.

Rasa itu cukup di simpan dalam hati. Tapi sungguh! Aku jatuh cinta saat itu, senang tak terkira saat berjumpa dia dan berubah kelabu bila tak bertemu.

Beberapa foto sekolahku dulu (yang ku temukan di sebuah friendster) menguak kembali kenangan itu. Wahai pemilik senyum makyus dan lesung pipi maut, andai saja kau membaca postingan ku ini... karena sampai sekarang rasa itu masih ada.

(*hey gun! bangun! bangun! kamu hidup untuk hari ini dan esok, bukan untuk masa lalu*)