Jumat, 20 November 2009

Saya melakukan apa yg nenek pernah lakukan dulu


saya ingat kejadian saat kecil dulu.
saya demam tinggi karena kehujanan sepulang sekolah.
sekujur tubuh saya menggigil, tapi badan saya panas, kepala sakit sekali.
nenek melepas semua baju saya dan mengusap dengan waslap hangat
lalu nenek membalur dengan minyak kayu putih.
mulai dari ujung kaki, tangan, seluruh badan, leher dan dahi.
nenek lalu memeluk saya, membuat saya tertidur di badanya yang hangat
sayapun berkeringat, nenek mengusap peluh di dahi saya
membisikkan bahwa saya akan segera sembuh
menyenandungkan lagu nina bobo
dan sayapun tertidur
ketika saya bangun, saya jadi lebih baik

**************************

hari ini saya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan nenek pada saya, .... padamu
mendengkurlah dan biarkan jantung saya merasakan detak jantungmu

Margonda, 20/11/09. 11.33 wib

Selasa, 17 November 2009

Aku mulai takut menjadi tua

Ada yang meramal bahwa tahun 2012 nanti umurku 50 tahun! Terlepas dari ramalan itu benar atau salah, yang jelas akan bertambah 3 tahun. Itupun kalau sang pemberi hidup masih memperbolehkan aku tetap bernapas. Yang pasti setiap bertambahnya umur maka jatah hidup semakin berkurang.

Banyak tanda-tanda yang sudah mulai terasa dengan bertambahnya usia. Rambut yg tadinya hitam lebat bak mayang terurai kini mulai rontok dan beruban bak rambut jagung. Kulit muka yg licin bak porselen cina, kini mulai kusam dan kendor di sana-sini. Otot-otot yang terpahat di lengan, paha dan dada, berganti lemak bak kantong air yang bergoyang. Tubuh tak lagi sekel dan sendi-sendi sering terasa gilu. Mungkin aku agak lebay, tapi itu nyata seiring bertambahnya usia.

Kata orang hidup dimulai di umur 50 tahun, eh… 40 apa 30 ya?. Lalu apa yang sudah aku punya? Rumah? Kendaraan? Tanah? Deposito? Bisnis? Istri? Anak? Karir yang bagus? Status sosial? Apa? Aku tak begitu mengkhawatirkan itu (mungkin karena sebagian sudah ku dapatkan). Tapi terus terang aku tetap mulai takut menjadi tua. Dan aku lebih takut menjadi tidak lagi berguna.

Parung, 17/11/09. 16.25 wib, selepas menelpon nenek yang mulai sensitif sejak tak lagi bisa melihat.

Tiap detik sangatlah berharga

Pengalaman nyeri dada kiri membuat saya semakin alert terhadap kesehatan. Awalnya hanya berupa rasa pegal (keseleo) di punggung kiri, lalu merambat ke leher terus berpindah ke dada kiri. Mendadak dada saya seperti ditekan beban berat. Saya jadi susah bernapas. Walau telah mencoba menarik napas dalam2, tapi tetap tidak ada udara yg masuk. Dengan panik saya mengambil napas dg membuka mulut lebar2, tersengal2. Bayangan akan kehabisan napas memenuhi kepala. Saya tidak akan pergi dg cara seperti ini. Mata menjadi merah dan berair. Saya lalu memukul2 dada kiri, terbatuk, dan saat itu juga udara kembali masuk ke paru2. Tiap detik sangatlah berharga.

Saya sadar betul tidak mungkin selalu bersamanya. Tidak saja karena ikatan itu, tapi juga karena umur tdk ada yg tau. Ketika bertemu saya sangat menghargai setiap detik yang tersisa. Saya tak ingin terlelap karena inilah waktu yang saya punya. Mendengkurlah, saya akan tetap terjaga.

Bogor, 17.11.09. 01.35 wib

Senin, 16 November 2009

Nenek (akhirnya) buta. :-(


Nenek sudah lama menderita penyakit gula, sejak saya masih di sekolah mencinta pertama (smp). Saat saya menemani beliau ke dokter dan divonis menderita diabetes, nenek hanya tersenyum dan mengajak segera pulang. “Ayo. Sudah waktunya makan siang” ia setengah menyeret tangan saya tergesa.

Kami mampir ke rumah makan padang yang cukup ramai siang itu. Nenek memesan gulai otak, rendang daging, goreng paru, lengkap dengan sambal merah dan sambal hijau. Saya hanya memesan ikan mas goreng dan lalap timun, tanpa sambal.“Menumu kok seperti makanan orang sakit saja?”. “Nggak papa, nek”. Saya melihat nenek makan dengan lahap seakan vonis dokter bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Setelah positif diabetes, nenek mulai sering jatuh sakit . Mulai dari penyakit ringan sampai berat. Istilah-stilah seperti rematik, jantung berdebar, darah tinggi, kolesterol, asam urat, luka yang susah sembuh menjadi istilah umum bagi beliau. Tapi pola makannya tetap tidak berubah. Ketika dilarang makan durian, beliau berkilah “Tenang saja, saya sudah punya obatnya”.

Beberapa tahun terakhir nenek menderita katarak. Operasi pengangkatan katarak tidak berhasil 100%. Selaput putih itu muncul lagi dan muncul lagi. Dokter kembali mengingatkan untuk lebih menjaga pola makan tapi nenek tetap tidak berubah.

Dua hari yang lalu saya dikabari bahwa penglihatan nenek mulai berkurang. Nenek tidak bisa melihat walau dalam jarak dekat sekalipun. Seperti berkabut, katanya. Operasi yang dilakukan tidak mampu mengembalikan penglihatan beliau. Nenek sekarang tidak bisa melihat sama sekali.

Saya menelpon ke rumah, menanyakan kabar beliau dan apa yang dirasakan. Namun saya tidak bisa menyembunyikan suara saya yang parau. Terus terang saya sangat mengkhawatirkannya. Alih-alih saya akan menenangkan beliau, malah nenek yang akhirnya menghibur saya,

“Nggak papa, Gun. Kalaupun sekarang nenek buta, toh nenek khan sudah melihat lebih dari 80 tahun.”