Kamis, 30 Desember 2010

Berubah

Kau tahu bahwa penampilan orang berubah semakin lama kau mengenalnya.

seorang yang menarik jika kau tidak menyukainya akan bertambah jelek. sementara orang yang tak kausadari, yang tak kau lihat sekali pun.. jika kau mencintainya, akan menjadi hal terindah yang pernah kau lihat.

Kau hanya perlu menyadarinya.

(The Cat & Dog)

Kamis, 11 November 2010

Senin, 26 Juli 2010

Belajar dari Janda

Banyak sumber dan banyak cara yang bisa saya gunakan untuk belajar. Tak terkecuali janda. Akhir pekan lalu saya mengunjungi bibi di sebuah kampung kecil di Tangerang. Bibi saya seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan motor tepat pada hari dimana anak ke-2 mereka lahir. Tak ada yang istimewa dari kisah hidup bibi saya dalam membesarkan anak-anak sepeninggal suaminya. Karena diluar sana banyak janda-janda yang juga mengalami nasib serupa. Tapi kehidupan teman-temannya lah, janda-janda jompo, yang mengaduk-ngaduk perasaan saya…

Mungkin karena perasaan senasib, bibi mengumpulkan janda-janda yang sudah jompo di sekitar tempat tinggalnya. Ada sekitar 6 orang. Mereka orang-orang tua miskin yang ditinggal mati suami atau telah lama bercerai dan memutuskan tak menikah lagi. Anak-anak dari ibu-ibu jompo itu kadang tak mampu mengurus mereka karena sibuk dengan kesulitan ekonomi keluarga sendiri.

Selama ini para janda jompo itu hidup dari menjual daun pisang, mengumpulkan walingi (sejenis alang-alang) lalu dijemur lalu dijual ke pengumpul, atau apa saja yang bisa dijual dari kebun mereka yang tak seberapa. Meski sudah jompo mereka sebenarnya masih cukup produktif. Kadang bibi meminta mereka untuk membuat tusuk sate atau besek (sejenis kotak dari anyaman bambu) dan membantu menjualkannya di pasar. Hasil keuntungan dari penjualan itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari dan sebagian lagi mereka tabung.

“ Tabungan itu buat apa sih bi?”
“ Kata mereka itu tabungan kematian. Mereka nggak mau merepotkan orang-orang. Mati khan butuh duit.”

Saya merasa tersindir. Orang seumur saya begitu yakin hidup bakal lama sehingga tak pernah terfikir punya tabungan kematian (atau setidaknya tabungan amal). Padahal saya tak pernah tau kapan ajal itu akan menjemput saya.

Bersiap untuk Luruh

Di depan rumah ada beberapa pohon palem
Entah sudah jadi adat baginya
Setiap menjelang musim hujan bunganya selalu luruh
Awalnya saya heran, kenapa bukan buah tua yang luruh?
Khan yang muda harusnya masih segar dan kuat
Di belakang rumah ada tetangga punya bayi baru seminggu
Cantik, sehat, montok dan lucu
Kami turut senang, ayah ibunya sangat bahagia
Tapi itu tak lama
Tadi pagi si bayi mungil berubah biru
Si ibu panik dan menangis kelu
Sang ayah diam membisu
Setiap makhluk hidup pastilah akan mati
Tidak tua, tidak muda, tidak kaya, tidak miskin
Mau cantik, mau jelek, mau manis atau asem
Tadi pagi saya menatap lagi serakan bunga palem itu
Bertanya-tanya dalam hati
Sudah siapkah saya luruh seperti mereka?

Selasa, 13 Juli 2010

Teror itu dimulai

Awalnya kata sayang
Setelah itu tendangan

Awalnya peduli
Setelah itu menyakiti

Nggak perlu menyebar teror
Karena tak akan menyebabkan aku mundur

Kamis, 10 Juni 2010

Ayo adik kecil, kamu pasti pulih



Saya terdiam lama saat baca berita seorang ibu di Papanggo, Jakarta Utara ditangkap polisi karena tega patahkan tangan dan kaki anaknya sendiri. Diduga stress tak mampu tanggung biaya hidup dan ditinggal kabur suami. Feri, bayi 5 bulan itu terbaring lemah di rumah sakit. Kedua kaki dan tangannya di balut perban dan dipasangi sejenis kayu penahan. Sedih lihatnya.

Saya ingat, waktu saya kecil, nenek marahi tetangga yang pukul kepala anaknya (6 tahun). Mungkin karena bandel, si ibu hilang sabar dan si anak tersungkur berdarah di tanah. Ketika Nenek melarang, si ibu malah balik membalas nenek, "Anak saya ini, ngapain ikut campur?" Parah nih. Mentang-mentang merasa yang menafkahi, memberi makan dan merawat lalu merasa berhak untuk melakukan apa saja pada anak sendiri. Tragedy, di satu sisi ada keluarga yang sangat berharap punya anak dan usaha sekuat tenaga mendapatkannya, tapi di sisi lain ada yang sudah punya anak malah menyia-nyiakan bahkan menyiksa.

Saya melihat tayangan di televisi saat Feri diberikan susu formula oleh perawat, si bayi nyedot susu kuat banget seakan mau ngomong "Ibu boleh patahkan kaki dan tangan ku tapi itu tak akan patahkan semangat ku untuk bertahan hidup"

Ayo adik kecil, kamu pasti pulih.

Sabtu, 05 Juni 2010

Selasa, 13 April 2010

Saling rusak dan bunuh !


Tadi pagi saya lihat berita tentang demo di Thailand. Bentrokan antara pendukung pemerintah dan pendukung Thaksin Shinawatra (kaus merah) mengakibatkan 21 orang tewas, termasuk wartawan foto Hiro Muramoto (43). Wartawan Reuters dan ayah dua anak ini meninggal akibat tembakan didadanya. Kalau melihat sekilas tayangan dari di TV tadi pagi, kebayang betapa rusuhnya kejadian itu.

Saya ingat 13-14 Mei 1998 silam, saya sedang berada di rumah kakak (Ciputat). Awalnya kami hanya lihat kerusuhan Jakarta itu lewat tayangan tv. Blok M, Mangga Dua, Harco, Ciledug dan banyak pusat perbelanjaan dan perumahan warga dirusak. Ketika kerusuhan meluas hingga ke Ciputat, kami mulai deg-degan. Pertokoan dijarah, Plaza Ramayana dan Plaza Borobudur Ciputat dibakar. Kami sekeluarga berkemas dan mulai panik ketika Pusat Perkulakan Makro yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah di jarah dan di bakar. Tapi untungnya api tidak sampai merembet ke kompleks warga. Benar-benar pengalaman yang menakutkan...

Balik soal demontrasi, kerusuhan, perang atau apalah namanya itu, saya sering bertanya-tanya. Apa yang ada di dalam pikiran demonstran, tentara, warga sipil dan polisi saat itu. Mereka saling dorong, tendang, pukul dan lempar. Mereka baku hantam sesama saudara mereka sendiri. Sesama manusia. Beberapa dari mereka akhirnya tewas menggenaskan. Ketika banyak orang yang berjuang untuk tetap hidup di rumah-rumah sakit. Kenapa ada orang-orang yang begitu gampang melenyapkan nyawa orang lain. Hanya karena beda pendapat, beda paham, beda agama, beda keyakinan, harga diri, perebutan wilayah, atau sejuta alasan lainnya. Apa yang mereka pikirkan saat menembakkan peluru? Mengayunkan pedang? Melemparkan bom molotov dan granat? Apa yang mereka rasakan?

Saya bengong saat makan siang. Di kepala saya melintas kata-kata Madura, Dayak, Islam, Kristen, China, Pribumi, Afganistan, Irak, Iran, Ambon, Sampang, Sampit, Poso, Jalur Gaza, Israel, Palestina, Rwanda, Etiophia, Tianamen, Nazi, Jerman, Yahudi dan berpuluh kata-kata lain. Selera makan sayapun hilang ...

Rabu, 07 April 2010

40 hari : Saya tidak mau membayangkan !

Hari ini adalah tepat 40 hari sejak kepergiannya. Nanti malam, selepas magrib keluarga di Bandung dan sanak famili di Lhokseumawe akan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Surat Yasin, Surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, penggalan surat Al Baqarah (di awal dan di akhir surat), Shalawat, lafal Tahlil dan terakhir doa akan dibacakan bersama.

Berbeda dengan tradisi di kalangan Nahdiyin, tidak akan ada jamuan makan atau pemberian 'berkat' bagi yang ikut berdoa, karena sanak famili semata-mata hanya ingin memanjatkan do'a, dan untuk menguatkan bagi yang ditinggalkan. Di Bogor, sayapun akan melakukannya...

++++

Beberapa jam yang lalu secara tidak sengaja saya membaca info tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia setelah ajal menjemput. Mulai dari 1 jam hingga 1 tahun pasca kematian. Di situ dijelaskan secara detail bagaimana proses hilangnya fungsi-fungsi tubuh, proses pembusukan dan rusaknya organ-organ tubuh.

Saya tak bisa bayangkan kamu mulai tak berbentuk di dalam sana. Saya nggak mau membayangkan! Saya nggak mau membayangkan!

*mendadak mual*

Minggu, 28 Maret 2010

Gw nggak mau pacaran! Gw mo nikah!


Lama-lama tangan saya gatal juga nulis soal etika orang-orang dalam beriklan. Coba perhatikan iklan yang sangat mencolok mata di beberapa media online akhir-akhir ini (detik.com, kompas.com) :

gw nggak mau pacaran
gw monikah
BB-an gaul punya indosat
Hanya Rp 55.000-an per bulan

(dg foto model mirip Agnes Monica)

Menurut saya iklan ini 'menyindir' iklan provider seluler 3 (three) yang menawarkan paket Blackberry hanya Rp 88 ribu per bulan dengan Agnes Monica sebagai modelnya, yang konon kabarnya bila ada yang lebih murah dari itu akan dipacari oleh sang artis!. Sekilas orang akan berfikir iklan Indosat tersebut hanya untuk menarik perhatian konsumen, tapi jangan salah.... ini juga bisa bumerang bagi Indosat. Kenapa?

*******
Dulu, waktu saya masih segede termos. Saya dan dan abang saya seperti anjing dan kucing. Entah siapa yang jadi anjing, siapa yang jadi kucing. :-). Tapi yang saya ingat nenek menyebut kami seperti itu. Ada saja yang menjadi pangkal berseteruan kami. Soal makanan, mainan, baju dan lain-lain. Karena saya lebih kecil, saya lebih sering kalah (dan mengalah). Namun saya tak kehilangan akal, saya kadang menjelek-jelekkan si abang untuk mendapat simpati dari orang tua dan nenek. Si abang nakal! Si abang bau!. Si abang gembul!

Tapi apa yang saya dapat? Justru saya yang disuruh diam oleh orang tua dan nenek karena terlalu berisik dan sibuk menjelek-jelek sang kakak. Gagal deh maksud dan tujuan saya!

*****

Nah, walau kasusnya nggak sama persis, dan saya percaya Indosat tak bermaksud menjelek-jelekan Agnes Monica, tapi hal ini bisa berdampak mirip. Konsumen jadi dan calon konsumen bisa saja merasa tidak nyaman dengan cara beriklan seperti itu.

Alih-alih pengen mempengaruhi anak gaul untuk BB-an dengan Indosat, iklan ini justru berpotensi dijauhi anak muda, karena tak dipungkiri Agnes Monica punya penggemar yg tak sedikit terutama dari kalangan muda.

Saya percaya, Indosat pasti punya orang-orang pintar yang bisa bikin iklan lebih smart tanpa harus menyindir siapapun. Walau di dunia marketing dan promosi hal itu sering terjadi. Atau mungkin Indosat punya alasan lain kenapa melakukan ini? Entahlah.......:-)

Jumat, 12 Maret 2010

Gw pengen lu yg benar!

Dulu kita pernah berdebat soal kemana arwah orang yang sudah nggak ada. Aku bilang mereka akan terbang ke langit menunggu saat kiamat tiba dan dihitung amal baik dan buruknya.

Kamu tak sepaham, katamu arwah tetap akan ada disekitar orang-orang yang mereka sayangi....

Hasbi, gw pengen pendapat lu yg benar!


@ Pagelaran, Bogor

Sabtu, 06 Maret 2010

Day 8

Mengemas barang-barangmu yang telah dipacking
Mengumpulkan kembali keping-keping hati

Margonda, 11.40 wib

Jumat, 05 Maret 2010

Day 7

Kenapa saya tidak bisa berhenti memukul kepala saya?
Seperti saya tidak bisa berhenti memikirkanmu.

Bogor, 01.17 wib

Kamis, 04 Maret 2010

Day 6

Kesedihan seperti candu
Semakin kau pikirkan
Semakin kau menikmati
Dan enggan berjarak darinya


Honey, I'm not OK.
I can't fight this feeling

Rabu, 03 Maret 2010

Day 5

Tak ada yang lebih indah bisa pulang ke rumah

Walau masih tersisa rasa kehilangan yang amat sangat
Aku pasti pulih

RS. Salak, Bogor. 11.01 wib

Selasa, 02 Maret 2010

Day 4

I don't need this infusions
I don't need this oxygen can
I just want you back

Senin, 01 Maret 2010

Day 3

Tell me how I'm supposed to breathe with no air
...
Losing you was like livin' in a world with no air

Sabtu, 27 Februari 2010

Innalillahi wainna illahi rojiun

Ade Hasbi

23 April 1981 - 26 Februari 2010

air mata tak kan merubah apapun
kami ikhlas melepasmu

Sabtu, 20 Februari 2010

Digigit Pertama Kali

Di ujung tahun 1994, mungkin ada yang pernah nonton film dengan bintang Tom Cruise, Brad Pitt, Kirsten Dunst dan Antonio Banderas: Interview with The Vampire.  Film yang diadaptasi dari novel karya Anne Rice dengan judul yang sama ini, bercerita tentang cinta, pengkhianatan, kesepian dan kelaparan serta kisah hidup seorang vampire (Brad Pitt).
Disini digambarkan bahwa seseorang akan menjadi vampire bila terkena gigitan vampire.. Brat Pitt menjadi mampir karena digigit Tom Cruise! *kebayang khan? hehehe*
Mungkin tak semua orang setuju,  bahwa saya melihat sebenarnya Anne Rice ingin bercerita tentang kehidupan ; cinta, penyangkalan atas diri sendiri, pengkhianatan, kesepian dan kelaparan akan ‘things’. Semua digambarkan dalam bentuk analogi, vampire.

————————
Lalu, kapan saya pertama kali di ‘gigit’? Belasan tahun yang lalu, seseorang mendekatiku di halte bus. Laki-laki sawo matang dengan kumis melintang itu bertanya,
“Dari sekolah ya? Pulang kemana dik?”
“Ke rumah”, jawabku singkat.
Orang itu tersenyum.
“Rumahnya dimana?”, ia menggeser duduknya, mendekatiku lalu menyeringai.
Aku tidak menjawab, melirik ke arah orang itu, khawatir.
Nenek pernah berpesan untuk tidak bicara dengan orang asing. Lelaki tu terus menggeser duduknya mendekatiku hingga paha kami bersentuhan. Aku kaget, menjauh, tapi ia menahan tanganku:

“Duduk di sini saja”
Aku terduduk kembali. Ia menahan tanganku dengan tangannya yang berbulu. Hangat.
“Abang dulu punya adik, mukanya mirip dengan mu”
Aku  melihat ke arahnya, “Sekarang dia dimana?”
“Meninggal. Kalau dia masih hidup, mungkin dia sebesar kamu sekarang”.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari tanganku. Aku tidak sekhawatir tadi. Kami mulai ngobrol tentang adiknya yang meninggal karena kecelakaan motor. Akupun bercerita tentang ayahku yang sangat keras, bahkan aku menunjukkan bekas memar bekas rotan dikakiku.
Saat azan magrib, aku tersadar. Sudah malam. Aku bangkit. Abang itu kembali menahan tanganku.

“Mau kemana?”
“Pulang”
“Nanti saja. Abang masih ingin ngobrol”

Aku kembali terduduk, kali ini ia memegang pahaku. Aku kaget. Menepis tangannya dan menutup celana biruku dengan tas sekolah. Ia menyelipkan tangan di balik tas ku. Kembali memegang pahaku. Aku memadang ke arahnya, tidak senang. Abang itu tersenyum, menahan tanganya di sana. Dan dibalik tasku, ia menggerakkan tangannya.

Aku segera bangkit. Langsung menyetop bis yang lewat. Dari jendela bis, aku masih melihat abang itu tersenyum dan melambaikan tangan. Sesampai di rumah aku seperti orang linglung. Kesal terhadap apa yang dilakukan orang itu kepadaku. Tetapi kenapa aku menikmati ketika ngobrol dengannya?  Saat di pegang seperti itu, ada rasa tidak suka, tapi juga suka. Ada apa denganku? Beberapa tahun kemudian aku sadar, bahwa saat itu mungkin aku telah di “gigit”!

Senin, 15 Februari 2010

Bukan Roda, Namun Tangga

Dulu saya sering mendengar istilah bahwa hidup adalah sisi roda yang berputar, roda kehidupan. Adakalanya sisi itu di atas (bahagia), ada masa ia di bawah (berduka). Senang dan susah akan berputar silih berganti. Kita tak bisa menolaknya.

Saya ingin hidup saya seperti tangga, tangga kehidupan. Berundak-undak dari yang rendah sampai yang tinggi. Dari yang nggak bisa apa-apa, terus naik (maju) dan naik (maju). Saya ingin mencapai puncak tangga itu (bahagia), walau tak mudah, kadang saya harus berhenti lama, kadang harus jatuh ke anak tangga yang lebih rendah.

Tak masalah berapa kali saya harus berhenti menghela napas menapaki tangga itu, tak masalah berapa kali saya tesungkur ke tangga bawah. Saya akan tetap bangkit dan terus naik sekuat tenaga.

Minggu, 14 Februari 2010

Terima kasih dan maaf

Jika seseorang mengucapkan terima kasih atas bantuan yg kamu berikan, hindari menjawab, “Ah, ngak perlu bilang makasih. Santai aja”. Meskipun maksud kamu baik, tidak akan membuat jawaban kamu itu bijaksana. Karena itu akan bikin temanmu canggung dan merasa ditolak ucapan terima kasihnya yg tulus.

Biarkanlah temanmu mengucapkan terima kasih, kamu kurang menghormatinya bila menolak ucapan tsb. Katakan saja, “Oh ya. Saya senang kok membantumu” Atau apa susahnya jawab, “Kembali..” Atau “Sama-sama”.

Begitupun jika temanmu mengucapkan kata “maaf” untuk sesuatu yg mungkin mereka anggap suatu kesalahan. Jika jawaban mu adalah “Ah, lu aneh deh, segitu aja minta maaf. Nggak usah”. Atau jawaban “Lu kaya’ orang asing aja, ngapain juga (ngak perlu) minta maaf segala!”. Walaupun maksudmu agar temanmu merasa nyaman, tapi itu dapat berdampak sebaliknya. Terima saja kata maaf dari teman mu, “Iya. Nggak apa2″ Atau “Sudahlah. Its ok”. Sederhana khan?

Satu hal lagi, jika temanmu memuji, terima saja pujian itu dengan baik. Nggak perlu menolak. Kamu tentu nggak mau dianggap sombong karena menolak pujian khan? Atau malah dianggap tidak pede dg prestasi/kelebihan yg kamu punya. Ayo dong, make simple. :-)

Tiap Detik Sangatlah Berharga

Pengalaman nyeri dada kiri membuat saya semakin alert terhadap kesehatan. Awalnya hanya berupa rasa pegal (keseleo) di punggung kiri, lalu merambat ke leher terus berpindah ke dada kiri. Mendadak dada saya seperti ditekan beban berat. Saya jadi susah bernapas. Walau telah mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi tetap tidak ada udara yang masuk. Dengan panik saya mengambil napas dengan membuka mulut lebar-lebar, tersengal-sengal. Bayangan akan kehabisan napas memenuhi kepala. Saya tidak akan pergi dengan cara seperti ini. Mata menjadi merah dan berair. Saya lalu memukul-mukul dada kiri, terbatuk, dan saat itu juga udara kembali masuk ke paru2.

Tiap detik sangatlah berharga.

Saya sadar betul tidak mungkin selalu bersamanya. Tidak saja karena ikatan itu, tapi juga karena umur tidak ada yang tau. Ketika bertemu saya sangat menghargai setiap detik yang tersisa. Saya tak ingin terlelap karena inilah waktu yang saya punya. Mendengkurlah, saya akan tetap terjaga.

Saya melakukan apa yg nenek pernah lakukan dulu

saya ingat kejadian saat kecil dulu.
saya demam tinggi karena kehujanan sepulang sekolah.
sekujur tubuh saya menggigil, tapi badan saya panas, kepala sakit sekali.
nenek melepas semua baju saya dan mengusap dengan waslap hangat
lalu nenek membalur dengan minyak kayu putih.

mulai dari ujung kaki, tangan, seluruh badan, leher dan dahi.
nenek lalu memeluk saya, membuat saya tertidur di badanya yang hangat
sayapun berkeringat, nenek mengusap peluh di dahi saya
membisikkan bahwa saya akan segera sembuh
menyenandungkan lagu nina bobo

dan sayapun tertidur

ketika saya bangun, saya jadi lebih baik

**************************
hari ini saya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan nenek pada saya, …. padamu
mendengkurlah dan biarkan jantung saya merasakan detak jantungmu

Sabtu, 13 Februari 2010

Ayah Datang dalam Mimpi

Seberapa besar pengaruh pengalaman masa kecil pada masa dewasa? Samakah pengaruh itu untuk tiap orang?

Dua hari yang lalu aku terbangun jam 3 pagi. Seharusnya masih terlelap, tapi tidak saat itu. Kaos tidur basah oleh keringat, padahal pagi menjelang subuh udara cukup dingin. Aku bertemu (almarhum) ayah dalam mimpi. Tidak susah mengingatnya. Lagi-lagi ayah menanyakan jam tangan Kak Rida yang hilang, kejadian saat umurku 10 tahun. Berkali-kali aku bilang ngak tau. Ayah tak henti menuduh, aku sampai menangis menyangkalnya.

Pada malam dan mimpi yang sama, ayah pergi kerja tanpa menitipkan ongkos sekolahku, sebagai hukuman aku terlambat bangun. Nenek membekali dengan sisa uang belanja. Aku berangkat ke sekolah dengan harapan saat pulang ayah mampir menjemputku. Tapi apa? Ayah tidak melakukannya. Akibatkan aku pulang jalan kaki selama 2 jam! Kesal, marah dan cape campur aduk, tapi ayah malah memarahiku.

Dan menjelang subuh aku kembali bermimpi. Ayah mencambuki kakiku dengan ikat pinggang, karena aku berkelahi dengan si abang. Aku mengaduh berkali-kali, tapi ayah tak juga berhenti.
Ayah, mohon jangan datang lagi dalam mimpi dengan cara begini. Gugun mohon, ayah …

Jumat, 08 Januari 2010

Ke tanah ibu dengan si pencuri hati

@ Apa sekarang? Bersiap ke tanah ibu. Perjalanan akan panjang dan menyenangkan.

Setelah pekan-pekan yang melelahkan di bulan Desember, pertengkaran kita, pertengkaran kalian. Lalu perdamaian kita dan perdamaian kalian. Akhirnya kita bisa pulang ke tanah ibu. Menziarahi makam ibu, memeluk nenek dan mencari ikan di balong. Perjalanan Bogor ke Sukabumi sore itu terasa panjang tapi menyenangkan. Adakah yang lebih menyenangkan selain jalan-jalan dengan orang yang kita sayang?

Dulu, bila naik kereta Bogor - Sukabumi, maka kita akan bertemu dengan tukang sayur, tukang ayam, dan kadang tukang kambing… lengkap dengan dagangannya. Sebagian berjualan dari gerbong ke gerbong. Tubuh yang rapi jali dan wangi akan berubah acak-acakan dan bau. Kadang bau kol, pete, ayam, terasi bahkan kambing. Huh…

Sekarang, dengan tiket Rp 8.000 kita sudah bisa menikmati perjalanan 2 jam yang menyenangkan. Kereta diesel yang kini bernama “Bumi Geulis” kembali beroperasi ( sempat dikandangkan beberapa tahun). Tidak ada lagi pedagang asongan, ayam, sayur atau kambing.

TAPI sore itu kita tidak jadi berangkat dengan Bumi Geulis karena aku kelamaan di toilet. Aku berusaha menyusulmu yang telah lebih dulu menaiki gerbong. Karena aku tidak lincah, kamu terpaksa loncat turun kembali. Dan kitapun akhirnya naik angkutan umum L-300. Sorry about that…

@ kebon mang ucup. Rame-rame bakar yam. Hey, kamu yang lagi kipas-kipas. Pandai sangat kau curi hati keluargaku.

Selama di tanah ibu banyak yang kita lakukan. Dari menziarahi makam perempuan yang telah melahirkanku. Memeluk nenek dan mencari ikan dibalong.

Katanya kalau kau ingin mememangkan hatinya, menangkanlah hati keluarganya. Kau paham betul itu. Walaupun tanpa itupun telah memenangkan hatiku, jauh sebelumnya.

Kamu ngobrol dengan nenek seolah-olah itu nenekmu sendiri. Aku tahu kamu ngomongin aku, ku tau saat nenek memanggilku dan bertanya, kapan kawin? Akupun menjawab : tau! Maaf, nek. Itu pertanyaan tabu bagiku.

@ Kompres… kompres.. kompres… Panas itu akan segera turun. Pusing itu akan segera hilang. Kau akan baik-baik saja. Biarkan aku berjaga.

Dalam perjalanan pulang kau mengeluh pusing Balsem Cap L*ng yang kutawarkan kau tolak. “Bau kakek-kakek”. Untung aku juga bawa Vick Vap*Rup, kesukaanmu.

@ Sukabumi – Bogor habiskan waktu 4 jam! Gpp lah, yang penting nyampe dengan slamet. Saatnya mi yogya pajajaran.

Malam hari panasmu meninggi. Kompres sana, kompres sini. Walau kau menolak, aku tetap memaksa. Pagi itu aku mengantarmu ke dokter. Kata dokter, ini hanya panas biasa, akupun lega.