Jumat, 08 Januari 2010

Ke tanah ibu dengan si pencuri hati

@ Apa sekarang? Bersiap ke tanah ibu. Perjalanan akan panjang dan menyenangkan.

Setelah pekan-pekan yang melelahkan di bulan Desember, pertengkaran kita, pertengkaran kalian. Lalu perdamaian kita dan perdamaian kalian. Akhirnya kita bisa pulang ke tanah ibu. Menziarahi makam ibu, memeluk nenek dan mencari ikan di balong. Perjalanan Bogor ke Sukabumi sore itu terasa panjang tapi menyenangkan. Adakah yang lebih menyenangkan selain jalan-jalan dengan orang yang kita sayang?

Dulu, bila naik kereta Bogor - Sukabumi, maka kita akan bertemu dengan tukang sayur, tukang ayam, dan kadang tukang kambing… lengkap dengan dagangannya. Sebagian berjualan dari gerbong ke gerbong. Tubuh yang rapi jali dan wangi akan berubah acak-acakan dan bau. Kadang bau kol, pete, ayam, terasi bahkan kambing. Huh…

Sekarang, dengan tiket Rp 8.000 kita sudah bisa menikmati perjalanan 2 jam yang menyenangkan. Kereta diesel yang kini bernama “Bumi Geulis” kembali beroperasi ( sempat dikandangkan beberapa tahun). Tidak ada lagi pedagang asongan, ayam, sayur atau kambing.

TAPI sore itu kita tidak jadi berangkat dengan Bumi Geulis karena aku kelamaan di toilet. Aku berusaha menyusulmu yang telah lebih dulu menaiki gerbong. Karena aku tidak lincah, kamu terpaksa loncat turun kembali. Dan kitapun akhirnya naik angkutan umum L-300. Sorry about that…

@ kebon mang ucup. Rame-rame bakar yam. Hey, kamu yang lagi kipas-kipas. Pandai sangat kau curi hati keluargaku.

Selama di tanah ibu banyak yang kita lakukan. Dari menziarahi makam perempuan yang telah melahirkanku. Memeluk nenek dan mencari ikan dibalong.

Katanya kalau kau ingin mememangkan hatinya, menangkanlah hati keluarganya. Kau paham betul itu. Walaupun tanpa itupun telah memenangkan hatiku, jauh sebelumnya.

Kamu ngobrol dengan nenek seolah-olah itu nenekmu sendiri. Aku tahu kamu ngomongin aku, ku tau saat nenek memanggilku dan bertanya, kapan kawin? Akupun menjawab : tau! Maaf, nek. Itu pertanyaan tabu bagiku.

@ Kompres… kompres.. kompres… Panas itu akan segera turun. Pusing itu akan segera hilang. Kau akan baik-baik saja. Biarkan aku berjaga.

Dalam perjalanan pulang kau mengeluh pusing Balsem Cap L*ng yang kutawarkan kau tolak. “Bau kakek-kakek”. Untung aku juga bawa Vick Vap*Rup, kesukaanmu.

@ Sukabumi – Bogor habiskan waktu 4 jam! Gpp lah, yang penting nyampe dengan slamet. Saatnya mi yogya pajajaran.

Malam hari panasmu meninggi. Kompres sana, kompres sini. Walau kau menolak, aku tetap memaksa. Pagi itu aku mengantarmu ke dokter. Kata dokter, ini hanya panas biasa, akupun lega.

Tidak ada komentar: