Sabtu, 13 Februari 2010

Ayah Datang dalam Mimpi

Seberapa besar pengaruh pengalaman masa kecil pada masa dewasa? Samakah pengaruh itu untuk tiap orang?

Dua hari yang lalu aku terbangun jam 3 pagi. Seharusnya masih terlelap, tapi tidak saat itu. Kaos tidur basah oleh keringat, padahal pagi menjelang subuh udara cukup dingin. Aku bertemu (almarhum) ayah dalam mimpi. Tidak susah mengingatnya. Lagi-lagi ayah menanyakan jam tangan Kak Rida yang hilang, kejadian saat umurku 10 tahun. Berkali-kali aku bilang ngak tau. Ayah tak henti menuduh, aku sampai menangis menyangkalnya.

Pada malam dan mimpi yang sama, ayah pergi kerja tanpa menitipkan ongkos sekolahku, sebagai hukuman aku terlambat bangun. Nenek membekali dengan sisa uang belanja. Aku berangkat ke sekolah dengan harapan saat pulang ayah mampir menjemputku. Tapi apa? Ayah tidak melakukannya. Akibatkan aku pulang jalan kaki selama 2 jam! Kesal, marah dan cape campur aduk, tapi ayah malah memarahiku.

Dan menjelang subuh aku kembali bermimpi. Ayah mencambuki kakiku dengan ikat pinggang, karena aku berkelahi dengan si abang. Aku mengaduh berkali-kali, tapi ayah tak juga berhenti.
Ayah, mohon jangan datang lagi dalam mimpi dengan cara begini. Gugun mohon, ayah …

Tidak ada komentar: