Sabtu, 20 Februari 2010

Digigit Pertama Kali

Di ujung tahun 1994, mungkin ada yang pernah nonton film dengan bintang Tom Cruise, Brad Pitt, Kirsten Dunst dan Antonio Banderas: Interview with The Vampire.  Film yang diadaptasi dari novel karya Anne Rice dengan judul yang sama ini, bercerita tentang cinta, pengkhianatan, kesepian dan kelaparan serta kisah hidup seorang vampire (Brad Pitt).
Disini digambarkan bahwa seseorang akan menjadi vampire bila terkena gigitan vampire.. Brat Pitt menjadi mampir karena digigit Tom Cruise! *kebayang khan? hehehe*
Mungkin tak semua orang setuju,  bahwa saya melihat sebenarnya Anne Rice ingin bercerita tentang kehidupan ; cinta, penyangkalan atas diri sendiri, pengkhianatan, kesepian dan kelaparan akan ‘things’. Semua digambarkan dalam bentuk analogi, vampire.

————————
Lalu, kapan saya pertama kali di ‘gigit’? Belasan tahun yang lalu, seseorang mendekatiku di halte bus. Laki-laki sawo matang dengan kumis melintang itu bertanya,
“Dari sekolah ya? Pulang kemana dik?”
“Ke rumah”, jawabku singkat.
Orang itu tersenyum.
“Rumahnya dimana?”, ia menggeser duduknya, mendekatiku lalu menyeringai.
Aku tidak menjawab, melirik ke arah orang itu, khawatir.
Nenek pernah berpesan untuk tidak bicara dengan orang asing. Lelaki tu terus menggeser duduknya mendekatiku hingga paha kami bersentuhan. Aku kaget, menjauh, tapi ia menahan tanganku:

“Duduk di sini saja”
Aku terduduk kembali. Ia menahan tanganku dengan tangannya yang berbulu. Hangat.
“Abang dulu punya adik, mukanya mirip dengan mu”
Aku  melihat ke arahnya, “Sekarang dia dimana?”
“Meninggal. Kalau dia masih hidup, mungkin dia sebesar kamu sekarang”.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari tanganku. Aku tidak sekhawatir tadi. Kami mulai ngobrol tentang adiknya yang meninggal karena kecelakaan motor. Akupun bercerita tentang ayahku yang sangat keras, bahkan aku menunjukkan bekas memar bekas rotan dikakiku.
Saat azan magrib, aku tersadar. Sudah malam. Aku bangkit. Abang itu kembali menahan tanganku.

“Mau kemana?”
“Pulang”
“Nanti saja. Abang masih ingin ngobrol”

Aku kembali terduduk, kali ini ia memegang pahaku. Aku kaget. Menepis tangannya dan menutup celana biruku dengan tas sekolah. Ia menyelipkan tangan di balik tas ku. Kembali memegang pahaku. Aku memadang ke arahnya, tidak senang. Abang itu tersenyum, menahan tanganya di sana. Dan dibalik tasku, ia menggerakkan tangannya.

Aku segera bangkit. Langsung menyetop bis yang lewat. Dari jendela bis, aku masih melihat abang itu tersenyum dan melambaikan tangan. Sesampai di rumah aku seperti orang linglung. Kesal terhadap apa yang dilakukan orang itu kepadaku. Tetapi kenapa aku menikmati ketika ngobrol dengannya?  Saat di pegang seperti itu, ada rasa tidak suka, tapi juga suka. Ada apa denganku? Beberapa tahun kemudian aku sadar, bahwa saat itu mungkin aku telah di “gigit”!

Tidak ada komentar: