Minggu, 14 Februari 2010

Tiap Detik Sangatlah Berharga

Pengalaman nyeri dada kiri membuat saya semakin alert terhadap kesehatan. Awalnya hanya berupa rasa pegal (keseleo) di punggung kiri, lalu merambat ke leher terus berpindah ke dada kiri. Mendadak dada saya seperti ditekan beban berat. Saya jadi susah bernapas. Walau telah mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi tetap tidak ada udara yang masuk. Dengan panik saya mengambil napas dengan membuka mulut lebar-lebar, tersengal-sengal. Bayangan akan kehabisan napas memenuhi kepala. Saya tidak akan pergi dengan cara seperti ini. Mata menjadi merah dan berair. Saya lalu memukul-mukul dada kiri, terbatuk, dan saat itu juga udara kembali masuk ke paru2.

Tiap detik sangatlah berharga.

Saya sadar betul tidak mungkin selalu bersamanya. Tidak saja karena ikatan itu, tapi juga karena umur tidak ada yang tau. Ketika bertemu saya sangat menghargai setiap detik yang tersisa. Saya tak ingin terlelap karena inilah waktu yang saya punya. Mendengkurlah, saya akan tetap terjaga.

Tidak ada komentar: