Senin, 26 Juli 2010

Belajar dari Janda

Banyak sumber dan banyak cara yang bisa saya gunakan untuk belajar. Tak terkecuali janda. Akhir pekan lalu saya mengunjungi bibi di sebuah kampung kecil di Tangerang. Bibi saya seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan motor tepat pada hari dimana anak ke-2 mereka lahir. Tak ada yang istimewa dari kisah hidup bibi saya dalam membesarkan anak-anak sepeninggal suaminya. Karena diluar sana banyak janda-janda yang juga mengalami nasib serupa. Tapi kehidupan teman-temannya lah, janda-janda jompo, yang mengaduk-ngaduk perasaan saya…

Mungkin karena perasaan senasib, bibi mengumpulkan janda-janda yang sudah jompo di sekitar tempat tinggalnya. Ada sekitar 6 orang. Mereka orang-orang tua miskin yang ditinggal mati suami atau telah lama bercerai dan memutuskan tak menikah lagi. Anak-anak dari ibu-ibu jompo itu kadang tak mampu mengurus mereka karena sibuk dengan kesulitan ekonomi keluarga sendiri.

Selama ini para janda jompo itu hidup dari menjual daun pisang, mengumpulkan walingi (sejenis alang-alang) lalu dijemur lalu dijual ke pengumpul, atau apa saja yang bisa dijual dari kebun mereka yang tak seberapa. Meski sudah jompo mereka sebenarnya masih cukup produktif. Kadang bibi meminta mereka untuk membuat tusuk sate atau besek (sejenis kotak dari anyaman bambu) dan membantu menjualkannya di pasar. Hasil keuntungan dari penjualan itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari dan sebagian lagi mereka tabung.

“ Tabungan itu buat apa sih bi?”
“ Kata mereka itu tabungan kematian. Mereka nggak mau merepotkan orang-orang. Mati khan butuh duit.”

Saya merasa tersindir. Orang seumur saya begitu yakin hidup bakal lama sehingga tak pernah terfikir punya tabungan kematian (atau setidaknya tabungan amal). Padahal saya tak pernah tau kapan ajal itu akan menjemput saya.

Tidak ada komentar: