Selasa, 13 April 2010

Saling rusak dan bunuh !


Tadi pagi saya lihat berita tentang demo di Thailand. Bentrokan antara pendukung pemerintah dan pendukung Thaksin Shinawatra (kaus merah) mengakibatkan 21 orang tewas, termasuk wartawan foto Hiro Muramoto (43). Wartawan Reuters dan ayah dua anak ini meninggal akibat tembakan didadanya. Kalau melihat sekilas tayangan dari di TV tadi pagi, kebayang betapa rusuhnya kejadian itu.

Saya ingat 13-14 Mei 1998 silam, saya sedang berada di rumah kakak (Ciputat). Awalnya kami hanya lihat kerusuhan Jakarta itu lewat tayangan tv. Blok M, Mangga Dua, Harco, Ciledug dan banyak pusat perbelanjaan dan perumahan warga dirusak. Ketika kerusuhan meluas hingga ke Ciputat, kami mulai deg-degan. Pertokoan dijarah, Plaza Ramayana dan Plaza Borobudur Ciputat dibakar. Kami sekeluarga berkemas dan mulai panik ketika Pusat Perkulakan Makro yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah di jarah dan di bakar. Tapi untungnya api tidak sampai merembet ke kompleks warga. Benar-benar pengalaman yang menakutkan...

Balik soal demontrasi, kerusuhan, perang atau apalah namanya itu, saya sering bertanya-tanya. Apa yang ada di dalam pikiran demonstran, tentara, warga sipil dan polisi saat itu. Mereka saling dorong, tendang, pukul dan lempar. Mereka baku hantam sesama saudara mereka sendiri. Sesama manusia. Beberapa dari mereka akhirnya tewas menggenaskan. Ketika banyak orang yang berjuang untuk tetap hidup di rumah-rumah sakit. Kenapa ada orang-orang yang begitu gampang melenyapkan nyawa orang lain. Hanya karena beda pendapat, beda paham, beda agama, beda keyakinan, harga diri, perebutan wilayah, atau sejuta alasan lainnya. Apa yang mereka pikirkan saat menembakkan peluru? Mengayunkan pedang? Melemparkan bom molotov dan granat? Apa yang mereka rasakan?

Saya bengong saat makan siang. Di kepala saya melintas kata-kata Madura, Dayak, Islam, Kristen, China, Pribumi, Afganistan, Irak, Iran, Ambon, Sampang, Sampit, Poso, Jalur Gaza, Israel, Palestina, Rwanda, Etiophia, Tianamen, Nazi, Jerman, Yahudi dan berpuluh kata-kata lain. Selera makan sayapun hilang ...