Minggu, 11 September 2011

surat untuk nona meneer

Surat bermakna tulis. Meski berbentuk sms, bbm, email, kertas, daun lontar, maupun batu tetaplah disebut surat.

---------------------------------------------

Assalamu'alaikum, nona meneer.

Saya gugun gunadi. Lahir di kota rendang lalu di kota penyeum dan talas saya membesar & mengembang. Ibu meninggal saat saya masih segede termos. Ayah yg perokok berat menyusul pergi karena paru-paru & jantungnya komplikasi. Saya punya nenek hebat. Pengasuh, pelindung & penuh semangat. Meski diabetes telah bikin buta, tak halangi beliau tetap tertawa.

Hobi saya baca, nonton dan jalan-jalan (sembari kerja). Diwaktu senggang saya berenang & tidur telentang (tidak berbarengan). Kalau nanti melihat saya senang memasak atau asyik masyuk dg pekerjaan 'perempuan' lainnya, itulah saya (yg sebenarnya).

Nona, saya ingin berkeluarga bukan karena umur. Bukan utk senangkan hati keluarga. Bukan biar ada yg rawat/urus. Bukan karena status. Saya ingin punya tempat kembali. Kemana & dimanapun, selalu ada keluarga yg tanpa syarat saling sayang & mencintai. Calon istri harus wanita lembut tapi tegas. Mandiri, penyayang, sabar, manager rumah tangga yg baik & penjaga suami.


Sekian nona & terima kasih.


--------------------------------------------


OH NO! Saya merasa bersalah membaca ulang surat itu. Benarkah ini keluar dari hati atau hanya kamuflase agar dikira pria sejati?

Kamis, 08 September 2011

Bandung dingin sekali malam ini

Walau Bandung sekarang jarang hujan tapi udara tetap terasa dingin. Kamu tau dimana aku sekarang? Di kamar masa kecilmu! Kamar yang masih bau lembab sama seperti saat pertama kau ajak nginap di rumah ini. Penuh poster-poster Nike Ardila yang sudah mulai sobek di sana-sini. Umi sengaja tidak membuangnya karena beliau tau itu poster kesayanganmu.

Umi menangis memeluk saat ku ucapkan salam di muka pintu. Kemejaku basah karena isaknya. Ku tuntun beliau ke ruang tamu. Ku bisikkan bahwa kamu sudah tenang di sana. Aku tidak persis tau, tapi setidaknya aku berharap. 

Cerita masa kecilmu kembali mengalir. Sesekali umi terbawa, sesekali terisak kembali. Aku baru tau ternyata kamu sempat lari dari rumah sakit saat akan disunat dan aku juga baru tahu bahwa kamulah yang sering bantu belanja ke pasar.

Semua kisah itu terasa indah ditelinga. Kadang lucu dan konyol. Kadang sedih dan kecewa. Semua berwarna dan terekam dengan jelas diingatan umi. Perempuan bersahaja yang telah melahirkan, merawat, membesarkan, menjodohkan, menyaksikan kau bercerai dan akhirnya memeluk jasad kakumu. 

Bandung dingin sekali malam ini. Aku tidak mau terlelap. Aku ingin menikmati suasana kamarmu seperti dulu kita bersama.  

Jumat, 08 Juli 2011

Kamu yang tentukan akan bahagia dengan siapa

Mungkin karena kangen, hari ini aku iseng buka inbox FB dan baca kembali beberapa teks yang dulu kamu kirim lewat kotak pesan tersebut ; " I** tidak pernah mau melayani dg ikhlas. Saya jadi malas dan seperti pemerkosa ". Waktu itu aku bingung mau balas apa, kemudian ku tulis, " Sabar ya... ".  

" Saya tau, sulit terima org yg kita cintai nikah dg org lain. Tapi saya pikir lebih baik belajar menerima dan buka hati pada yg lain daripada berharap sesuatu yg tdk mgkn ". Aku membalas panas ; " Maksudmu aku adalah sesuatu yg tdk mgkn itu? ". Kamu diam, beberapa saat kemudian saya terima pesanmu; " Percayalah, saya sayang kamu seperti sayang pada diri sendiri. Apa lagi yg lebih kita sayang selain diri kita sendiri? ". Aku langsung meleleh. Kamu pandai membuai hati.   

Suatu hari aku menerima pesan lagi ; "Dia pilihan ibu saya. Kalau bukan karena rasa cinta pada beliau, tidak akan mau menerima wanita yg berteriak 'banci' setiap kami bertengkar ". Lagi-lagi aku tidak tau mau berkata apa. Lalu kamu lanjutkan ; "G**, jgn lakukan sesuatu hanya karena ingin senangkan hati orang lain, meski untuk orang tua yg paling kamu sayangi sekalipun. Saya dicuekin, dijelekan, tdk dihargai, dan tdk dihormati. Saya tau ini tidak sehat. Saya akan terus perbaiki, tapi tdk tau sampai kapan". Lagi-lagi saya terdiam, lalu saya mengirim, " H****, saya percaya kamu bisa selesaikan ini dg baik ". 

+++++++++++++++++++++++++++ 

H****. Perkenalan itu akan dilakukan di rumah Bibi Jatayu, besok. Aku tidak akan mengulang sesuatu yg kau sesali sampai akhir hidupmu. Aku yang akan tentukan dengan siapa akan bahagia. 

Sultan Hasanudin Int' Airport. 22.10 wita. 

Selasa, 29 Maret 2011

Repost : Kicau #vampirgalau

Suatu masa di negeri antah berantah ada sewujud vampir yg kesepian. Berbeda dg vampir yg lain, ia bertahan bukan dari darah manusia, tapi binatang. Si vampir tidak sampai hati membunuh manusia. Apalagi menjadikan mereka seperti dirinya. Karena ia tau bagaimana rasanya jadi vampir. Sepi sendiri kemudian terbakar mati. Suatu hari sang vampir jatuh berjumpa sewujud vampir muda. Bukan! Dia bukan vampir, hanya menyerupai. Sang penyerupa vampir menyatakan rasa. Sang vampir tak menampiknya. Tapi waktu berjalan, sang penghalang datang. Sang penghalang mengancam, sang vampir bimbang dan ingin sang penyerupa kembali jadi manusia. Karena jadi vampir tidak akan membawa kemanapun, tanpa tujuan dan akhirnya mati sia-sia. Kalaupun dia bertahan hidup, sang vampir akan jadi makhluk abadi yg bosan dg kekekalan lalu memilih tantang matahari terbakar mati. Demikian dongeng sang vampir hari ini. Vampir tua sok bimbang dan labil biar disangka alay! Arrrgh. Saatnya mencari darah hewan!

My Twitter @gugunku

12 Maret 2011.

Malam makin pekat. Udara dingin terasa padat. Dibalik cermin kusam #vampirgalau terlihat gusar dengan kulit yang makin memucat. Ada apa rupanya? Tak cukupkah darah hewan basi yg diminum hari ini? Masihkah rasa sakit datang saat pandangi nadi berdenyut itu?. Bukan karena itu. Belasan purnama tanpa itu bukan alasan #vampirgalau terlihat kacau. Ia bingung dengan rasa. Limbung dengan fakta. Was-was kutukan itu benar berujud. Cemas setiap rasa yang dipupuk berujung layu... lalu tiada. Ragupun berbuih. Dari balik cermin kusam #vampirgalau kembali lihat sosok pucat bermata kosong. Entah berapa purnama akan dilewati sebelum semua berakhir. Sekian dongeng #vampirgalau hari ini. Jangan percaya pada apa yg terbaca. Tapi boleh diuji apa yang terasa. Nite all. :-)

My Twitter @gugunku

29 Maret 2011

Selasa, 15 Februari 2011

H-11

15 Februari 2010 at 11.02 am

Kalau ku baca lagi sms gombal ku padamu saat itu, aku malu..

< Kulkas, bgmn kabarmu? Jgn marah dong. Salahmu sendiri kau slalu bikin hatiku adem n suara ngorokmu ngalahin kulkas tua di rmh ibu. :-) >

< Ngomong dong. Udh 3 hr telponku tak d jwb, sms tak d bls. Msh pgn sendiri? Atau mo uji kesabaran n kesetiaan ku? :-) >

Kau diam saat kau sedih
Kau diam saat kau marah
Kau diam saat kau butuh nyaman
Kau diam saat kau kangen
Dan kau jarang mengeluh. 

Please, ngomong dong. Aku benar-benar pengen dengar suara mu. 

Senin, 14 Februari 2011

H-12

14 Februari 2010 at 10.09 pm

Je T'Aime

Minggu, 13 Februari 2011

H-13

13 Februari 2010 11.13pm

.....
.....
.....

Waktu itu kau reject telpon dariku, 3 kali!
Kenapa? Mungkin kau butuh waktu untuk sendiri?

Aku mengirim pesan singkat :

"Hubungi aku kapanpun kau siap. Aku akan  tunggu"

Sabtu, 12 Februari 2011

H-14

12 Februari 2010 at 9.54pm

Kelahiran... Kematian
Pertemuan... Perpisahan
Pernikahan... Perceraian

Hari itu kalian resmi berpisah. Simpul itu telah dibuka, cincin itu telah dilepas. Tidak lewat pengadilan, tapi melalui musyawarah keluarga. Aku ingat setiap detail apa yang kau katakan lewat telpon malam itu, setiap tarik napasmu, setiap galau yang ada dalam suara itu.

"Gun, acaranya besok"
"Iya, aku tau"
Lalu kau terdiam sesaat, menghela napas.
"Gun.." kau tak melanjutkan
"Kamu nggak usah khawatir. Kalau besok berjalan lancar, kamu bisa mulai hidup baru".
Itu yang ku ucap. Padahal aku ingin banget bilang 'kita akan kembali seperti dulu lagi. Saling menjaga lagi'. Tapi semua tertahan ditenggorokanku.

---

Kau ingat Mira? Teman kita di Hongkong yang sekarang entah kemana. Aku kangen Mira. Kangen ceplas ceplosnya. Ketika tahu kita masih berhubungan, dia tidak setuju. Jangan jadi penganggu, katanya. Hey... Aku tidak seperti itu. Justru dia yang telah mengganggu. Aku kenal kamu jauh sebelum kau setujui pilihan orang tuamu itu.

---
Aku mulai mendengar napasmu jadi berat dan pendek. Berkali-kali kau coba tahan rasa yang ingin kau tumpahkan. Ayolah, tak perlu malu. Persetan dengan aturan laki-laki nggak boleh cengeng. Go to hell dengan opini laki-laki tak boleh jujur dengan perasaannya. Ku dengar kau terisak ditelinga kananku.

Jumat, 11 Februari 2011

H-15

11 February 2010 at 6:14am

Pagi itu kau menulis "at soetta airport. It will be a big change". Kau berangkat untuk melepas ikatan itu. Perbuatan halal yang dibenci Tuhan. 

---
Aku pernah tidak suka pada terminal, pelabuhan dan bandara. Pengalaman masa kecil membuatku berfikir itu adalah tempat-tempat dimana orang berpisah  dan tak kembali. Waktu umur 3 tahun nenek mengajakku ke Teluk Bayur. Kami mengantarkan salah satu paman kesayanganku merantau ke Malaysia. Paman adalah lelaki gagah dengan tubuh tegap dan tinggi. Paman pamit karena ada tawaran kerja di kebun sawit di Malaysia. Sebelum berangkat ia sempat menggendongku lama sebelum kemudian menciumku, mencium nenek dan pergi bersama kapal. 

Beberapa tahun kemudian aku jadi tak sabar.   
"Nek, paman kapan pulang?" aku duduk di sajadah nenek selepas sholat. 
"Pamanmu belum cukup uang untuk pulang" nenek melepas mukenanya. 
"Aku punya uang di celengan, kita kirim saja buat paman" mataku berbinar. 
 "Iya" nenek tersenyum, memeluk dan menciumiku wajahku. 

Bertahun-tahun  kemudian paman tak pernah memberi kabar, aku kembali bertanya.
"Nek, masa sih nggak ada kerabat yang tau dimana paman?"
"Mungkin pamanmu sudah meninggal di sana, nak" jawab nenek parau.   
Aku mengusap mata nenek yang basah, memeluk dan menciumi wajahnya.
  
---
Cepat pulang ya, aku menunggu mu, bisikku dalam hati.     

Kamis, 10 Februari 2011

H-16

10 Februari 2010 at 2.08pm

Ingat nggak dulu kita pernah ngobrol soal masa kecil. Pengalaman emosional yang mungkin menyebabkan 'luka'. Luka yang tidak terobati pada masa kanak-kanak dan remaja. Luka yang menyebabkan kita dan mereka seperti ini (?). Meskipun kita nggak pernah bisa buktikan bahwa ini satu-satunya penyebab.

"Kok kamu bisa seperti ini" pancingku
"Saya memang cakep sejak kecil" jawabmu polos
"Bukan itu maksudku"
"Apa?"
"Ayahmu galak ya? Atau ibu terlalu dominan?" aku berteori
"Nggak. Biasa saja. Ayah jarang di rumah. Umi yang urus saya dan saudara-saudara, yang mengantar sekolah, ngatur pembantu dan tukang. Umi serba bisa. Ibu ideal"
"Trus yang bikin kamu begini apa dong?"
Kau tak menjawab. Mungkin kau tau, tapi nggak mau.

---
Kita pernah coba “masuk ke dalam” untuk menemukan apa luka emosi yang mungkin terjadi masa kanak-kanak atau remaja. Dulu aku pernah merasa tidak dicintai, tidak diinginkan. Kau sering merasa 'kangen ayah' dan sangat 'memuja ibu'. Aku pernah dilecehkan pada masa kanak-kanak sedangkan kau tidak.

Kita masing–masing pernah coba melupakannya, lari darinya atau menutupinya dan berharap waktu akan mengobati. Tapi baru-baru ini aku menyadari bahwa membiarkan waktu berjalan saja tidak dapat benar-benar menyembuhkan 'luka' itu. Aku harus mau melihat kembali untuk menghadapinya, mengakuinya, menangisinya bahkan MARAH, kemudian memperbaiki kerusakan yang terjadi pada diri dan akhirnya memaafkan dan melanjutkan hidup.

Kau tau kenapa ku tulis luka yang tak lagi ku ingkari ini? Karena ingin melanjutkan hidup.

H-17

9 Februari 2010 at 7.36 pm

Awalnya aku hanya menebak-nebak apa tujuanmu ke Palembang. Dari wajah murung semalam seperti ada yang tak menyenangkan akan terjadi. Tapi aku tak bertanya, karena ku tau kau takkan suka (ditanyai masalah itu). Ku tunggu kau yg bercerita.

Siang itu kau menelpon
"Gun, besok saya berangkat"
"Berapa lama?"
"Tiga hari, mudah-mudahan bisa lebih cepat"
"Ada urusan apa?" aku tak bisa menahan diri.
Kau diam dan menarik napas
"Ok. Bawa mpek-mpek ya" aku bercanda.

---

Pernikahan mempunyai arti yang berbeda untuk setiap orang. Ia bisa berarti ibadah, ikatan cinta, pelabuhan dua hati, kesepakatan/perjanjian atau mungkin penjara. Aku tidak punya keahlian dan pengetahuan tentang bagaimana mendefinisikan itu. Tapi aku bisa melihat mana yang bahagia mana yang terpenjara. Mungkin pertengkaran sesekali itu bumbu, tapi kalau sudah saling mendiamkan menurutku sudah tak seru. Mungkin benar bahwa orang tua akan memilihkan yang terbaik, tapi tetap si anaklah yang akan menjalaninya.

Sudahlah, aku nggak mau sok tau soal apa yang belum pernah aku jalani. Mungkin belum saat ini atau nggak akan pernah sama sekali. Entahlah.

Selasa, 08 Februari 2011

H-18

8 February 2010 at 6:01am

:-) adalah emoticon (emotion icon) yang paling sering digunakan untuk menggambarkan senyum, rasa senang atau bahagia. Betapa tidak, kesempatan untuk ketemu kamu adalah langka, apalagi hanya berdua. Kalau kesempatan itu datang, adalah surga. Lebay ya? Hehehe

----

Minggu sore itu kau datang memenuhi janjimu, berkunjung ke Bogor. Tapi plis, aku tidak meminta kau datang dengan basah kuyup begitu. Tak sejengkalpun yang kering termasuk ransel bututmu itu. Kau tambah dengan bersin-bersin. Lengkap sudah.

Aku menyodorkan handuk kering, kaos dan sarung
"Khan udah dibilang kalau ke Bogor bawa payung!"
"Ribet"
"Ribet mana kalau nanti kamu sakit?"
Kau mengibas-ngibaskan rambutmu yang basah
"Heh! Basah tau!
"Sorry! Hehehe"

---

Malam itu kau ngobrol nggak jelas. Bilang mau ke Palembang tapi bukan urusan kerjaan. Ada apa? Urusan keluarga? Kenapa aku tak boleh tau? Nantilah, katamu. Mie instan itu kau sikat dengan lahap, termasuk jatahku. Biarlah, aku sudah sering makan mie instan.

Malam itu kau menggigil, badanmu panas dan basah. Aku memberi kaos baru dan menyelimuti mu dengan seprei.

'Kulkas'ku ngorok tak terkira. Tidurlah, biarkan aku berjaga. Hoaaaaaamm...

Senin, 07 Februari 2011

H-19

7 February 2010 at 9:37am  

"I miss my sunshine some much. I'm going home". Bagiku statusmu itu setengah pujian dan setengah ledekan. 

---  

Dulu kau pernah memaksa melihat foto2 masa kecilku. Kau rebut album foto yang ku simpan rapi di bawah laci. 
Hey pencuriiiii, teriakku. 
Kaupun lari terkekeh.   

"Kok kamu dulu seperti pentul korek api ya?" 
"Sialan!" aku melemparmu dengan sepatu.
"Nih liat, kepala besar tapi badan kecil" 
"HEH, artinya aku orang pintar karena volume otakku besar" 
"Nggak percaya!" 
"Terserah!" aku merengut.  
"Kamu tau nggak fotoku dulu?" 
"Nggak" 
"Dulu aku kurus tinggi dan agak bungkuk dengan rambut ikal kusut"
"Nggak percaya!" 
"Terserah!" kaupun terkekeh.  

---  

Awalnya kau ingin memanggil si muka bulan karena mukaku bulat mengkilap saat terkena cahaya matahari. Tapi entah kenapa kau rubah jadi sunshine. Apa karena khawatir aku tak jadi mengajakmu lebaran ke tanah ibu? 

Minggu, 06 Februari 2011

H-20

6 Februari  2010 at 04:55am  

Subuh itu aku dikagetkan oleh telpon dari nomer yang tak dikenal. Dengan suara berat yang dibuat-buat si penelpon pamit mau ke Kuningan, Jawa Barat. 
Loh apa urusan dengan ku? 
"Kamu pasti akan kangen" katanya.  
Ih pede amat ni orang!?  
"Mau aku bawain Jeniper?"  
Tawaku langsung meledak, aku langsung tau siapa yang menelpon.   

----  

Kau tentu masih ingat kejadian lucu soal jeniper. Ini bukan nama artis bahkan bukan nama orang. JEruk NIpis PERes, oleh-oleh khas kuningan. Suatu hari dalam perjalanan pulang kita dari Kuningan, kau membawa sebotol besar Jeniper yang sudah diencerkan untuk diminum sewaktu-waktu. Entah kenapa, kau lupa menutup botol itu dengan erat sehingga tanpa disadari minuman itu tumpah habis membasahi kaos dan celanamu saat kau tertidur.  Basah kuyup! Lengket dan bau (jeruk).   

Di pemberhentian bis kita memutuskan turun dan mencari toilet.  Karena kau tak membawa celana dan kaos ganti, terpaksa kau akhirnya memakai jaketku dan sarung yang kita beli di toko samping warung makan. Pulang dengan memakai jaket kekecilan dan sarung! Pengalaman yang tak kan terlupakan.   

----  

"Cepat pulang ya" aku menguap.  
"Kalau nggak kenapa?" 
"Nggak papa sih.." 
"Bener nih ?." 
"Nggak!" 
"HAHAHA"

Sabtu, 05 Februari 2011

H-21

5 Februari 2010 at 4.56pm  

Pertengkaran yang ditutupi itu akhirnya terbuka juga. Kau menulis, "Allah menciptakan pria dan wanita berbeda agar saling melengkapi, bukan untuk saling menunjukkan ego pribadi. Jujur aku tersinggung dengan kekasaran dan egomu semalam".   

Aku memintamu sabar. Klise memang. Tapi apa lagi yang bisa aku sarankan atas hubungan kalian yang memang dipaksa sejak awal. Nikah itu bukan piknik enak sesaat. Tapi cinta dan tanggung jawab jangka panjang.   

Aku takut badut. Benar! Bagi sebagian orang badut lucu, bagiku tidak. Kau selalu jadikan itu sebagai cara meledekku, menjadikan lelucon dan terbawa 'bahagia'.   Hal yang ku suka darimu adalah kau masih bisa bercanda saat masalah menimpamu. 

Sebenarnya nggak sopan kau mengumbar phobiaku pada badut pada teman-teman, tapi kalau itu bisa membuatku senang ya nggak papalah.

Aku akan jadi badut jika itu bisa menghilangkan kesedihanmu. 

Jumat, 04 Februari 2011

H-22

4 Februari 2010 at 11.35am

Perjalanan Bogor - Gondangdia begitu membosankan. Iseng ku tulis status sunyi sepi sendiri. Eh, kau menyahuti. Awalnya kau meledek, tapi ku tau kau mendoakan keselamatannku. Kurang beruntung apa coba, punya orang yang sangat peduli. 

Kamis, 03 Februari 2011

H-23

3 Februari 2010 at 4.56pm

Dia memujimu seolah-olah aku tidak ada, seolah-olah aku hanya asap belaka. Memuji foto pasport yang katamu culun tapi keren katanya. Foto gundul itu. Kalian memang dikarunia muka oval dan kepala yang bagus sehingga model rambut apapun tetap terlihat bagus, termasuk gundul sekalipun.

Lalu kalian ajak aku juga ikut gaya gundul. Lah mana mungkin? Dengan kepala bulat besar seperti pentul korek api, aku pasti terlihat aneh! Terang-terangan kau bilang aku bakal jelek jika gundul walau dia tetap berusaha memujiku. Tapi kok makin terasa sebagai hinaan ya? Kembali aku masih terbakar cemburu.

Dia yang lain menyapamu. Kau menanggapi dengan tawa. Berusaha sopan pada semua teman, ada rasa pada mereka atau memang ingin menguji kesabaranku? Teges apa tegas, maksud kalian apa?

Rabu, 02 Februari 2011

H-24

2 Februari 2010 at 9.26am

Kamu tulis soal depresi. Aku tak benar-benar paham apa itu depresi. Aku hanya tahu bahwa kadang seseorang menyendiri, murung dan tak bergairah. Atau mendadak riang tanpa sebab, berlangsung beberapa jam, kadang beberapa hari. Itu ciri-cirinya, katamu. Namun untuk beberapa orang tidak menunjukkan gejala apapun, kau menambahkan. Dua minggu lebih setelah itu aku jadi paham apa itu depresi dan ku alami bermingu-minggu bahkan berbulan-bulan.

H-25

1Februari 2010 at 11.05am

Seseorang dari masa lalu menyapamu, "Has". Sehari sebelumnya dia menulis, "Masih ingat saya? :-)". Kamu menyapa balik, namun ajakan ke Bekasi tak kamu jawab. Aku cemburu. Bagaimana tidak, dia jauh lebih mengenalmu daripada aku. Ku tahan rasa itu sampai perut ini mules seperti habis makan pedas.

Sabtu, 15 Januari 2011

Sorry say..

"Sorry say, gue matiin loe untuk yang kedua kali. Hanya beda waktu dan tempat. Beda cara dan peratap"

"Sorry say, loe boleh bilang gue jahat. Tapi loe-lah sang penyebab. #pencarikambinghitam. Rasa masa itulah yang ku bagi. Tak perlu tanya kenapa saya, tak akan ada yang mau menjawabnya".

"Wahai sang peratap, kau tak kan mati karenanya. Hanya sakit sesaat dan bangkit tambah kuat. Ku beri itu percuma tanpa syarat".