Jumat, 11 Februari 2011

H-15

11 February 2010 at 6:14am

Pagi itu kau menulis "at soetta airport. It will be a big change". Kau berangkat untuk melepas ikatan itu. Perbuatan halal yang dibenci Tuhan. 

---
Aku pernah tidak suka pada terminal, pelabuhan dan bandara. Pengalaman masa kecil membuatku berfikir itu adalah tempat-tempat dimana orang berpisah  dan tak kembali. Waktu umur 3 tahun nenek mengajakku ke Teluk Bayur. Kami mengantarkan salah satu paman kesayanganku merantau ke Malaysia. Paman adalah lelaki gagah dengan tubuh tegap dan tinggi. Paman pamit karena ada tawaran kerja di kebun sawit di Malaysia. Sebelum berangkat ia sempat menggendongku lama sebelum kemudian menciumku, mencium nenek dan pergi bersama kapal. 

Beberapa tahun kemudian aku jadi tak sabar.   
"Nek, paman kapan pulang?" aku duduk di sajadah nenek selepas sholat. 
"Pamanmu belum cukup uang untuk pulang" nenek melepas mukenanya. 
"Aku punya uang di celengan, kita kirim saja buat paman" mataku berbinar. 
 "Iya" nenek tersenyum, memeluk dan menciumiku wajahku. 

Bertahun-tahun  kemudian paman tak pernah memberi kabar, aku kembali bertanya.
"Nek, masa sih nggak ada kerabat yang tau dimana paman?"
"Mungkin pamanmu sudah meninggal di sana, nak" jawab nenek parau.   
Aku mengusap mata nenek yang basah, memeluk dan menciumi wajahnya.
  
---
Cepat pulang ya, aku menunggu mu, bisikku dalam hati.     

Tidak ada komentar: