Kamis, 10 Februari 2011

H-16

10 Februari 2010 at 2.08pm

Ingat nggak dulu kita pernah ngobrol soal masa kecil. Pengalaman emosional yang mungkin menyebabkan 'luka'. Luka yang tidak terobati pada masa kanak-kanak dan remaja. Luka yang menyebabkan kita dan mereka seperti ini (?). Meskipun kita nggak pernah bisa buktikan bahwa ini satu-satunya penyebab.

"Kok kamu bisa seperti ini" pancingku
"Saya memang cakep sejak kecil" jawabmu polos
"Bukan itu maksudku"
"Apa?"
"Ayahmu galak ya? Atau ibu terlalu dominan?" aku berteori
"Nggak. Biasa saja. Ayah jarang di rumah. Umi yang urus saya dan saudara-saudara, yang mengantar sekolah, ngatur pembantu dan tukang. Umi serba bisa. Ibu ideal"
"Trus yang bikin kamu begini apa dong?"
Kau tak menjawab. Mungkin kau tau, tapi nggak mau.

---
Kita pernah coba “masuk ke dalam” untuk menemukan apa luka emosi yang mungkin terjadi masa kanak-kanak atau remaja. Dulu aku pernah merasa tidak dicintai, tidak diinginkan. Kau sering merasa 'kangen ayah' dan sangat 'memuja ibu'. Aku pernah dilecehkan pada masa kanak-kanak sedangkan kau tidak.

Kita masing–masing pernah coba melupakannya, lari darinya atau menutupinya dan berharap waktu akan mengobati. Tapi baru-baru ini aku menyadari bahwa membiarkan waktu berjalan saja tidak dapat benar-benar menyembuhkan 'luka' itu. Aku harus mau melihat kembali untuk menghadapinya, mengakuinya, menangisinya bahkan MARAH, kemudian memperbaiki kerusakan yang terjadi pada diri dan akhirnya memaafkan dan melanjutkan hidup.

Kau tau kenapa ku tulis luka yang tak lagi ku ingkari ini? Karena ingin melanjutkan hidup.

Tidak ada komentar: