Sabtu, 11 Februari 2012

Mengenang yang Terkasih

Setiap kita punya cara untuk mengenang orang-orang terkasih yang telah tiada. Betul mereka tak akan kembali, tapi setidaknya ini menjadi bukti bahwa kita selalu menyayangi (mereka) selamanya. Ada banyak yang masih bisa ku ingat tentang mu waktu itu. Saat kau ke barat, aku ke timur. Kita berjanji bertemu di selatan. Dan kita tepati. Saat kau pamit ke Palembang. Kau minta aku mampir di Bandung, temui umi, katamu. Akupun mengiyakan dan berjanji. Aku disambut umi dengan senyum ramah. "Kamana wae, Gun?". "Ada aja, Mi" ku ragu bahasa sundaku. "Si Ade ka Palembang". Umi tak berusaha sembunyikan sedihnya dan mulai bercerita. Walau kau tak pernah mengeluh, tapi beliau tau bahwa ikatan itu tak membuat anaknya bahagia. Di situ aku makin yakin bahwa seorang ibu tak 'kan pernah bisa dibohongi oleh anak-anaknya. Ibumu pasrah dan bingung mau ngomong apa ketika tau kamu akhirnya bercerai.

---------
Menunggu masa idahmu, menguji kesabaranku.
---------
Where are you? I dont like this game. Kaupun susah dihubungi.
---------
Jangan diam atuh. Saya khan jadi bingung. Mari bicara.
---------

23 Februari 2010 at 1.43am
Kulkas kosong berbunyi nyaring. Ganggu tidur aja. Besok harus di isi nih, agar nggak berisik. Kamu tidur ngorok.

24 Februari 2010 at 8.41am
Mulai minggu depan Si Kulkas akan tinggal bersamaku di Bogor! Mesti siap-siap nih. *girang mode on*

24 Februari 2010 at 8.53am
Lengkap sudah yang dicari. Sprei, sajadah, handuk, peralatan mandi dan pastinya : kain sarung baru untukmu!

---------
Apa yang masih ku harapkan darimu? Entahlah. Aku seperti seseorang yang yang telah lama kehilangan tangan tapi masih berfikir bahwa tangan itu ada. Mengapa begitu susah keluar dari bayang-bayangmu? Kenapa begitu sulit melupakan? Padahal banyak di luar sana pengganti yang mungkin jauh lebih baik darimu. Sayang. Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakanmu selamanya. Seumur hidupku.

Saat ini aku sedang berkenalan dengan calon ibu dari anak-anakku nanti. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Hanya beberapa pertemuan singkat dan kaku. Aku memang tidak mempermasalahkan itu. Toh tidak akan ada bedanya jika aku mengenalnya dengan baik pun. Kamu tau yang aku maksud. Kamu sedang apa sekarang? Aku kangen. Aku ingin kamu mendengarkan bahwa saat ini aku butuh kamu untuk menjelaskan kenapa manusia itu harus berpasang-pasangan dengan jenis yang berbeda dengannya. Kenapa tidak cukup dengan siapapun yang bisa menyayanginya dengan tulus, apapun jenisnya?

Aku mengakui. Aku sering merusak diri sejak kehilangan dirimu. Aku melakukan hal-hal bodoh yang tidak pernah aku lakukan saat kamu masih ada. Aku jadi sering bergadang. Makan tidak sehat dan tidak tertur. Tidak pernah lagi berolah raga. Dan semua hal yang hanya ku bayangkan disetiap khayalan nakalku. Maafkan aku. Aku tidak ingin menjadikan pembenaran atas apa yang kulakukan. Aku juga tidak ingin kamu merasa bersalah atas kepergianmu dariku. Ini semata-mata hanya karena ketidakstabilan emosi dan kebodohanku saja.

Hasbi. Saat aku menulis ini, aku sedang dalam penerbangan Yogya - Jakarta. LionAir JT 551. Delayed 18.40. Setiap pesawat yang ku tumpangi delayed atau mengalami gangguan kenapa aku merasa semakin dekat denganmu. Aku selalu berfikir pesawat ini akan jatuh dan membawaku padamu. Mataku menjadi panas dan basah. Aku kembali sadar bahwa khayalan ini tidak sehat, setiap kali pesawat itu mendarat dengan selamat. Kenapa Tuhan masih selalu memberiku kesempatan untuk menikmati rasa sakit ini lebih lama? Kenapa dia tidak mempersingkat saja? Apalagi yang bisa aku perbuat tanpamu? Inilah aku, makhluk putus asa yang tidak pernah mau bersyukur atas nikmat yang masih diberikan sang kuasa.

Tidak ada komentar: